Chapter
1 - Terungkapnya Perselingkuhan dan Bullying
"Haah."
Aku adalah Eiji Aono, siswa kelas dua SMA yang biasa.
Sambil minum es teh, aku menatap televisi yang menyiarkan
laporan tentang kecelakaan di terowongan yang terjadi beberapa tahun lalu.
Merasa suasana hatiku mulai muram, aku mematikan televisi. Sepertinya
aku bosan, lebih baik keluar. Ibuku dan kakakku sibuk dengan pekerjaan, jadi
aku keluar rumah tanpa memberitahu siapa pun.
Suara jangkrik terus terdengar tanpa henti. Panas yang terik
membuat keringatku tak berhenti mengalir.
"Hari ini seharusnya kencan ulang tahun yang spesial."
Hari ini adalah 30 Agustus. Liburan musim panas hampir berakhir.
Aku menyatakan perasaanku kepada teman masa kecilku, Miyuki Amada, pada malam
Natal tahun lalu, dan akhirnya kami menjadi sepasang kekasih. Kami memiliki
hubungan yang sudah lama, bahkan sejak SD. Awalnya, aku malu dan menyebutnya
sebagai hubungan yang tidak terlalu berarti, tetapi aku selalu mengaguminya.
Kalau bukan karena kami sudah dekat sejak kecil, aku mungkin bahkan tidak bisa
berbicara dengannya, apalagi menjadi pacarnya. Meski begitu, sudah setengah
tahun sejak kami jadian, aku bahkan belum pernah menciumnya.
Aku ingin segera membawa hubungan ini ke level berikutnya.
Dengan perasaan itu, aku sangat bersemangat untuk kencan ulang tahunku hari
ini.
Namun, di pagi hari sebelum pertemuan kami, tiba-tiba ada pesan
dari dia, "Maaf, Eiji. Aku harus menyelesaikan urusan penting di
klub." Dengan begitu, dia membatalkan kencan ulang tahun pertama kami
sejak menjadi pasangan.
Jujur saja, aku sangat kecewa. Tanpa berpikir, aku naik kereta
dan pergi ke kota tempat kantor prefektur yang cukup jauh.
Menjelajahi rute yang sudah kurencanakan, seperti menonton film
dan bermain di game center, sendirian terasa sangat menyedihkan.
"Seperti orang bodoh, ya, aku."
Merasa tak ada gunanya berjalan-jalan tanpa tujuan, aku
memutuskan untuk pulang. Mungkin aku bisa merayakan ulang tahun di tempat ramen
di stasiun yang cukup terkenal.
Dengan perasaan seperti pria lajang paruh baya yang diliputi
kesedihan, aku mulai berjalan kembali ke stasiun. Ada area hiburan malam di
pinggiran kota ini. Entah bagaimana, tanpa sadar aku berjalan ke arah itu.
Siapa tahu ini bisa menjadi tempat spesial untuk diingat.
Aku merasa sangat malu pada diriku sendiri. Sambil berpikir
begitu, aku menatap ke gedung yang ada di kejauhan, lalu mulai berlari ke
arahnya. Sambil berlari, aku mengeluarkan suara yang aneh.
"Eh?"
Di sana terlihat seseorang yang seharusnya tidak ada di sini.
Apakah karena terlalu ingin bertemu dengannya, aku sampai berhalusinasi?
Kupikir begitu, namun ketika kuusap mataku, sosok itu tetap ada.
Aku melihat sesuatu yang seharusnya tidak kulihat. Di dalam
pikiranku, aku mencoba untuk menolaknya. Semakin aku menyangkal, semakin kuat
kenyataan ini menghantamku dengan rasa putus asa.
Rambut hitam panjang yang sudah biasa kulihat, tubuhnya yang
ramping seperti model, gaun favoritnya. Namun, kali ini, riasannya lebih tebal
dari biasanya. Sepertinya dia sangat bersemangat, lebih dari biasanya.
"Ah!"
Miyuki menyadari kehadiranku dan seketika terdiam. Pria yang
berjalan di sampingnya menunjukkan ekspresi aneh, tetapi begitu menyadari arah
pandangan Miyuki, dia tertawa terbahak-bahak.
"Kenapa kamu ada di sini?"
Dengan serempak, aku dan teman masa kecilku menunjukkan reaksi
yang sama. Pria di sampingnya adalah Kondo-senpai, kapten tim sepak bola. Dia
terkenal sebagai pria tampan yang disukai banyak gadis. Tapi kenapa dia
terlihat lebih dekat dengan pacarku daripada aku? Dan itu pada hari ulang
tahunku!
"Miyuki!"
Tanpa sadar, aku memegang lengan kirinya. Aku mendengar dia
mengeluh kesakitan, dan segera kulepaskan tanganku. Aku terlalu keras
memegangnya.
"Maaf..."
Ketika aku hendak meminta maaf, aku merasakan pukulan kuat di
pipi kiriku. Tubuhku terlempar ke belakang, dan aku baru sadar bahwa aku
dipukul.
"Dasar laki-laki kasar! Apa yang kau lakukan pada
wanitaku!"
Kata-kata penuh amarah itu menarik perhatian orang di sekitar.
"Apa maksudmu... yang selingkuh itu..."
Sambil menahan sakit yang luar biasa, aku menatapnya dengan
penuh kebencian.
"Hah? Kau ini siapa? Stalker-nya Miyuki?"
Apa yang dikatakan pria sok keren ini?
"Hei, Miyuki.
Kau juga bilang sesuatu kepadanya. Saat kau tidur di sampingku, kau selalu
mengeluh tentang dia, bukan? Kau bilang kalau kau hanya berpacaran dengannya
karena dia teman masa kecil, tapi sebenarnya dia membosankan, dan kau bahkan
merasa jijik saat dia menggenggam tanganmu karena keringatnya."
(TLN:No way, NTR)
Aku mendengar suara hatiku hancur berkeping-keping. Kumohon,
tolong katakan kalau itu tidak benar.
Aku memandang wajah pacar sekaligus teman masa kecilku dengan
penuh harapan. Wajahnya pucat dan tampak gemetar.
"Miyuki, bagaimana? Kalau kau lebih suka dia, ya sudah,
lakukan sesukamu. Kita bisa mengakhiri ini di sini. Kau mau putus denganku atau
dengannya? Pilih salah satu."
Rasanya seperti sedang berada di pengadilan, menunggu keputusan
hakim. Dia memegang lengan pria yang berselingkuh dengannya dengan harap-harap
cemas.
"Tolong, jangan tinggalkan aku. Jika kau meninggalkanku,
aku tidak akan bisa hidup."
Dunia di depanku terasa kosong.
"Kalau begitu, siapa dia? Katakan dengan jelas dan
lantang."
Rasanya seperti seluruh harapan telah lenyap, dan hatiku mati.
"Eiji adalah teman masa kecil, tapi... dia lelaki yang
menjijikkan, seperti stalker, dan pacar yang kasar."
"Mi... yu... ki?"
Dengan suara lirih, aku memanggilnya. Sepuluh tahun bersama ternyata
hanya seperti ini. Aku hanyalah...
"Ayo, katakan padanya. Biar dia dengar, si penguntit yang
salah paham ini."
Didorong oleh Kondo-senpai, Miyuki memberiku hadiah ulang tahun
terburuk.
"Maaf, Eiji. Aku tidak bisa bersamamu lagi. Jangan ajak bicara
aku di sekolah."
Dengan itu, hubungan kami berakhir.
──31 Agustus──
Kemarin aku hanya bisa meringkuk di tempat tidur karena terlalu
terpukul. Aku tak makan apa-apa, hanya berbaring di bawah selimut sambil
menunggu waktu berlalu, seperti mayat hidup. Ulang tahun yang menyedihkan itu
berakhir, dan aku menutup diri di kamar, menyembunyikan pipiku yang lebam dari
ibuku. Ayah sudah meninggal tiga tahun lalu karena sakit. Sekarang, aku tinggal
bersama ibu dan kakakku. Mereka berdua mengelola restoran "Dapur
Aono" yang ditinggalkan ayah, jadi mereka sibuk bekerja dan pulang larut.
Untungnya, mereka tak menyadari keadaanku.
Kemarin, aku memberi tahu mereka bahwa aku merasa tidak enak
badan dan hanya ingin tidur. Aku mengunci pintu kamarku dan mengirim pesan ke
ibu dan kakakku.
Ibu yang khawatir, pulang dari kerja dan memanggilku dari luar
kamar. Meskipun merasa bersalah, aku berbohong dengan mengatakan, "Mungkin
aku terkena flu musim panas. Tidak apa-apa, aku akan tidur hari ini."
Mereka meninggalkan bubur, puding, dan minuman isotonik di depan
pintu kamarku.
Aku makan sedikit dan langsung tidur, mengabaikan semua
segalanya, dan masa libur musim panas di tahun keduaku di SMA berakhir.
Dihantui rasa kekosongan yang tak tertahankan, aku dilanda mimpi buruk.
※
Berkali-kali aku melihat mimpi buruk. Dalam mimpiku, aku melihat
Miyuki dan Kondo-senpai berpelukan tanpa pakaian dan saling mencium di hotel,
sementara aku hanya bisa menonton dari layar monitor.
"Benar-benar menjijikkan, Eiji itu. Dia salah paham hanya
karena aku bersikap baik padanya sebagai teman masa kecil, sampai-sampai berani
menyatakan cinta."
"Lupakan pria menjijikkan itu. Sekarang, pandang hanya
aku."
"Ya!"
Meskipun sudah bersama sepuluh tahun sebagai teman masa kecil,
aku bahkan tak bisa menyentuhnya. Kondo-senpai memaksanya mengatakan keburukan
tentang diriku berkali-kali, menikmati penghinaan terhadapku.
Meskipun hanya mimpi, rasa mualku tak kunjung hilang. Martabatku
sebagai manusia dihancurkan, dan hatiku hancur berkeping-keping.
Kumohon, hentikan semua ini. Tolong.
Aku tahu apa yang dilakukan sepasang kekasih di distrik hiburan
malam itu. Bahkan aku, yang bodoh, tahu betul. Aku disingkirkan di hari ulang
tahunku hanya karena dia lebih mengutamakan senpai.
Sebagai pria, aku tidak punya nilai apa-apa.
※
Aku terbangun dari mimpi buruk, berkeringat deras. Detak
jantungku sangat cepat. Sekarang, bahkan tidur pun terasa menakutkan.
──1 September──
Dengan perasaan yang tak tertahankan, aku memulai semester baru.
Dengan susah payah, aku mengenakan seragam dan pergi ke sekolah. Dunia tampak
kehilangan warnanya. Jalan menanjak menuju sekolah terasa seperti siksaan.
"Itu kan dia."
"Iya, benar."
"Benar-benar menjijikkan."
Di depan sekolah, aku mendapat perhatian dari murid-murid yang
tidak aku kenal. Dari seragamnya, sepertinya mereka teman seangkatan. Kenapa
mereka memperhatikanku? Dan kenapa aku dipanggil "menjijikkan" oleh
mereka yang tak kukenal?
Kucoba untuk tidak peduli dan bergegas menuju kelasku.
"Selamat pagi."
Seperti biasa, aku menyapa, dan teman-temanku membalas sapaan
itu. Syukurlah, di sini semuanya masih normal.
Mereka sibuk membicarakan kenangan liburan musim panas.
"Eiji, gimana? Ada perkembangan sama Amada-san?"
Aku mengelak dengan menjawab seadanya.
Hanya mendengar nama Miyuki membuat hatiku perih. Di barisan
paling depan, Miyuki duduk sambil berbicara dengan teman-teman sekelasnya
dengan senyum yang sama seperti sebelum liburan. Tapi, terlihat sedikit ada
kesedihan di matanya.
※
Saat istirahat makan siang. Isi upacara pembukaan dan home room
hari ini tidak benar-benar masuk ke dalam pikiranku.
Wali kelas kami, Pak Takayanagi, tampaknya akan cuti untuk
sementara karena turnamen klub yang dia bimbing. Aku ingat, Satoshi juga
mengatakan hal yang mirip.
Aku ingin berkonsultasi dengan Satoshi, tetapi aku tidak ingin
memberi dampak buruk pada klubnya. Jadi, aku menahan diri untuk tidak
mengiriminya pesan di Line.
Aku melihat Miyuki, yang baru saja selesai makan siang, berjalan
keluar ke koridor sendirian.
Entah kenapa, aku mengikutinya. Rasanya terlalu menyedihkan jika
hubungan sepuluh tahun kami berakhir begitu saja. Jadi, setidaknya, aku ingin
mendengar alasannya.
"Miyuki!"
Aku memanggilnya dengan suara seperti biasanya, sejauh yang
kubisa. Dia menoleh dengan ekspresi terkejut, kemudian wajahnya berubah sedikit
sedih.
"Eiji? Kenapa kau..."
Meskipun bingung, dia berusaha menghadapku.
"A... aku hanya ingin..."
Aku perlahan mengulurkan tangan padanya. Namun, tangan yang
kuulurkan dihentikan oleh seseorang yang bukan kami. Ritsu Murata, sahabat
Miyuki, berdiri menghalangi kami.
"Jangan lagi mendekati Miyuki. Dasar laki-laki kasar!"
"Apa!?"
Kenapa aku harus mendengar kata-kata seperti itu dari Murata?
"Ayo pergi, Miyuki. Aku tidak akan memaafkanmu jika kau
terus mengikuti Miyuki."
Dengan ditarik oleh Murata, Miyuki menghilang entah ke mana.
"Miyuki, kau harus benar-benar mengabaikan orang seperti
itu, tahu."
"I... iya."
Melihat mereka berdua pergi seolah-olah melarikan diri, aku
sadar bahwa aku tidak akan bisa berbicara dengan Miyuki lagi, dan perasaan
putus asa menyelimuti diriku.
※
Dengan susah payah, aku menyelesaikan waktu sekolah dan kembali
bersembunyi di kamarku.
Tanpa berpikir apa-apa, aku masuk ke bawah selimut dan hanya
bisa gemetar. Berkali-kali perasaan putus asa menyerangku.
Kenapa aku dikatakan menguntit Miyuki? Aku tidak pernah
bertindak kasar padanya.
Apakah aku melakukan sesuatu yang salah? Aku hanya ingin
merayakan ulang tahunku dengan pacarku.
Ponselku berbunyi.
Mungkinkah itu Miyuki?
Dengan harapan samar, aku segera melihat layar ponsel.
Akun X yang tidak dikenal. Namanya hanya deretan huruf acak...
akun palsu? Aku membukanya meskipun merasa curiga.
"Matilah kau, menjijikkan," hanya pesan singkat itu.
Mungkin hanya lelucon. Dengan firasat buruk, aku menghapus
pesannya. Namun, sepuluh menit kemudian, pesan DM lain datang dari akun yang
berbeda.
"Dasar laki-laki kasar. Jangan pernah datang ke sekolah
lagi."
Aku merinding. Pesan itu mengingatkanku pada kata-kata Miyuki
dan Murata. Ketakutan membuatku melempar ponsel. Namun, beberapa menit
kemudian, DM yang mengganggu terus datang tanpa henti.
"Dasar laki-laki kasar yang memukul pacar setelah
diputuskan,"
"Orang kasar, berhenti dari sekolah,"
"Stalker, menjijikkan."
Semua kebencian itu tertuju padaku. Bukan hanya satu orang,
tetapi beberapa orang yang mengirim pesan ini. Rasa takut semakin bertambah.
Rasanya seperti sedikit demi sedikit aku kehilangan tempat di dunia ini... Aku
jadi semakin takut untuk tidur.
※
Tanggal 2 September
Akhirnya, aku pergi ke sekolah tanpa tidur semalaman. Aku merasa
sangat pusing. Tatapan siswa lain terasa menakutkan. Rasanya selalu diawasi.
Aku merasa curiga pada siapa pun, tidak tahu siapa yang menjadi musuhku saat aku
berjalan menuju sekolah.
Aku berhenti di depan pintu kelas. Pintu yang seharusnya ada di
depanku terasa seperti berada di kejauhan. Aku takut untuk membukanya.
Setidaknya, andai kelas saja... tidak, setidaknya, andai ada satu orang saja
yang mendukungku...
Aku memberanikan diri membuka pintu kelas. Harapanku langsung
hancur.
"Hm, kemarin..."
"Cih."
Saat aku membuka pintu, Aida dan lainnya berhenti berbicara dan
berdecak kesal.
"Selamat pagi."
Aku berusaha mengucapkannya, tapi suaraku terdengar lemah. Tidak
ada yang merespons salamku. Malahan, mereka menatapku dengan dingin, seolah
melihat sampah.
"Kenapa dia masih datang ke sekolah?"
"Segera saja berhenti dari sekolah."
"Belajar bersama penguntit kasar seperti ini sungguh tidak
menyenangkan."
"Pasti akan segera dikeluarkan."
Bisikan yang disengaja, supaya aku bisa mendengarnya, terus
terdengar. Miyuki belum datang ke sekolah.
"Apa-apaan ini... aku tidak melakukan apa pun."
Saat aku bergumam, Murata menampar mejaku.
"Diam! Kau ini penguntit! Miyuki tidak mungkin berbohong.
Bahkan kakak kelas dari klub sepak bola juga melihatnya. Semua orang tahu siapa
yang harus dipercaya antara dua siswa terkenal dengan seorang penjahat
sepertimu."
Aku tidak ingin mendengarnya lagi. Kenapa semua ini bisa
terjadi? Aku hanya bisa menundukkan kepala di atas meja, mencoba untuk
mengisolasi diri dari dunia luar. Tapi kata-kata menyakitkan yang terus
terdengar mulai menghancurkan hatiku.
※
Saat istirahat siang, aku makan sendirian di taman sekolah,
seolah-olah melarikan diri dari kelas. Meskipun hari ini isinya bekal hamburger
kesukaanku, hari ini rasanya hambar. Meski lelah, aku tak bisa tidur.
Saat aku kembali ke kelas, ternyata tak ada seorang pun. Kenapa?
Bukankah pelajaran pertama setelah istirahat siang seharusnya sejarah dunia?
Mungkin jadwalnya diganti. Tak ada seorang pun yang memberitahuku.
Dengan rasa malu dan perasaan tersisih, aku menahan tangis. Aku
hanya membawa buku catatan dan mencari ruang kelas pengganti. Ruang kelas
ekonomi, ruang biologi, semuanya salah. Pelajaran sudah dimulai, dan aku
semakin cemas.
Saat melewati ruang kimia, aku bertemu mata dengan Murata.
Ternyata sejarah dunia diganti dengan kimia. Dia menunjukkan wajah tidak senang
dan berpaling dariku.
"Maaf, saya terlambat."
Aku berkata sambil memasuki ruang kimia, merasakan tatapan
dingin. Guru kimia, Pak Yahagi, yang sudah berpengalaman, bertanya dengan nada
khawatir, "Ada apa? Kau merasa tidak enak badan?"
"Iya, saya tidak enak badan dan istirahat sebentar."
"Baiklah. Jangan memaksakan diri, ya. Jika ada yang terjadi
selama pelajaran, katakan saja."
Mendengar itu, hatiku terasa sedikit lega, tapi tentu saja, aku
tidak siap mengikuti pelajaran kimia. Aku tidak membawa buku teks, dan tak ada
seorang pun yang mau meminjamkannya.
Tak ada lagi yang berpihak padaku di kelas. Dukungan yang
sedikit kudapatkan dari Pak Yahagi hanya memberikan sedikit kelegaan, yang
segera menghilang dalam kegelapan.
※
Tanggal 3 September
Akhirnya, aku sepenuhnya terisolasi di kelas. Tak ada lagi yang
bisa kuandalkan di sana. Mungkin, kalau di klub sastra... mereka masih mau
menerimaku. Dengan harapan samar, aku mencoba bertahan. Namun, di siang hari,
ketua klub memberi kabar bahwa kegiatan klub hari ini dibatalkan mendadak.
Walau sudah diberitahu klub libur, aku tetap pergi ke ruang
klub, berharap ada seseorang di sana. Namun, aku hanya mendapati diriku
terpuruk dalam keputusasaan.
Lampu di ruang klub menyala. Kupikir ada seseorang, jadi aku
masuk dengan harapan untuk mencari perlindungan. Namun, dari balik pintu, aku
mendengar suara Ketua Klub Tachibana dan yang lainnya.
※
"Hei, Ketua? Kau sudah memberitahunya?"
"Iya, aku mengirim pesan saat istirahat siang."
"Memang takut bertemu dengannya, ya?"
"Iya, agak ngeri."
"Kalau begitu, bagaimana dengan naskah yang dia tulis?
Untuk buku klub yang akan dijual di festival budaya..."
"Buang saja. Aku tidak mau nama klub tercemar."
"Benar juga, jadi lucu."
"Mau bagaimana lagi."
"Orang seperti itu menulis naskah meski tidak berbakat sama
sekali. Sangat menyedihkan."
※
Kata-kata yang sama sekali tidak ingin aku dengar merobek
hatiku. Selain itu, di depan ruang klub, ada naskah novel yang kutulis tahun
lalu yang sudah robek dan dimasukkan ke dalam kantong sampah.
Kepalaku menjadi kosong. Semua usahaku selama ini telah ditolak.
Sahabat kecilku yang sudah bersama selama sepuluh tahun juga mengkhianatiku.
Teman sekelas yang kemarin berinteraksi denganku secara normal, serta anggota
klub sastra yang kuanggap sebagai teman selama dua tahun terakhir, ternyata
bukanlah teman.
Sekarang, aku tidak punya siapa pun di pihakku.
Sebagai harapan terakhir, aku mengirim pesan kepada Satoshi,
sahabat kecilku yang lain, dengan berkata, "Aku butuh konsultasi."
Pesan kepada sahabatku yang seharusnya sedang pergi untuk pertandingan klub
bahkan tidak terbaca.
"Ya, guru mungkin bisa membantu."
Guru wali kelasku, Takanaga-sensei, sedang dalam perjalanan
tugas untuk klub, tetapi ada guru wali kelas pengganti, Ayase-sensei. Dia
adalah guru baru berusia dua puluhan, sehingga lebih mudah untuk berkonsultasi
karena usianya tidak terlalu jauh dariku. Guru seharusnya ada di ruang kelas
pada saat ini.
Ketika kembali ke ruang kelas, aku menyadari sesuatu sebelum
membuka pintu. Di dalam, ada Ayase-sensei, Miyuki, dan Murata-san. Tanpa masuk
ke ruang kelas, aku bersembunyi dan mengintip ke dalam.
"Guru, sepertinya akhir-akhir ini Miyuki sedang galau.
Tolong dengarkan keluhannya nanti."
"Iya, tentu. Tapi, jarang sekali Amada-san punya masalah.
Mungkin dia mengalami kesulitan karena terlalu baik?"
Percakapan itu hanya berlangsung antara guru dan Murata-san,
sementara Miyuki tersenyum dengan sedikit kesulitan.
"Ya, mungkin seperti itu."
"Haha, baiklah. Aku akan selalu mendukungmu. Tidak banyak
siswa yang sebaik kamu. Aku pasti akan ada di pihakmu."
Kata-kata itu menusukku. Memang benar, jika aku berkonsultasi
dengan guru, apakah mereka benar-benar akan percaya padaku? Dibandingkan
Miyuki, aku hanya orang biasa. Terutama, Miyuki adalah siswa teladan yang
sempurna di mata guru-guru, jadi mereka mungkin tidak akan percaya pada apa
yang aku katakan. Bukankah guru tadi berkata bahwa dia akan selalu ada di pihak
Miyuki? Mungkin, aku yang salah. Meskipun aku yakin ini hanya fitnah, ada
diriku yang mulai meragukan diri sendiri.
Teman sekelas dan anggota klub tidak mau mendengarkan
pendapatku.
Aku melarikan diri. Itu satu-satunya hal yang bisa kulakukan.
Tapi, sekolah ini bahkan tidak mengizinkanku untuk melarikan diri.
Sepatu di lokerku hilang. Selain itu, ada coretan-coretan tebal
dengan spidol merah yang memenuhi lokerku, dengan kata-kata "Mati",
"Pria pelaku kekerasan", "Stalker yang menjijikkan",
"Cepat keluar dari sekolah". Ada juga selebaran dari restoran Kitchen
Aono. Di belakang selebaran, terdapat surat ancaman bertuliskan, "Jika
kamu mengadukan ini, kami akan datang ke restoranmu."
Aku menyadari bahwa tidak ada tempat untukku di sekolah ini.
Sepatuku ternyata berada di tempat sampah terdekat. Dengan menangis, aku
mengambilnya dan lari pulang ke rumah.
※
Segera setelah pulang, aku mampir ke restoran Aono.
"Oh, selamat datang. Hari ini tidak ada klub, ya?"
Ibu dan kakakku yang sedang istirahat sebelum persiapan malam
terlihat sedikit lelah.
"Iya, klub tiba-tiba libur."
"Oh begitu. Akhir-akhir ini kelihatannya kamu kurang sehat,
jadi istirahatlah dengan tenang hari ini."
Suara lembut ibu membuatku hampir menangis.
"Terima kasih. Maaf sudah membuat ibu dan kakak khawatir,
meskipun kalian juga kelelahan."
Mereka tertawa saat aku berkata begitu.
"Anak tidak perlu khawatirkan orang tua."
Sejak ayah meninggal, ibu selalu tersenyum tanpa menunjukkan air
mata, agar kami tidak khawatir.
"Benar juga, kau hanya perlu menikmati sekolah. Impianku
adalah mendukungmu sampai lulus dari universitas."
Kakakku tersenyum canggung. Sejak ayah meninggal, dia
menggantikan peran ayah, menghabiskan masa mudanya demi keluarga dan toko tanpa
pernah mengeluh ingin bersenang-senang, dengan keras menjaga rasa dan cita rasa
ayah.
Aku tidak ingin membuat mereka semakin khawatir. Mungkin mereka
semua akan bosan menggangguku nanti. Sampai saat itu, aku hanya perlu bertahan.
Dengan begitu, tidak ada yang akan menjadi tidak bahagia.
"Iya, aku akan berusaha."
Aku tersenyum dengan paksa.
── Perspektif Miyuki ──
Sejak hari itu, aku tidak bisa tidur. Dia, sahabat kecilku yang
penting, melihatku di tempat aku berselingkuh. Mengapa ini bisa terjadi? Aku
seharusnya paling menghargai dirinya.
Sudah beberapa hari sejak kami berpisah. Di waktu hampir subuh,
aku akhirnya kehilangan kesadaran, lalu segera terbangun. Sejak hari itu, aku
terus merasa seperti itu.
Mungkin kejadian hari itu hanya mimpi buruk. Aku berharap saat
aku bangun, aku bisa kembali ke kehidupan normal. Begitulah harapanku.
Namun, gosip yang disebarkan Kondo-senpai menyebar ke seluruh
sekolah, memaksaku menghadapi kenyataan pahit. Aku tidak ingin berpisah. Kalau
saja Kondo-senpai tidak ada di sekolah yang sama, aku pasti sudah menangis
memohon padanya.
Melihat bullying yang dialami Eiji membuatku hampir menangis.
Tidak, aku tidak boleh menangis.
Awalnya hanya cerita biasa. Ketika aku berkata kepada
teman-temanku, "Hubunganku dengan Eiji tidak terlalu berkembang, tapi aku
senang bisa bersama dia," mereka mengira itu adalah masalahku. Lalu, suatu
hari aku dipanggil dan diperkenalkan dengan Kondo-senpai yang katanya
berpengalaman dalam cinta.
Meskipun aku menolak dengan mengatakan, "Aku tidak punya
masalah sebesar itu," mereka berkata, "Ayolah, Kondo-senpai sudah mau
mendengar ceritamu.
Dia adalah ace di tim sepak bola dan hampir pasti mendapat
rekomendasi universitas. Jarang bisa berbicara dengannya. Jadi, aku setuju
untuk sekadar ngobrol.
Dia sangat lembut dan sopan. Dia memiliki pandangan dewasa yang
berbeda dari kami yang mengembangkan cinta pertama, dan aku merasa tertarik.
※
"Miyuki-chan yang manis seperti ini, tidak mungkin tidak
menarik bagi seorang pria."
"Aku pasti akan langsung mendekatimu. Eh, itu bercanda,
bercanda."
"Mau minum apa lagi? Aku yang bawakan."
"Kamu benar-benar wanita yang menarik. Mungkin sahabat
kecilmu hanya merasa minder."
※
Diperlakukan seperti seorang putri dan diperlakukan dengan
perhatian, membuatku menurunkan kewaspadaan.
Kami bertukar nomor Line, sering berbagi cerita cinta, dan dia
menemaniku berbelanja untuk memilih baju kencan. Dia tetap sopan dan sering
memujiku, meningkatkan rasa percaya diriku.
Cerita cinta dan belanja untuk kencan perlahan menjadi alasan
semu. Bukan lagi untuk Eiji, tetapi untukku dan dia. Itu hampir seperti kencan.
Setelah kencan ketiga. Di tepi sungai saat matahari terbenam,
tiba-tiba dia menciumku. Tubuh dan hatiku hampir direnggut olehnya, dan aku
menerimanya tanpa banyak perlawanan. Keinginannya pun.
Tidak lama, semua yang seharusnya aku simpan untuk Eiji telah
direnggut oleh Kondo-senpai.
Rasa bersalah terhadapnya memang ada di hatiku.
Namun...
"Pria yang tidak mendekati Miyuki yang cantik, itu
salahnya."
"Bukan salahmu, Miyuki. Justru pacarmu yang gagal sebagai
laki-laki."
Dia terus memberiku jalan keluar dari rasa bersalah. Aku semakin
tenggelam dalam rasa bersalah, tapi juga menikmati pertemuan dengan Kondo-san
yang melipur hatiku. Aku tahu aku hanya boneka yang mudah dibodohi.
Meski aku menyadarinya, aku tetap bergantung padanya tanpa bisa
melakukan apa pun.
※
"Hei, tanggal 30, klub libur, mau jalan-jalan?"
"Tapi, hari itu hari ulang tahun Eiji..."
"Ya sudah, aku ajak cewek lain."
"Hah..."
"Karena begitulah. Aku tahu kau selalu lebih memilih Eiji.
Mengejar terus juga melelahkan. Aku tahu ini bukan urusanku, tapi mari kita
akhiri hubungan tak sehat ini. Itu akan lebih baik bagi kita berdua."
※
Aku teringat pesan ancaman itu. Hari ketika aku membatalkan
janji ulang tahun dengan Eiji...
Pesan yang menjadi jalan menuju kehancuran...
Dan aku memilih Kondo-senpai, bukan Eiji.
Eiji baik, dia pasti memaafkanku jika aku meminta maaf.
Namun, aku takut ini kesempatan terakhirku bersama Kondo-senpai.
Terpikat ketakutan itu, aku membuat pilihan terburuk. Aku benar-benar
bergantung pada Eiji.
Teman masa kecilku. Orang yang selalu bersamaku selama lebih
dari sepuluh tahun. Mungkin aku akan menikah dengannya dan menghabiskan sisa
hidup bersamanya.
Aku yakin akan hal itu. Itu adalah hal yang sangat
membahagiakan, namun sebagai seorang perempuan, aku membisikkan sesuatu pada
diriku sendiri.
"Apa yang akan terjadi jika Senpai menghilang? Aku hanya
akan mengenal Eiji sebagai satu-satunya pria dalam hidupku, kau tahu? Apakah
itu benar-benar baik?"
Keinginan dan kebanggaan sebagai seorang wanita. Itu yang
membuat Eiji menderita. Dan, sikap egois dangkalku telah mendorongnya lebih
jauh ke dalam jurang keputusasaan.
Aku memutuskan, seharusnya aku mengaku saja. Ada diriku yang
lain yang mengatakan, aku harus mengakui bahwa bukan hanya Eiji yang bersalah
karena berbohong, tetapi akulah yang telah berselingkuh.
Namun, aku tidak bisa melakukannya, dan aku yang pengecut.
Ketika masalah ini menjadi begitu besar, tidak ada jalan kembali lagi. Semua
yang telah kubangun sejauh ini, semuanya akan hilang. Karena ketakutan itu, aku
tidak bisa melakukan apa pun. Yang bisa kulakukan hanyalah melihat semuanya.
Penyesalan yang tak akan pernah hilang akan terus menguasai
hatiku.
Previous Chapter | Next Chapter

Tidak ada komentar:
Posting Komentar