Chapter 5 - Orang
Dewasa yang Dapat Diandalkan
Pagi yang menentukan telah tiba. Aku sudah
memberitahu Satoshi bahwa hari ini aku akan masuk sekolah. Namun, jujur saja,
yang kurasakan hanya ketakutan.
Aku tidak ingin menghadapi kebencian yang sama
seperti kemarin. Mungkin rasanya seperti mengalami serangan di internet. Aku
merasa bahwa bahkan orang yang tidak ada hubungannya denganku juga menyimpan
kebencian terhadapku.
Roti panggang untuk sarapan kutelan dengan
paksa dengan sup hangat. Stres membuat perutku sakit dan rasa mual muncul,
kondisiku benar-benar buruk.
"Aku pergi dulu."
Aku memberi tahu ibu dan kakakku yang sedang
mempersiapkan sesuatu, lalu aku keluar rumah.
Sinar matahari bersinar terik, membuat tubuhku
semakin berat.
Seorang gadis berseragam sekolah sedang
menunggu di depan rumah. Apakah itu Miyuki? Begitu pikirku, rasa tidak nyaman
muncul, dan keringat dingin membasahi punggungku.
Namun, saat ia menoleh, ia terlihat sangat
anggun, seperti malaikat. Teman tak tergantikan yang bukan Miyuki ada di sana.
"Ah, Senpai. Selamat pagi."
Itu adalah Ichijou Ai. Aku langsung masuk ke
dalam rumah karena melihat momen yang tidak biasa ini.
"Apa!? Kenapa pintunya ditutup? Aku
bangun pagi-pagi untuk berangkat bersama denganmu, lho!"
Ai yang sedikit panik menambah kesan
ketidakbiasaan ini.
"Oh, itu suara Ai-chan! Dia datang
menjemputmu. Pergi sana, Eiji. Tidak sopan membuat gadis menunggu."
Ibu, yang antusias, keluar menyapa
Ichijou-san.
"Selamat pagi, Ai-chan. Terima kasih
sudah datang demi anak bodohku ini. Ngomong-ngomong, kamu suka katsu tiram?
Mulai hari ini kami menyediakannya. Malam ini, mampir ya. Katsu tiram dengan
saus tartar banyak, menu populer musim ini. Kamu tidak perlu membayar!"
Obrolan khas ibu mulai meledak.
"Ah, Ibu Senpai!! Selamat pagi. Aku
sangat suka katsu tiram. Tapi rasanya tidak enak kalau selalu diberi gratis,
jadi lain kali aku akan membayar."
"Oh, tidak perlu sungkan. Kami juga
menyediakan untuk dibawa pulang, jadi katakan saja kalau ingin."
"Terima kasih! Aku menantikan katsu
tiramnya."
Seperti biasa, ibu dan Ichijou-san sangat
cocok. Mereka bicara tanpa henti, terlihat nyaman satu sama lain.
Akhirnya, setelah didorong keluar, aku
berangkat.
"Kalau begitu, selamat jalan, kalian
berdua."
※
Kami berjalan di jalan menuju sekolah. Sedikit
demi sedikit, aku mulai melihat murid lain.
Sejujurnya, ketakutanku berkurang berkat
Ichijou-san yang menemaniku. Kami bisa berbicara dengan santai, dan dalam
keadaan seperti ini, aku bisa tersenyum di perjalanan.
Ternyata dia benar-benar suka katsu tiram.
"Eh, ini gak apa-apa kan? Kalau pergi
dengan aku, kamu bisa kena bully juga."
Dia hanya tertawa mendengar kekhawatiranku.
"Tenang saja, itu tidak akan terjadi.
Kalau boleh bilang, aku cukup populer, baik di kalangan pria maupun
wanita."
Memang, aku tidak pernah mendengar rumor buruk
tentangnya. Dia memang menolak pernyataan cinta dengan tegas, tapi selalu
tulus, hingga tidak ada yang merasa sakit hati. Dia disukai banyak orang.
"Ya, kurasa begitu."
"Senpai harus lebih memanfaatkan situasi.
Bersamaku, senpai pasti akan aman. Setidaknya, mereka takkan berani menghinamu
secara langsung."
Benar juga. Kami melewati beberapa murid, dan
bukannya menghina, mereka malah terkejut melihatku bersamanya.
"Kenapa Ichijou-san yang tidak suka pria
berjalan dengan pria?!"
"Itu Aono, kan? Jangan-jangan dia memaksa
Ichijou-san..."
"Tidak mungkin. Ichijo-san terlihat
senang."
Begitulah reaksi orang-orang.
"Mungkin gosip buruk itu akan tergantikan
oleh rumor hari ini. Toh, orang-orang suka gosip cinta."
Dia tersenyum bahagia.
"Tapi aku tidak ingin reputasimu
rusak."
"Senpai terlalu baik. Tapi itu tidak
perlu dikhawatirkan. Aku tidak butuh reputasi dari orang yang bahkan tidak
mengenal kita."
Baru satu hari kenal, tapi...
"Luar biasa..."
Punya teman sehebat ini membuatku hampir
menangis bahagia.
"Menangis masih terlalu cepat. Setelah
semuanya selesai, kita bisa menangis bersama."
Dengan bantuan Satoshi, aku memutuskan untuk
kembali ke sekolah. Dan berkat Ichijou-san, aku siap untuk melawan.
Aku hampir kehilangan kepercayaan pada
manusia, tapi kini aku merasa masih bisa mempercayai orang lain. Kami melangkah
maju sedikit demi sedikit.
※
Kami menarik perhatian banyak murid. Sekolah
sudah dekat, jadi pasangan antara kami yang unik ini menjadi sorotan banyak
murid-murid.
Di satu sisi, Ichijou Ai, gadis cantik dan
pintar di sekolah.
Di sisi lain, aku, Aono Eiji, pria yang
dituduh melakukan kekerasan pada kekasihnya.
Mereka melihatku dengan tatapan dingin, namun
tak ada yang berani bicara, karena mereka takut terlihat oleh Ichijou. Siapa
pun yang berani bergosip di depan idolanya mungkin akan kehilangan posisinya di
sekolah.
Selain itu, Ichijou-san tampak sangat senang.
Ia berbicara bersamaku dengan ekspresi bahagia yang terlihat jelas.
"Ah, kita sudah hampir sampai. Senpai,
kita nanti pulang bareng lagi, ya?"
Itu bentuk kebaikan hatinya. Kata
"lagi" ditekankan, seolah menyiratkan bahwa kami juga pulang bersama
kemarin.
"Boleh, ya?"
"Tentu saja! Lagian aku yang minta!"
Dia berkata cukup keras agar terdengar oleh
banyak orang. Siapa pun akan sulit menolak permintaannya.
"Aku akan traktir katsu tiram."
"Hehe, terima kasih!"
Kami berpisah di dekat tempat loket sepatu,
dan berjanji bertemu lagi setelah pulang sekolah.
※
Dari sini, aku harus bertarung sendiri. Aku
bersiap-siap menuju loker, berpikir mungkin akan ada paku atau sampah.
Namun, terlihat lokerku bersih, tanpa
tanda-tanda kekacauan. Aku melihat Iwai-sensei, wali kelas, berada di dekat
pintu masuk, tampaknya menjaga barang-barangku.
"Begitu rupanya."
Tampaknya, ia berjaga untuk memastikan aku
tidak mendapat gangguan.
"Oh, Aono. Selamat pagi. Kau sudah
mendengar dari Imai, kan?"
"Iya, sudah."
"Begitu,ya."
"Kalau begitu, temuilah dulu Guru
Takayanagi di ruang guru. Dia sangat mengkhawatirkanmu sejak kemarin."
Aku pikir mungkin akan ada teguran karena
meninggalkan sekolah, tapi tidak ada tanda-tanda hal itu sama sekali.
"Ya."
Aku tidak bisa banyak berbicara, tapi guru itu
tersenyum puas.
※
Aku menuju ke ruang guru di lantai satu.
Sejujurnya, masuk ke ruang guru dalam situasi seperti ini adalah hal yang tidak
menyenangkan. Pasti akan menjadi sorotan, dan mungkin ada guru yang mencurigai
aku, sehingga mungkin saja aku akan dipandang dingin.
"Selamat pagi, Aono."
Saat aku merasa khawatir seperti itu, Guru
Takayanagi, wali kelasku, sedang menungguku di lorong depan ruang guru.
"Selamat pagi. Mengapa bapak ada di
luar?"
"Oh, begitu ya. Dalam situasi seperti
ini, aku pikir akan sedikit menakutkan bagimu untuk masuk ke dalam ruang guru
sendirian, jadi aku menunggumu di sini."
Meskipun berbicara seperti biasa dengan nada
tenang, aku merasa sangat berterima kasih atas perhatiannya terhadapku.
"Terima kasih."
"Ini hanyalah perhatian yang minimal,
tidak perlu berterima kasih. Sementara itu, ceritakanlah padaku. Karena kita di
lorong ruang guru, mari kita gunakan ruang rapat di sana."
Eh, bukankah biasanya dalam situasi seperti
ini seharusnya menggunakan ruang bimbingan siswa? Itu adalah pertanyaan polos
yang muncul dalam benakku, tapi tampaknya guru telah menyadari hal itu.
"Apakah kamu lebih suka di ruang
bimbingan siswa? Di sana suasananya memang cenderung membuat guru berada dalam
posisi yang lebih tinggi. Kali ini, aku ingin berbicara denganmu secara setara,
jadi aku tidak ingin menggunakan tempat itu."
Aku segera menggelengkan kepala. Aku tidak
ingin berbicara di tempat yang begitu berat dan menekan.
"Begitu ya."
Kami pun masuk ke ruang rapat.
"Aono, duduklah di sebelahku. Lebih mudah
berbicara dibandingkan duduk berhadapan, bukan?"
Aku bisa melihat sensei berusaha membuatku
rileks dengan tersenyum padaku.
"Sebelum mendengarkan ceritamu, ada
sesuatu yang perlu aku katakan terlebih dahulu."
Sensei tiba-tiba menggunakan nada serius.
Kecemasanku meningkat seketika.
"Aono, aku benar-benar minta maaf. Aku
tidak bisa menyadari perubahan pada dirimu kemarin, sehingga membuatmu merasa
tersiksa. Jika saja aku bisa menciptakan lingkungan untuk berbicara sebelum
liburan musim panas, mungkin bisa mengurangi penderitaanmu. Dalam kejadian kali
ini, aku juga memiliki tanggung jawab. Aku sungguh-sungguh minta maaf."
Sensei membungkukkan kepala dengan dalam.
Dia tetap dalam posisi itu lebih dari satu
menit. Aku jujur merasa bersalah.
"Sensei, tolong angkat kepala Anda. Aku
juga tidak mencoba untuk berkonsultasi. Lagipula, hanya dengan menyadari
masalah ini secepat ini sudah sangat luar biasa..."
Saat aku buru-buru mengatakan itu, sensei
akhirnya mengangkat kepala dan berkata "Terima kasih" sambil
menatapku dengan pandangan tulus.
"Aono, aku kira sudah memahami bahwa ada
hal yang sulit bagi dirimu. Kemarin, aku juga sempat mendengar sebagian dari
Imai. Jadi, tidak apa-apa jika kamu ingin memberitahuku setelah perasaanmu
sudah lebih tenang, atau sedikit demi sedikit. Maukah kamu berbagi cerita
denganku?"
Secara umum, menceritakan kisah patah hati
kepada seorang guru adalah hal yang tidak nyaman. Terlebih lagi, aku dihina
sebagai "pria penguntit dan kejam" oleh sahabat masa kecil yang
kukira dapat dipercaya, dan disodorkan kata putus. Aku tidak ingin bercerita
kepada siapa pun tentang ini.
Gara-gara itu, aku terisolasi dari teman-teman
sekelas dan anggota klub, bahkan mengalami pelecehan. Terasa memalukan bahkan
saat kuingat kembali. Namun, aku mungkin bisa menceritakannya kepada guru.
Hanya butuh sedikit keberanian lagi... Di sisi
lain, aku takut jika aku bercerita kepada guru, hal itu mungkin membuatnya
harus melakukan sesuatu sebagai tanggapan.
Aku khawatir jika aku dibalas dendam oleh
orang-orang yang menggangguku, dengan mengatakan aku "mengadu kepada
guru."
Mungkin guru menyadari ekspresi cemas di
wajahku.
"Maafkan aku, Aono. Mungkin aku terlalu
terburu-buru, ya? Jangan memaksakan diri. Tidak perlu memaksakan untuk
bercerita hari ini. Kamu juga butuh waktu untuk menenangkan diri."
"...Maafkan aku."
"Tak perlu minta maaf. Apakah kamu haus?
Sebenarnya ini tidak boleh, tapi hari ini adalah pengecualian. Aku akan traktir
minuman kaleng. Ingin minum apa?"
Sensei mengatakan itu dengan lembut, seolah
ingin mendukungku.
"Kalau begitu, cola."
"Baiklah. Tunggu sebentar."
"Tapi, guru, bukankah anda ada pelajaran
pertama, apakah tidak apa-apa? Waktunya hampir tiba, kan?"
"Iya, itu sudah diatur oleh guru kelas
sejarah dunia. Prioritas tertinggi di sekolah saat ini adalah mendukung Aono
yang sedang dalam keadaan sulit."
Tampaknya para guru juga memperhatikan keadaan
diriku. Seperti yang dilakukan oleh Guru Iwai tadi. Aku merasa sangat
bersyukur, tapi juga malu karena tidak bisa berbicara dengan baik.
"Terima kasih."
Aku tanpa sadar mengucapkan kata itu.
"Tunggu, aku belum membelikan cola.
Ucapkan terima kasihnya nanti saja."
Aku senang sensei sedikit bercanda seperti
biasanya.
※
"Nih, minumlah."
Takayanagi-sensei kembali dengan membawa cola
dingin yang baru saja dibelinya dari mesin penjual otomatis.
Dia memegang dua kaleng minuman cola di kedua
tangannya.
"Terima kasih."
"Saking panasnya, aku juga melanggar diet
rendah gula hari ini."
Senseu berkata sambil membuka cola dengan
senyuman, lebih seperti saudara sepupu daripada seorang guru.
"Mengapa Anda percaya padaku, sensei?
Padahal yang lainnya tidak ada yang mau mendengarkan penjelasanku sama
sekali."
"Begitu ya. Ada dua alasannya."
"Dua?"
"Ya, yang pertama, aku tahu sebagian
besar siswa sedang panik dengan rumor yang tidak bertanggung jawab, seperti
kepanikan massal. Kami sebagai orang dewasa bisa melihat situasi itu dengan
lebih objektif. Kamu pasti sering melihat keributan di internet, bukan? Di mata
masyarakat dunia maya, siapapun yang terkena skandal akan dilabeli sebagai
pihak yang salah, dan orang-orang merasa seperti pahlawan yang menyuarakan
kebenaran, hingga melontarkan kata-kata kasar."
"Ya."
Itulah tepatnya posisiku.
"Tapi seringkali penyebab keributan itu
tidak jelas. Jika seseorang ikut-ikutan menyakiti orang lain dengan mudah, dia
juga bisa kehilangan segalanya. Para pelaku yang mengganggumu itu sedang
terjebak dalam situasi tersebut."
"…Tapi, bagaimana jika aku memang seperti
yang dikatakan dalam rumor itu?"
"Itu juga mungkin, tetapi ada alasan
kedua. Seburuk apapun situasinya, aku tidak merasa kamu akan melakukan
kekerasan. Aono, saat sesuatu yang buruk terjadi, kamu bukan tipe yang
menyalahkan orang lain, melainkan lebih sering menyalahkan diri sendiri.
Setidaknya, kamu tidak pantas menerima perundungan seperti itu. Kalau boleh
berkata jujur, ini adalah naluri seorang guru."
Sensei meminum cola-nya sambil sedikit
menyembunyikan kata-katanya. Aku tahu Takayanagi-sensei adalah orang yang
sangat cerdas. Jadi, aku merasa kata "naluri guru" adalah cara halus
untuk menyampaikan maksudnya.
Kurasa dia memilih kata-kata tersebut demi
aku. Seorang guru biasa mungkin akan berkata, "Aku mempercayaimu."
Tapi, dalam posisiku yang lemah, ucapan
seperti itu bisa menimbulkan tekanan. Terkesan ada desakan untuk segera
menceritakan semuanya.
Namun, kali ini, dia menyampaikan rasa
percayanya dengan cara yang sedikit tidak langsung.
Dengan dukungan dari guru seperti ini, aku
pun...
Keputusanku sudah bulat.
Aku menatap lurus ke mata sensei. Mungkin dia
mengerti keputusanku, dan mengangguk dengan lembut.
"Takayanagi-sensei, ada sesuatu yang
ingin aku ceritakan."
※
──Sudut Pandang Takayanagi──
Aono menguatkan tekadnya dan mulai berbicara
untukku.
"Sensei, Anda tahu bahwa aku dulu
berpacaran dengan Miyuki... Amada Miyuki, kan?"
"Aah."
Ternyata memang dimulai dari hubungan asmara.
Ketika berbicara tentang masalah anak SMA, sering kali itu berhubungan dengan
asmara.
"Lalu, pada ulang tahunku tanggal 30
Agustus, aku membuat janji untuk pergi kencan bersama Miyuki. Tapi tiba-tiba
aku diberi tahu kalau dia tidak bisa pergi. Saat aku berjalan di kota, aku
melihatnya sedang berjalan di distrik perbelanjaan sambil bergandengan tangan
dengan Kondo-senpai, siswa kelas tiga..."
Mendengar cerita seperti itu membuat hatiku
terasa tidak nyaman.
Apakah Amada berselingkuh? Kondo dari tim
sepak bola. Dia adalah pemain andalan yang cukup populer di kalangan siswi.
Jika tidak salah, orang tuanya adalah anggota dewan kota. Pernah juga kudengar
bahwa dia mendapat tawaran dari universitas dengan tim sepak bola unggulan.
Nilainya juga tidak buruk. Namun, dia jauh dari tipe siswa teladan.
Terus terang saja, reputasinya di kalangan
guru tidak baik. Meski dari luar terlihat seperti anak muda yang sangat
menyenangkan di tim sepak bola, dia terlalu sering terlibat dalam masalah
asmara.
Yang merepotkan adalah caranya yang licik
dalam bertindak.
Jika berbicara tentang perselingkuhan, jelas
itu perbuatan buruk. Secara moral, itu adalah tindakan yang tidak bisa
dimaafkan. Namun, jika tidak ada ikatan pernikahan, hukum tidak bisa
menyalahkan.
Jika perselingkuhan terjadi pada salah satu
pihak dalam pernikahan, mungkin bisa menuntut ganti rugi, tapi jika itu terjadi
dalam hubungan biasa, tidak ada dasar untuk meminta ganti rugi.
Tentu saja, sebagai manusia itu adalah
tindakan yang tidak terpuji. Itu adalah prinsip dasarnya.
Namun, jika perselingkuhan saja, tanpa
tindakan jelas yang melanggar hukum seperti kekerasan, narkoba, atau pencurian,
sekolah akan sulit untuk memberikan sanksi.
Pernah kudengar bahwa wali kelas Kondo tahun
lalu memberi peringatan secara tidak langsung mengenai hubungannya, tapi justru
dia terancam dengan pertanyaan "Apa guru berhak mencampuri hubungan asmara
siswa?". Dalam situasi di mana sekolah tidak bisa campur tangan dalam
hubungan asmara, banyak kehidupan siswa yang akhirnya kacau.
Apakah hal itu akhirnya berkembang menjadi
masalah besar?
"Aku mendekati mereka untuk menanyakan
kejelasannya, lalu aku memegang lengan Miyuki. Aku kira itu tidak begitu keras,
tapi dia terlihat kesakitan... Lalu tiba-tiba, Kondo-senpai yang berdiri di
sebelahnya..."
Aono tampak kesulitan memilih kata.
Bagi seorang siswa SMA, bercerita tentang
patah hati kepada gurunya tentu bukan hal mudah.
Saat aku hendak mengatakan bahwa dia tidak
perlu memaksakan diri untuk bercerita, Aono menatapku dengan tegas, dan
menjawab, "Tidak apa-apa."
"Dia memukul wajahku... dan mengatakan
aku lelaki kasar dan penguntit..."
"Apa..."
Kata-kata Aono yang berikutnya membuatku
tercengang. Apa yang sebenarnya dikatakan Kondo?
Jika sudah seperti ini, ini bukan sekadar
perselingkuhan lagi, tapi sudah menjadi kasus kekerasan.
"Setelah itu, Kondo bertanya kepada
Miyuki siapa yang akan dia pilih di antara kami berdua. Dan kemudian... dia
memilih..."
Aono menundukkan kepala, gemetar.
"Dia memilih Kondo."
Tanpa sengaja aku mengucapkan kata-kata itu,
dan langsung menyesalinya. Seharusnya tidak kuucapkan itu. Bagaimana bisa aku
menambah beban pada Aono yang sudah menderita?
"Iya..."
Melihat Aono yang menahan jeritannya tanpa
suara membuat mataku tak sengaja berkabut.
Sebagai seorang guru yang sudah berusia lebih
dari 30 tahun, mungkin pikiranku ini terlalu naif.
"Kamu sudah sangat menderita, pasti sulit
bagimu, Aono. Terima kasih sudah mau bercerita."
Melihat Aono, sepertinya dia tidak pergi ke
rumah sakit setelah dipukul. Dia mungkin juga menyembunyikan hal ini dari orang
tuanya. Jika saja dia memiliki bukti obyektif seperti surat keterangan dari
dokter, Kondo bisa segera diberi sanksi.
Namun, tanpa bukti itu, Kondo yang licik itu
pasti akan mencari alasan atau justifikasi untuk tindakannya.
Aku bisa membayangkan wajahnya yang tersenyum
licik sambil mengatakan bahwa dia hanya menolong seorang gadis yang diganggu
oleh penguntit atau hanya mendorong sedikit dan bukan memukul.
Dalam situasi ini, aku harus mengumpulkan
sebanyak mungkin informasi dan menemukan celah dalam klaim Kondo untuk
membongkarnya.
"Ini sekarang urusan orang dewasa."
Hal yang paling utama adalah bagaimana
memastikan agar kehidupan sekolah Aono ke depannya tidak semakin sulit.
Dalam kondisi seperti ini, membiarkan Aono
mengikuti pelajaran di kelas hanya akan meninggalkan luka yang lebih dalam di
hatinya. Jika kondisinya semakin parah, hal itu tidak akan berarti apa-apa.
Kepala sekolah berkata, "Memilih untuk
berhenti atau tidak bersekolah adalah hal yang sama sekali bukan solusi bagi
korban perundungan. Tidak boleh ada kerugian dalam ketidakhadiran kelas
mereka."
Dengan begitu, kepala sekolah meminta kepada
para guru mata pelajaran untuk menyesuaikan agar Aono tidak ketinggalan
meskipun dia absen dengan memberikan pelajaran tambahan dan tugas.
Namun, semakin lama masalah ini berlangsung,
semakin sulit posisi Aono nantinya.
"Maaf, Sensei. Karena aku, Anda jadi
repot."
Anak ini, meskipun yang paling menderita
adalah dirinya, dia tetap memikirkan kekhawatiran orang-orang di sekitarnya...
"Tidak ada yang merepotkan kok. Aono, kau
mungkin berpikir ini hanya masalahmu sendiri, tapi ini juga masalah bagiku
sebagai guru dan bahkan masalah bagi seluruh sekolah. Jadi, tidak ada yang
perlu dianggap merepotkan ketika aku atau guru lain berusaha menyelesaikan
masalah ini. Kau terlalu bertanggung jawab dan terlalu baik hati."
"...."
Aono tampak bingung mendengar hal itu.
"Itu memang kelebihanmu. Justru karena
kau bisa peduli pada orang lain, orang-orang di sekitarmu ingin kau bergantung
pada mereka."
"Benarkah?"
"Iya. Menyukai seseorang adalah perasaan
yang sangat murni. Jika seseorang menodainya, bahkan orang dewasa pun akan
terluka. Apalagi pada kalian yang sedang dalam masa remaja. Maka dari itu, saat
kau merasa kesulitan, bergantunglah pada seseorang. Boleh padaku, pada
Mitsui-sensei, atau pada guru lain yang peduli. Bisa juga pada teman seperti
Imai, atau pada keluargamu. Saat merasa susah, utamakanlah dirimu sendiri.
Kumohon."
Dengan kata-kata yang mungkin terdengar naif
itu, aku memperbarui tekad untuk mengatasi masalah ini sepenuh hati.
※
Aku berada di ruang kesehatan. Mulai besok
para guru akan mengadakan pelajaran tambahan, tetapi hari ini nampaknya belum
sempat disiapkan.
Sejujurnya, aku merasa seperti sedang bermimpi
melihat pihak sekolah sangat mendukungku seperti ini. Meskipun rasanya tidak
nyaman berada di ruang kesehatan sepanjang hari, tidak ada yang bisa dilakukan,
padahal fisikku sehat.
"Aono-kun, kamu baik-baik saja? Apa kamu
sehat?"
Mitsui-sensei datang menjengukku.
"Iya, terima kasih."
"Syukurlah. Meski tubuhmu sehat, kau
tetap harus menjaga diri karena kau telah melalui pengalaman yang berat. Hatimu
masih lelah."
Dari tadi, aku terus diberi kata-kata yang
menenangkan.
"Rasanya aman karena merasa para guru
benar-benar melindungiku."
"Benarkah? Tapi ingat, Takayanagi-sensei
yang paling berjuang keras, jadi jangan lupa itu."
"Iya."
"Menghabiskan tujuh jam di ruang
kesehatan pasti membosankan, bukan? Bagaimana kalau aku pinjamkan buku dari
perpustakaan untuk menghilangkan kebosananmu? Aku sudah mendapat izin khusus."
Jujur saja, jika aku tidak melakukan apa-apa,
aku merasa akan tenggelam dalam pikiran negatif. Aku ingin melakukan sesuatu.
"Benarkah?"
"Iya, tapi jangan terlalu
terang-terangan. Kalau terlalu mencolok nanti malah kena marah."
Melihat senyum lembut Mitsui-sensei dengan
sedikit keisengan, aku tertawa tanpa sadar.
"Tentu saja."
"Jadi, ini rahasia kita berdua saja,
ya."
Aku merasa bahwa ruang kesehatan ini perlahan
menjadi tempat yang nyaman bagiku.
※
Mitsui-sensei meminjamkan beberapa novel
kepadaku.
Kebanyakan adalah karya populer yang
belakangan menjadi best-seller. Ada juga karya sastra umum yang masuk peringkat
atas dalam kontes pegawai toko buku tahun lalu, manga medis klasik karya
seorang maestro yang dijuluki "Dewa Manga," dan buku wawancara yang
ditulis berdasarkan percakapan dengan pakar di berbagai bidang.
Kelihatannya, sensei memilihkan buku yang
isinya tidak terlalu berat untuk menghiburku yang sedang merasa sedih. Sebagian
besar isinya berkisar pada drama manusia. Karena aku tergolong cepat dalam
membaca buku, hanya dalam setengah hari aku sudah menyelesaikan satu buku
sastra. Membeli buku seharga lebih dari seribu yen adalah tantangan bagi
seorang pelajar SMA, jadi aku merasa beruntung bisa membacanya dengan cara ini.
"Oh, sudah selesai membaca? Cepat sekali.
Bagaimana kalau kita istirahat sebentar? Aku bisa membuatkan teh."
Sensei yang tadi pergi ke ruang guru untuk
mengambil dokumen itu kembali dan tersenyum saat melihatku.
"Boleh kah?"
"Ya, khusus untuk kali ini. Teh hijau
saja ya? Aku tidak punya kopi karena aku tidak bisa meminumnya."
"Terima kasih banyak."
Aku jadi mengetahui sisi lain dari
Mitsui-sensei, yang biasanya terlihat sangat profesional.
Aroma tehnya sangat harum. Saat melihat kotak
kantong teh, sepertinya itu teh hijau yang cukup mewah. Merasa rileks, aku
tanpa sadar bertanya.
"Kenapa Guru memilih untuk menjadi
guru?"
Dengan senyum, sensei menjawab,
"Sejujurnya, aku mendapatkan lisensi mengajar lebih sebagai cadangan. Aku
ingin mendapatkan sertifikat saat kuliah, meskipun sebenarnya tidak tahu mau
jadi apa. Jadi, aju masuk fakultas pendidikan di universitas dekat rumah dan
mendapatkan lisensi mengajar."
Aku merasa jawaban beliau sangat jujur.
Menyadari ekspresiku, beliau tertawa kecil.
"Mungkin ini bukan sesuatu yang
seharusnya aku ceritakan pada seorang murid, tapi karena hanya ada kita berdua,
aku ingin jujur saja."
"Jadi, sensei langsung menjadi guru
setelah lulus kuliah?"
"Tidak, sebenarnya aku sempat bekerja di
perusahaan umum, lalu lima tahun lalu baru pindah menjadi guru."
"Eh, itu tidak aku sangka. Aku pikir
sensei selalu bekerja di sekolah."
"Sebenarnya, aku sempat berpikir untuk
menjadi guru saat kuliah, tapi akhirnya sempat menyerah."
Sensei menunjukkan ekspresi sedikit sedih. Aku
merasa ini mungkin bukan topik yang harus aku gali lebih jauh, jadi aku juga
berhenti sejenak.
"Tidak apa-apa. Ini bukan karena aku
tidak bisa menceritakannya. Sebenarnya, dalam beberapa hal, aku melarikan diri.
Aku senang saat praktik mengajar, dan banyak yang bilang aku cocok menjadi
guru, tapi entah kenapa aku merasa takut."
"Takut?"
Mitsui-sensei cukup populer di kalangan siswa.
Banyak siswa yang sering datang untuk meminta saran darinya.
"Ya, aku takut. Menjadi guru itu,
tanggung jawabnya besar. Hanya dengan satu kata, kita bisa mengubah masa depan
seorang anak. Ketika aku menyadari itu, aku merasa takut."
"Jadi, sampai sekarang sensei masih
merasa takut?"
Meski terasa kurang sopan, aku tetap ingin
tahu.
"Ya, aku masih merasa takut. Apalagi
karena ini adalah masa paling penting untuk Aono-kun. Tapi aku ingin berbagi
sedikit tentang diriku. Apakah kamu mau mendengarnya?"
"Tentu."
Sensei menatap mataku dan mulai bercerita.
"Dulu, aku mengalami masalah hubungan di
pekerjaan sebelumnya. Hatiku benar-benar hancur. Aku bekerja di perusahaan
dengan budaya yang keras yang sangat kolot…"
Aku mengangguk. Dalam novel pun sering
digambarkan kondisi seperti itu. Perusahaan dengan budaya tua sering kali
dikaitkan dengan masalah, sama seperti lingkunganku sekarang.
"Karena budaya yang kolot itu, aku merasa
terbebani secara mental dan fisik. aku tidak bisa melakukan apa-apa selain
terus berusaha. Namun, semakin keras aku berusaha, hatiku semakin lelah hingga
mencapai batasnya. Tapi aku tidak bisa berbicara dengan siapa pun. Aku merasa
terjebak sendirian."
Aku juga akan merasakan hal yang sama jika
Ichijou-san, Satoshi, atau Takayanagi-sensei tidak menyadari keadaanku.
"Akhirnya, aku tumbang karena kelelahan
dan dilarikan ke rumah sakit. Saat aku sadar, ibuku menangis di sampingku. Dia
meminta maaf berkali-kali karena tidak menyadari apa yang terjadi padaku.
Sebenarnya, aku tinggal sendiri saat itu, jadi sangat sulit bagi ibuku untuk
menyadari perubahanku."
Walaupun ini cerita tentang sensei, entah
kenapa terasa seperti pengalamanku sendiri.
"Aku meminta maaf pada ibu, lalu dia berkata,
'Kenapa tidak pernah cerita? Kalau sampai sesuatu terjadi padamu, ibu akan
menyesal seumur hidup. Daripada membebani dirimu sendiri, kenapa tidak meminta
bantuan?' Itu menjadi pelajaran besar bagiku."
Aku tidak bisa menahan air mata. Melihat aku,
sensei menghiburku.
"Tidak apa-apa. Kami akan selalu
mendukungmu."
※
—Perspektif Ai Ichijou—
Setelah berpisah dengan Senpai, aku menuju
kelas. Kemarin, aku sempat keluar dari kelas diam-diam, jadi teman sekelas
menatapku dengan bingung. Sebenarnya, aku sudah izin ke wali kelas bahwa aku
merasa tidak enak badan.
"Ai-san, aku dengar kamu sakit. Apakah
sudah baikan?"
Ketua kelas yang terlihat cerdas dengan
kacamata dan kepang bertanya dengan khawatir.
"Iya, setelah istirahat kemarin, sudah
baikan. Mungkin karena panas."
Aku menjawabnya dengan ramah seperti biasa.
"Begitu, ya. Jaga kesehatanmu, ya."
"Terima kasih sudah
mengkhawatirkanku."
Ini adalah cara aku berteman di kelas: ramah
tetapi tetap menjaga jarak. Dengan begini, aku tidak akan terisolasi, dan tidak
ada yang salah paham.
Penampilan yang menarik bisa menjadi pedang
bermata dua di lingkungan sekolah. aku berusaha untuk tidak membuat musuh, tapi
juga tidak terlalu dekat dengan siapa pun.
Kadang, aku merasa ini melelahkan. Sebenarnya,
aku ingin bergantung pada seseorang, tapi aku tidak bisa. Itu membuat aku
tertekan, seperti kemarin. aku harus memainkan peran Ichijou Ai yang diinginkan
orang-orang di sekolah, sementara aku merasa tidak ada yang benar-benar melihat
siapa diriku sebenarnya. Bahkan orang tuaku.
Lalu aku bertemu Senpai kemarin, seseorang
yang bisa melihat aku apa adanya. aku bisa menunjukkan diriku yang sesungguhnya
tanpa merasa malu.
"Jadi, ternyata ini wajah asli aku saat tertawa.
Aku sendiri bahkan tidak tahu."
Anehnya, aku merasa nyaman berjalan
bersamanya. aku pikir dia melindungiku, tapi sebenarnya dialah yang melindungi
hatiku.
Mungkin inilah yang dirasakan seorang gadis
saat jatuh cinta.
※
"Kamu tidak apa-apa? Maaf, ada satu
pertanyaan lagi."
Ketua kelas kembali bertanya.
"Ada apa?"
"Maaf, aku melihat sesuatu tadi
pagi."
"Sesuatu? Apa?"
Aku sudah menduga ini akan terjadi, jadi aku
tidak kaget.
"Aku melihatmu dan senpai berangkat
bersama pagi ini."
Sudah aku duga.
"Oh, maksudmu Aono-senpai?"
Sengaja aku ucapkan namanya agar semua mendengar. Seperti yang
aku harapkan, teman-teman mulai bergosip.
"Kenapa kamu bisa…?"
"Itu bukan urusanmu. Tidak perlu menyebar rumor."
Jawab diriku dengan tegas.
Jika terlalu keras, mungkin malah akan berbalik efeknya. Karena
itu, aku berencana untuk menyampaikan dengan nada lembut, seolah-olah memberi
nasihat.
Namun, aku tak sadar menguatkan nada bicaraku. Aku tak sengaja
membandingkannya dengan diriku yang dulu.
"Ya, maaf kalau aku bicara tanpa tahu banyak."
Syukurlah, dia dengan tulus meminta maaf. Meskipun dia terkesan
santai, aku tahu dia bukan orang yang jahat, jadi aku juga merasa lega.
"Ah, tidak, aku yang seharusnya minta maaf karena nada
bicaraku sedikit keras."
Aku menyelesaikan situasi itu dengan senyum yang aku pakai untuk
orang luar.
"Maaf, aku juga ikut-ikutan bicara yang aneh," ketua
kelas pun turut meminta maaf.
"Tidak apa-apa kok, lagipula ini bukan sesuatu yang perlu
disembunyikan."
Sebaliknya, aku sedikit merasa bersalah karena melibatkan mereka
dalam rencanaku yang cerdik.
Karena Senpai menjadi korban hinaan dan perundungan, bahkan jika
dia terbukti tidak bersalah, membersihkan nama buruknya bukanlah hal yang
mudah. Aku tidak ingin melihat masa depan di mana rumor buruk itu menjadi beban
yang menghantui Senpai.
Jadi, aku ingin menggantikan rumor buruk itu dengan rumor
positif, walau sedikit.
Apapun yang bisa aku lakukan untuk Senpai, aku akan
melakukannya. Aku memantapkan tekadku.
※
──Dari sudut pandang Kondo──
Sial, menyebalkan.
Karena pertandingan latihan sudah dekat, aku terpaksa ikut
latihan pagi yang biasanya aku bolos, dan itu membuatku kesal.
"Jangan sampai terjebak oleh trik semacam ini, Mita! Lagi
pula, ruangnya terlalu terbuka, anak tahun pertama di sayap belakang! Mana
mungkin kita bisa menang di pertandingan latihan seperti ini, dasar
bodoh."
Aku melampiaskan rasa kesal ini kepada teman-teman satu tim.
Sungguh, jika kalah di sini dan reputasiku ternoda, siapa yang akan bertanggung
jawab? Aku adalah raja di tim ini.
Aku dibebaskan dari tugas bertahan. Pelatih dan teman-teman juga
sudah paham bahwa selama aku tampil baik saat menyerang, itu sudah cukup.
Jadi, aku tidak perlu mati-matian mengejar bola yang hilang.
Pemain tengah dan bek di belakangku akan mengatasinya. Jika aku menghabiskan
tenaga untuk bertahan, aku tidak akan bisa menyerang dengan artistik. Itu sudah
jelas, bukan?
Aku mengirimkan umpan yang luar biasa ke ruang terbuka dengan
sentuhan yang halus, kekuatan terbesarku.
Orang biasa mencoba bertahan mati-matian, tapi itu sia-sia. Bakat
kita berada di level yang berbeda. Melihat mereka terkecoh oleh sentuhanku
mengingatkanku pada wajah terpuruk Aono Eiji.
Apakah dia masih bisa datang ke sekolah? Aku ingin tahu sampai
kapan dia bisa bertahan datang ke sini.
Kemarin, budak-budakku melakukan perbuatan jahat di mejanya.
Desas-desus bahwa dia melakukan kekerasan mulai menyebar ke seluruh sekolah.
Dengan reputasi yang jatuh begitu dalam, hidupnya pasti akan semakin sulit.
Kemungkinan besar dia akan berhenti sekolah.
Dan ada satu hal lagi yang menarik.
Sepertinya, Miyuki mulai melarikan diri dari kenyataan.
Semalam, dia mengundangku ke rumahnya saat orang tuanya tidak
ada, dan aku sangat terhibur.
"Lupakan semuanya."
"Aku sadar kalau aku tidak bisa kembali seperti
semula."
"Kamu satu-satunya yang aku punya."
Aku menahan tawaku dengan susah payah saat kami berpelukan.
Ya, gadis ini juga akan jatuh. Kamu tahu, kan? Kamu juga akan
jatuh seperti Aono, terseret ke dalam kehancuran.
"Iya, aku akan selalu bersamamu. Kita adalah satu
takdir."
Ketika aku membisikkan itu dengan manis, Miyuki menangis bahagia
sambil mengucapkan "terima kasih" berulang kali. Aku juga memberi
saran untuk persiapannya menghadapi pertemuan dengan guru. Setidaknya, untuk
sekarang dia aman.
Begitu Aono benar-benar hancur, aku akan meninggalkan Miyuki dan
beralih ke gadis lain.
Saat ini, dia berusaha keras menahan rasa bersalah karena
mengkhianati teman masa kecilnya, dan aku menantikan momen ketika wajah
cantiknya berubah penuh keputusasaan. Itu yang terbaik.
Dia mengatakan hal-hal seperti ini:
"Aku meninggalkan teman masa kecil yang aku sayangi, dan
memilihmu."
"Tolong, jangan tinggalkan aku."
"Aku akan melakukan apapun."
Kalau aku mengatakan ini pada gadis yang merayu seperti itu,
siapa pun akan menangis dan terjatuh.
"Sudah cukup, dasar gadis tukang selingkuh."
"Tidak mungkin aku bisa percaya gadis sepertimu."
"Aku tidak suka perempuan yang terlalu posesif."
Saat gadis itu jatuh menangis, itulah saat di mana rasa percaya
diriku meningkat.
Aduh, aku tidak sabar menunggu kedua orang itu hancur!
※
Akhirnya latihan pagi yang melelahkan selesai, dan aku berganti
pakaian di ruang klub.
Huh. Akhirnya selesai.
"Ah, Kondo-senpai. Lihat deh, ini beredar di luar."
Siswa tahun kedua, Aida, menunjukkan layar ponselnya padaku.
Tampaknya itu adalah layar obrolan grup kelas.
"Apa ini...?!"
Aku tak bisa berkata-kata melihat layar itu.
Di sana, ada foto yang mustahil untuk dipercaya.
Foto itu menunjukkan Aono dan idola sekolah, tersenyum dan
berjalan bersama.
Siswa kelas tiga lain melihat foto itu dan mulai tertawa.
"Itu, kan, Ichijou Ai dari tahun pertama, ya? Kenapa dia
jalan bareng sama si tukang pukul itu? Dan terlihat begitu bahagia..."
"Iya, kan? Lucu banget. Ichijou itu dianggap manusia
sempurna, tapi ternyata dia punya kelemahan juga. Selera prianya buruk
banget."
Aida juga ikut tertawa.
"Benar kan? Aono itu bukan siapa-siapa. Selera gadis itu
buruk banget."
Setelah itu, mereka pergi keluar.
Tapi aku merasakan amarah yang membara.
Ichijou Ai...
Gadis yang aku ajak main di semester pertama dan menolakku
dengan dingin, kenapa dia bersama orang seperti itu?
Aku yang menguasai seluruh sekolah ini, tapi kenapa harus
menerima penghinaan ini?
Akulah raja di sekolah ini.
Aku tidak akan kalah dari orang biasa sepertinya.
Aku akan memberinya pelajaran, perbedaan kelas yang
sesungguhnya!
※
──Dari sudut pandang Takayanagi──
Karena aku sudah mendapatkan informasi yang akurat dari Aono, aku
memintanya untuk tetap berada di ruang kesehatan agar tidak memaksakan diri.
Setelah kejadian yang cukup berat itu, aku rasa terlalu sulit
baginya untuk langsung kembali ke kelas dan mengikuti pelajaran.
Aono juga setuju denganku, jadi sesuai dengan permintaan
sebelumnya kepada Mitsui-sensei, kami akan memberlakukan sementara kehadiran di
ruang kesehatan.
Namun, karena kami juga tidak ingin mempengaruhi nilai
belajarnya, kami sedang mengatur agar pelajaran tambahan bisa diadakan di ruang
kelas kosong saat dia tidak ada jadwal. Kepala sekolah dan wakil kepala sekolah
sedang mengatur agar bisa dimulai besok.
Masalahnya adalah ketika aku menyampaikan keinginan untuk
berbagi insiden ini dengan orang tua Aono, dia dengan tegas menolak.
Aku paham, dia tidak ingin membuat khawatir ibunya yang
merawatnya seorang diri, serta kakaknya yang muda tapi sudah harus mengurus
keluarga.
Saat ini aku menyerah, tapi tetap aku merasa tidak nyaman jika
tidak menyampaikan apa pun. Kami adalah guru yang dipercaya untuk menjaga anak
mereka, dan kami merasa penting untuk berbagi informasi ini. Sesuatu sudah
terjadi.
Namun, mendekati masalah pribadi siswa yang tengah dalam masa
remaja memang sulit. Setelah berdiskusi dengan kepala sekolah, beliau mengatakan,
"Ini masalah yang rumit. Kami ingin segera memberi tahu orang tuanya, tapi
memahami perasaan Aono juga penting. Dalam hal ini, mungkin kita harus meminta
bantuan Mitsui-sensei atau konselor sekolah."
Sementara aku melakukan apa yang bisa aku lakukan, aku akan
mengatur pertemuan dengan anggota klub sepak bola seperti Aida dan Shimokawa,
dan juga Amada.
Berdasarkan sifatnya, kecil kemungkinan Amada melakukan gangguan
langsung pada Aono. Namun, seseorang yang dekat dengan Kondo tampaknya
mencurigakan.
Namun, saat aku cek ke ketua kelas kemarin, dia bersaksi,
"Waktu aku masuk kelas jam 8, sudah ada coretan di meja.''
Jika mereka datang ke sekolah lebih awal dari ketua kelas, besar
kemungkinan mereka tergabung dalam klub yang mengadakan latihan pagi.Jika itu
terjadi, mau tidak mau tersangkanya akan dipersempit.
※
Setelah pertemuan dengan Aida, aku memulai yang berikutnya
dengan Shimokawa.
Keduanya telah diminta untuk datang meninggalkan kelas.
"Maaf, Shimokawa. Sudah merepotkanmu datang mendadak
seperti ini."
Aku memulai percakapan dengan Shimokawa, yang berambut
kecokelatan, di ruang bimbingan siswa.
"Kenapa aku dipanggil?"
"Oh, hari ini, aku ingin mendengarkan beberapa murid, dan
kamu yang pertama berdasarkan urutan abjad. Kemarin aku juga sudah berbicara
dengan anak-anak yang tidak mengikuti klub olahraga. Sebagai tindakan
berjaga-jaga saja. Mohon dimaklumi, ini juga pekerjaanku."
Untuk membuatnya sedikit lebih santai, aku berakting seperti
biasa. Dia tampak mulai lebih rileks.
"Ini tentang kasus Aono, kan? Apa aku dicurigai?"
Dia cukup banyak bicara. Ini mempermudah diskusi.
"Tidak, bukan begitu. Setelah mengecek pada siswa yang
datang pagi kemarin, mereka mengatakan ketika mereka tiba, coretan di meja itu
sudah ada. Aku harus berbicara dengan anak-anak dari klub olahraga."
Dengan berlagak sebagai guru yang kurang bersemangat, aku
mengatakan itu.
"Oh, guru juga kerepotan ya. Tapi bukan aku, lho. Kami di
klub sepak bola langsung ke ruang klub, tidak langsung pergi ke kelas."
"Begitu ya?"
"Iya, jadi kami juga kaget saat melihat itu di kelas
pagi-pagi."
"Oke, apakah sebelum latihan pagi, kamu melihat anggota
kelas yang lain?"
"Eh, tidak. Mungkin hanya Aida. Dia juga anggota klub sepak
bola."
"Begitu, ya."
"Kalau guru mencurigai kami, setidaknya tunjukkan buktinya,
Takayagi-sensei!"
"Benar juga. Aida mengatakan hal yang sama. Baiklah, kamu
bisa kembali ke kelas."
"Iya, guru!"
Dengan sikap santai dan tertawa kecil, dia meninggalkan ruang
bimbingan.
Melihatnya pergi, aku menghela napas.
"Kenapa mereka berdua memberikan pernyataan yang persis
sama? Setidaknya tunjukkan sedikit usaha untuk menyembunyikannya."
Sepertinya mereka berdua mencurigakan. Awalnya mereka memastikan
apakah mereka dicurigai, kemudian bersaksi bahwa mereka langsung ke ruang klub
tanpa ke kelas, dan menyebutkan bahwa selain satu sama lain, mereka tidak
melihat teman sekelas lainnya. Seolah-olah ada skenario yang diikuti, jawaban
mereka terasa seperti mesin, terlalu mirip.
Selain itu, Aida dan Shimokawa, aku tahu kalian bertemu dan
menyapa Makabe dari klub basket. Kemarin aku bicara dengan Makabe, jadi aku
tahu.
Nah, untuk sekarang aku akan memantau mereka berdua. Ini semua
demi menangkap dalang yang mengatur mereka dari belakang.
※
Lanjut ke pertemuan berikutnya.
Murid yang ditunggu-tunggu masuk ke ruang bimbingan.
Amada Miyuki.
Dia teman masa kecil Aono, dan seharusnya mengetahui semua
rahasia selain yang diketahui Kondo. Dia sangat cerdas dan pernah menjabat
sebagai wakil ketua kelas di semester lalu. Seharusnya dia mulai menjalin
hubungan dengan Aono sejak musim dingin tahun lalu.
Jujur, dia menarik dan populer di kalangan lawan jenis. Dia
tidak tampak seperti siswa yang akan berselingkuh, tetapi cinta adalah sesuatu yang
bisa membuat seseorang kehilangan akal.
Sejak awal sejarah, banyak pemuda telah dihancurkan oleh buah
terlarang ini. Sebagai guru sejarah, aku bisa memikirkan banyak peristiwa besar
yang terkait cinta.
Dalam sejarah Jepang, ada pemberontakan Yakushi dan Dokyo.
Dalam sejarah Tiongkok, Kaisar Xuanzong dan Yang Guifei.
Dalam sejarah Inggris, masalah perceraian Henry VIII atau cinta
yang berhubungan dengan mahkota.
Bahkan penguasa tertinggi negara telah dibuat gila oleh cinta,
apalagi siswa pintar yang masih remaja.
Yah, mungkin aku terlalu memikirkan sejarah, dan itulah alasan
aku masih belum menikah. Sebagaimana dikatakan, orang bodoh belajar dari
pengalaman, sedangkan orang bijak belajar dari sejarah, tetapi itu juga ada
batasnya.
"Maaf, Amada, sudah merepotkanmu datang."
"Tidak apa-apa. Ini tentang Eiji, kan?"
"Ya, benar."
Amada tidak terlalu terguncang seperti yang aku kira. Hanya
saja, lingkaran hitam di matanya tidak bisa disembunyikan, dan wajahnya tampak
pucat.
"Aku tidak terlibat dalam insiden ini sama sekali!!"
Dia berkata dengan nada yang sedikit histeris, menegaskan
pernyataannya dengan tegas.
"Hm?"
"Soalnya, Sensei memanggilku karena curiga padaku, kan!!
Memang benar, aku dan Eiji bermasalah karena pembicaraan perpisahan... Dan saat
itu, aku terlihat berjalan dengan Senpai Kondo yang sedang membantuku, lalu
Eiji salah paham."
Ketenangan yang ada sebelumnya langsung hancur. Cara dia terus berbicara
cepat tentang hal-hal yang bahkan tidak ditanyakan membuatnya terlihat sangat
berbeda dari wakil ketua kelas yang aku kenal di semester pertama.
"Jadi, Aono memegang lenganmu?"
"Iya. Eiji menjadi terguncang dan menarik lenganku dengan
kuat untuk memisahkan aku dan Senpai! Kami sudah membicarakan perpisahan sejak
beberapa waktu lalu... jadi itu..."
"Cerita ini berbeda jauh dari yang diceritakan Aono,
ya?"
"Itu... mungkin karena dia mencoba menutup-nutupi."
Hmm. Baiklah, kita dengarkan dulu seluruh pendapatnya.
"Jadi, kau tidak tahu apa-apa tentang postingan sosmed yang
menyebar, yang mengatakan bahwa Aono melakukan kekerasan padamu?"
Ekspresinya menunjukkan kilatan yang mencurigakan. Sepertinya
dia sudah mempersiapkan jawabannya.
"Aku pikir Kondo-senpai khawatir padaku dan mungkin
membicarakannya pada seseorang, lalu itu bocor. Dia bukan tipe yang menyebarkan
gosip untuk kesenangan. Lagipula, memang benar ada sedikit bekas karena tarikan
kuat itu."
Untuk sesaat, dia kembali menjadi siswa teladan seperti biasa.
"Ada satu hal yang membuatku penasaran, bolehkah aku
bertanya?"
"Iya."
Siswa teladan itu sedikit ragu sejenak sebelum menjawab.
Sepertinya dia tidak menyangka akan ditanya saat ini.
"Maaf, untuk memastikan kebenarannya, aku memeriksa
postingan sosmed yang menjadi masalah. Jika benar Aono melakukan kekerasan,
sekolah harus memberi sanksi pada Aono. Jadi, izinkan aku mengkonfirmasi satu
hal ini. Apakah, seperti yang dikatakan di sosmed, kau benar-benar mengalami
kekerasan dari Aono?"
Ini adalah taktik. Dengan menyebut hukuman untuk Aono, aku
mencoba menyentuh hati nuraninya. Dari bagaimana dia terguncang tadi dan
kesaksian mencurigakan dari keduanya sebelumnya, kemungkinan besar Aono adalah
korban di sini.
Ini adalah gertakan. Sebagai kartu truf terakhir, aku telah
memberitahu Aono untuk menyimpan catatan pesan sosmed-nya dengan Amada.
Sepertinya catatan itu masih ada. Karena ada masalah privasi
siswa, aku sebisa mungkin ingin menghindarinya, tetapi jika aku meminta Aono
menunjukkan catatan itu, mungkin akan segera terlihat siapa yang berbohong.
Ya, aku sudah melihat Aono dengan jujur menyimpan catatan
melalui fitur tangkapan layar di samping, jadi aku sudah tahu siapa yang
berbohong. Tidak ada orang yang sebodoh itu menyimpan catatan yang bisa
merugikan dirinya sendiri.
Di dalam Amada pasti ada perasaan bersalah karena telah berselingkuh
dan menuduh Aono secara tidak adil. Maka dari itu, aku mencoba mengguncangnya.
"Itu... Aku..."
Dia menunduk, ragu-ragu untuk berbicara.
"Ini penting."
Hal yang bisa menentukan masa depan seorang pemuda. Aku
menyampaikan nuansa itu dengan nada suara yang tegas sambil menatap matanya.
"Aku... tidak tahu. Aku juga terguncang saat itu."
Begitu rupanya.
"Baiklah. Sementara ini kita cukupkan dulu. Aku mungkin
akan bertanya lagi, jadi jika ada sesuatu yang teringat, jangan ragu untuk
memberitahuku segera. Jika ada yang ingin disampaikan, katakan saja
sekarang."
"...Tidak ada."
Amada berpikir sejenak, dan memilih jalan yang menyesatkan.
"Baiklah. Terima kasih. Sekarang kembalilah ke kelas."
Jujur saja, aku merasa sangat kecewa. Jika dia menceritakan
semuanya dengan jujur sekarang, mungkin ada pilihan lain.
Namun, tak ada jalan lain. Jika sudah begini, aku akan
menyelidikinya sampai tuntas, menelusuri kontradiksi dari Amada dan mengejar
dalangnya. Itu satu-satunya cara. Amada juga harus menerima konsekuensinya.
Dengan catatan sosmed dari Aono dan satu kartu truf lagi...
kemungkinan besar tidak akan ada jalan keluar. Namun, aku masih kekurangan
bukti yang pasti untuk menangkap dalang sebenarnya. Jadi, aku biarkan dia bebas
untuk sementara waktu.
Sungguh, aku kecewa padamu, Amada.
※
Dan akhirnya, orang terakhir yang akan diwawancarai tiba.
Kondo, siswa kelas tiga yang diduga menjadi dalang di balik
semua ini.
"Halo!"
Ia berkata dengan senyum polos. Dipanggil ke ruang bimbingan,
dan ia bersikap seperti ini. Dalam beberapa hal, dia mungkin seorang jenius.
"Maaf sudah menunggu. Apakah kamu sudah mendengar tentang
masalah ini?"
"Ya!! Sensei ingin mendengar tentang pria bernama Aono yang
melakukan kekerasan terhadap Miyuki, kan? Tentu saja."
Bahkan setelah sampai di sini, ia masih berbicara seolah-olah
Aono yang salah. Bakat sejati untuk melakukan sesuatu yang seharusnya tidak
dilakukan.
"Ya, Amada tampaknya terguncang dan tidak bisa menjelaskan
dengan baik tentang hari itu. Jadi, aku ingin mendengar dari Kondo, yang
seharusnya paling dekat saat itu."
"Benar sekali. Kalau seorang gadis biasa mendapat kekerasan
dari pacarnya, pasti akan begitu. Hari itu, Miyuki datang berkonsultasi padaku.
Dia ingin putus dengan pacarnya, tapi dia tidak mendapat izin. Pacarnya mulai
bersikap seperti penguntit dan membuatnya takut."
"Hmm."
Nada bicaranya sangat yakin, hingga orang bisa saja langsung
percaya jika tidak ada bukti yang kuat.
"Lalu, saat kami sedang berjalan bersama secara kebetulan,
dia melihat kami, dan mungkin berpikir Miyuki selingkuh. Dia marah dengan hebat
dan menarik tangan Miyuki dengan paksa. Padahal Miyuki sudah berusaha menolak
dengan keras dan berkata sakit. Aku pun masuk untuk memisahkan mereka berdua.
Kalau tidak, itu bisa berbahaya, aku tak tahu apa yang akan dilakukannya."
Ia berbohong seolah-olah sedang bernapas.
"Aono bilang bahwa ia dipukul olehmu."
"Itu pasti delusi si penguntit. Dia memegang lengan Miyuki
terlalu erat, jadi aku hanya mencoba mencegahnya agar tidak terluka. Justru,
dia yang memulai kekerasan lebih dulu."
"Hmm."
Kali ini, fokus utamanya hanya bertemu muka dan mendengar
pernyataan pihak lawan. Aku masih harus bersabar.
"Apakah sensei puas?"
"Lalu, satu hal lagi. Kenapa kamu memposting kejadian itu
di media sosial?"
"Oh~ Tentu saja Bapak berpikir begitu. Tapi itu bukan
akunku. Aku hanya meminta bantuan anggota klub untuk melindungi Miyuki dari
penguntit. Kesalahanki adalah mengirimkan foto Miyuki yang terluka kepada
mereka. Lalu, seseorang mungkin merasa marah dan menyebarkannya dengan akun
palsu."
Itu skenario yang kamu buat, ya. Kamu lebih cocok menjadi penipu
daripada pemain sepak bola.
"Jadi, kamu tidak tahu siapa yang melakukannya?"
"Aku benar-benar tidak tahu. Tapi aku punya permintaan pada
Bapak. Sekarang, klub sepak bola sedang dalam masa penting karena ada
pertandingan besar. Orang yang menyebarkannya mungkin tidak berniat buruk.
Mungkin mereka melakukannya demi Miyuki. Jadi, kalau bisa, tolong selesaikan
masalah ini secara damai."
Dia hanya peduli pada citranya. Cocok untuk jadi politikus atau
entah apa.
"Itu tidak bisa dijanjikan, tapi aku akan melakukan sebisa
mungkin."
Aku sengaja menjaga jarak agar tidak terjebak oleh permainan
penipunya.
"Terima kasih. Ternyata, Bapak benar-benar memahami saya.
Aku sempat khawatir jika Bapak malah membela penguntit itu. Dia adalah aib
sekolah ini."
Sebetulnya, menerima siswa dengan kepribadian seperti dia adalah
aib terbesar sekolah ini. Aku hampir saja meluapkan kemarahanku, namun berhasil
menahan diri.
Jika aku menunjukkan permusuhan sekarang, dia pasti akan
berusaha menghalangi penyelidikan. Menghadapkan pria jahat seperti dia pada
kesadarannya di ujung kehancurannya adalah yang terbaik.
"Satu lagi. Jika benar Aono melakukan kekerasan pada Amada,
sekolah mungkin harus mengambil tindakan. Kami mungkin harus meminta bantuan
polisi. Jadi, aku ingin dengar baik-baik, kamu yakin benar-benar melihat
kejadian itu?"
Jika dia punya sedikit hati nurani, mungkin pertanyaan ini akan
membuatnya berpikir. Tapi, jawabannya seperti yang kuduga.
"Aku benar-benar melihatnya. Tapi, aku rasa Miyuki tidak
ingin masalah ini dibesar-besarkan."
Kata-katanya membuatku menyipitkan mata.
"Kenapa begitu?"
"Karena semakin besar masalahnya, semakin buruk reputasi
Miyuki, dan ia harus mengingat kembali kejadian menakutkan itu. Itu
menyedihkan, kan? Jadi, dia pun menutup-nutupinya pada Bapak."
Secara logika, itu memang bisa diterima, namun…
Ketika aku menyebut polisi, Kondo menunjukkan wajah yang sedikit
kesal. Tampaknya, jika polisi terlibat, dia akan merasa terganggu. Itu berarti
ada sesuatu yang tak ingin dia ketahui dalam penyelidikan.
Aku hanya secara tidak langsung mengatakan bahwa Amada
terguncang dan tidak bisa menjelaskan dengan baik, namun Kondo berbicara seolah
dia tahu semuanya dan berkata "Amada menutup-nutupinya." Dia baru
saja menunjukkan celah.
"Begitu, ya."
Aku menjawab dengan berbagai makna.
"Kalau begitu, aku boleh pergi, kan? Aku baru saja diundang
untuk ikut latihan di klub sepak bola universitas di Tokyo. Aku harus pergi
segera."
"Oh, maaf sudah mengganggumu."
Kondo keluar dari ruangan dengan langkah ringan. Memang,
kepintaran dan kemampuan berbicaranya lebih unggul dari teman-teman sebayanya.
Namun, dia tetaplah siswa SMA. Sebagai seorang guru, aku merasa
kasihan padanya sejenak, namun sebagai manusia, aku langsung merasa jijik.
Aku menatap kursi tempatnya duduk tadi dengan pandangan penuh
hinaan.
"Lanjutkan saja, di jalan yang akan membawamu ke
neraka."
──Dari sudut pandang Kondo──
"Hah, mudah sekali. Sudah selesai? Guru itu memang mudah
dikendalikan!"
Tawanya tak terhentikan.
Previous Chapter | Next Chapter
Tidak ada komentar:
Posting Komentar