Chapter 2 - Hari Takdir, di
Atas Atap
Seperti biasa, ada sampah yang dibuang ke dalam loker sepatuku.
Sampah bekas bekal dari toko serba ada dan botol minuman yang belum habis,
dengan kata-kata kasar yang ditulis dengan tinta merah. Sepatuku, seperti yang
sudah kuduga, dibuang ke tempat sampah.
Aku mengambilnya, berjalan menuju kelas dengan tatapan aneh dari
orang-orang di sekitarku. Mungkin aku sedikit demi sedikit mulai terbiasa. Atau
mungkin, aku hanya kehilangan ketahanan hatiku. Mana saja yang benar, yang
penting waktu ini akan berlalu. Selama aku yang menahan semuanya, itu cukup.
"Hei, itu kan Aono yang katanya memukul Amada?"
"Wah, menjijikkan."
"Kasihan Amada-san. Lengannya sampai memar, kan? Pria yang
memukul perempuan itu paling rendah."
"Dia terlalu baik. Makanya si stalker itu salah
paham."
"Dulu aku menganggapnya teman, tapi sekarang aku nggak mau
lagi bicara dengannya."
"Ngomong-ngomong, Kondo-senpai itu keren, ya. Dia melawan
pria kasar yang suka memukul itu dengan berani. Memang luar biasa."
Setiap kali mereka melihatku, murid-murid yang bahkan tidak
kukenal membicarakanku. Rasa sakit yang tumpul terasa di hatiku.
Sepertinya Kondo-senpai dan anggota klub sepak bola sedang aktif
menyebarkan rumor tentangku.
Di X, aku berkali-kali mencoba menjelaskan bahwa aku tidak
bersalah, tapi tak ada yang mau mendengarku.
"Para penjahat selalu berkata begitu."
"Kita putus hubungan. Jangan bicara padaku di
sekolah."
"Dasar sampah!"
Itulah pesan yang mereka balas kemarin di X.
Aku memasuki kelas. Aku sudah tidak bisa lagi menyapa siapa pun.
Hampir semua teman sekelasku telah memblokirku di media sosial.
Meski sudah mempersiapkan mental, kenyataannya lebih mengerikan
daripada yang kubayangkan.
Di mejaku tertulis dengan spidol kata-kata seperti
"Bodoh," "Mati saja," "Penjahat," "Jangan
datang ke sekolah."
Terdengar suara cekikikan dari jauh. Tapi yang paling melukai
hatiku adalah...
Selebaran toko keluarga kami, restoran Aono, diperbesar dan
ditempel di papan tulis, disertai tulisan seperti "Ini rumah si kasar yang
suka memukul," "Beritahu orang-orang di SNS juga," dan
"Jangan lupa menulis ulasan!!" Di atas selebaran itu, terdapat
ancaman bertuliskan, "Kalau nggak mau tersebar di internet, berhenti
sekolah atau mati saja."
Aku mendengar sesuatu dalam diriku pecah. Jika ini terus
berlanjut, bukan hanya aku, tapi keluargaku juga akan terkena dampaknya. Toko
kesayangan Ayah... akan hancur karena aku.
Kenapa, kenapa, kenapa!!
Tak tahan lagi, aku lari keluar kelas ke koridor. Tapi di sana
pun iblis menungguku.
Itu Kondo-senpai.
Dia melihat wajahku yang kesakitan sambil tersenyum sinis.
Mungkin dia datang untuk memastikan hasil dari rencananya, menyebarkan rumor
buruk tentangku lewat anak-anak di klub sepak bola hingga aku terisolasi di
sekolah.
"Bagaimana, wahai penjahat? Gimana rasanya..."
Dia mencemoohku sambil tersenyum puas.
"Kenapa... kau berbohong seperti itu?"
"Karena menyenangkan. Aku mengambil cewekmu, dan kamu
kehilangan segalanya. Pertunjukan terbaik, bukan? Kamu yang salah karena berani
mendekati Miyuki, makanya cepatlah keluar sekolah atau apapun. Aku memang
seorang psikopat yang suka merusak hidup orang lain."
Dari Kondo-senpai tercium sedikit bau rokok. Untuk menutupinya,
dia terus mengunyah permen karet.
Itu membuat sarafku tegang.
Tak sadar, lututku lemas dan aku jatuh. Dengan jeritan tanpa
suara, tubuhku ambruk ke lantai. Setelah merasakan dinginnya lantai koridor,
kesadaranku perlahan tenggelam dalam kegelapan.
※
Dalam keputusasaan, aku yang terbaring tak berdaya di koridor
tidak hadir dalam upacara sekolah. Mereka bilang itu untuk menghormati prestasi
klub Satomi dan timnya yang meraih hasil baik di kejuaraan.
Mungkin tak ada yang peduli meski aku tidak hadir.
Dengan alasan merasa tidak enak badan, aku pergi ke ruang
kesehatan dan meminta izin pada petugas kesehatan untuk beristirahat di
ranjang.
Tentu saja, aku tak bisa tidur. Penghinaan, ketakutan, dan
keputusasaan. Aku menghabiskan waktu di atas ranjang putih, menggigil, berusaha
menahan hati dan tubuhku yang sudah hancur.
"Sebagai tindakan jaga-jaga, aku akan memberitahukan pada
wali kelasmu."
Petugas kesehatan mengatakan itu, dan aku mengangguk singkat,
"Tolong."
Guru wali kelasku, Takayanagi-sensei, mungkin sedang sibuk
mengatur upacara sekolah dan mengurusi siswa yang mendapatkan penghargaan.
Karena itu, aku yakin dia tak akan datang padaku. Aku benar-benar merasa
seperti itu.
Kenapa tak ada yang mau membantuku?
Mungkin karena Miyuki memiliki sikap baik dan prestasi akademik
yang cemerlang. Dia bahkan menjadi wakil ketua kelas di semester sebelumnya,
dan kesaksian dari seseorang seperti dia terlalu kuat.
Para guru pasti lebih percaya padanya daripada padaku. Itulah
kenapa aku tak bisa menceritakan masalah ini pada siapa pun. Bahkan pada Ibu
atau Kakakku.
Mereka berdua berjuang keras demi menyekolahkanku, menggantikan
almarhum Ayah. Tapi, jika ini terus berlanjut, toko kami akan terkena
dampaknya.
Mungkin, aku memang tak pantas hidup.
Aku sudah benar-benar kalah sejak dikhianati oleh Miyuki, teman
baik sekaligus kekasihku. Bagaimana aku bisa bertahan dalam neraka hidup ini
selama satu setengah tahun ke depan?
Ponsel di saku celanaku bergetar.
Pesan dari akun yang tak kukenal. Nama akunnya pun berupa
serangkaian karakter acak yang tak berarti. Pasti akun palsu.
"Segeralah keluar dari sekolah, penjahat."
"Absen dari upacara sekolah dan berpura-pura jadi korban,
ya? Yang paling menderita itu Amada-san, dasar pengecut."
"Kalau kamu merasa begitu tersiksa, mati saja. Itu akan
membuatmu merasa lega."
Tak ada sedikit pun niat baik di sana. Hanya kebencian manusia.
Aku tak punya apa pun yang tersisa.
Ponselku kembali bergetar. Kali ini dari Tachibana-senpai, dari
klub sastra tempatku bergabung.
Dia adalah senior yang selalu tersenyum lembut dan penuh
kebaikan.
Mungkin, dia akan mengerti... harapan itu akan muncul. Tapi,
kemarin, aku sudah melihat kenyataan di ruang klub. Dan itu hanya berujung pada
keputusasaan.
"Maaf, sebenarnya aku harus memberitahumu langsung, tapi
karena apa yang kau lakukan pada Amada-san, anggota lainnya ketakutan. Maafkan
aku, tapi bisakah kamu tidak datang ke klub lagi?"
Saat aku menandai pesannya sebagai telah dibaca, senpai tidak
lagi mengirim pesan.
Tidak, aku tidak melakukannya.
Aku ingin mengetik itu, tapi menyadari bahwa aku tak bisa
mengirim pesan.
"Akun ini telah memblokirmu." Pesan yang kejam itu
muncul berulang kali.
Air mata keluar tanpa suara. Agar guru tidak menyadarinya, aku
membungkus diriku dalam selimut putih, gemetar dalam keputusasaan tanpa suara.
Para senior di klub yang dulu selalu baik pun tidak mempercayaiku. Apa yang
harus kulakukan?
Pada pertanyaan tanpa jawaban itu, hanya keputusasaan yang bisa
kuungkapkan.
※
Aku tidak bisa terlalu lama berada di ruang kesehatan, nanti
akan dicurigai. Mungkin saja orang tuaku akan diberi tahu.
Jadi, aku bilang bahwa kondisiku sudah sedikit membaik dan
kembali ke kelas, lalu meninggalkan ruang kesehatan.
Bahkan jika aku berada di lorong, guru mungkin akan segera
menemukanku. Di saat seperti ini, entah kenapa pikiranku masih berputar dengan
baik.
Aku berjalan menuju tangga. Sepertinya pelajaran sudah dimulai.
Tidak ada seorang pun di sini. Dengan perasaan lega, aku mulai menaiki tangga.
Aku berhenti di tempat yang mengarah ke atas sekolah. Di sini,
aku tidak perlu khawatir akan ditemukan oleh siapa pun.
Aku duduk di sana. Sekarang aku hanya bisa menunggu sampai waktu
pelajaran selesai. Aku harus mulai terbiasa. Dengan niat buruk orang lain. Aku
hanya perlu bertahan sampai hatiku terbiasa sepenuhnya.
Entah kenapa aku meraih gagang pintu yang mengarah ke atap.
Normalnya, gagang pintu ini pasti dikunci demi keamanan, namun kali ini
sepertinya tidak dikunci.
Tanpa sadar, aku mulai berpikir bahwa ini mungkin adalah
kesempatan. Jika aku melompat dari atap, segalanya akan selesai dengan mudah. Barusan
juga tertulis hal itu di papan tulis, bukan? Dengan begitu, aku tidak akan
mengganggu kedai milik keluargaku lagi.
Saat membuka pintu, langit yang suram terbentang luas. Aroma
musim panas masih tersisa. Aku menyadari ada seseorang yang sudah berada di
tempat ini, padahal seharusnya tidak ada siapa pun.
Rambutnya yang indah terurai tertiup oleh angin. Mungkin
mendengar suara pintu terbuka, dia menoleh dengan kaget ke arahku. "Siapa
kamu?"
Seorang gadis berwajah cantik menatapku dengan tatapan waspada.
Seorang laki-laki muncul di atap yang seharusnya tidak didatangi siapa pun.
Wajar saja kalau dia waspada. Lagi pula, ini adalah saat homeroom setelah
upacara selesai.
Rambutnya yang indah terurai lembut. Meskipun ini musim panas,
kulitnya tampak segar tanpa sedikit pun keringat.
Wajahnya sedikit misterius. Warna pita seragamnya merah. Itu
artinya, dia seorang siswa tahun pertama. Namun, dia memiliki keanggunan yang
tampaknya lebih dewasa dari usianya.
Aku memang belum pernah berbicara dengannya sebelumnya, tapi dia
terkenal di sekolah ini. Namanya adalah Ichijo Ai. Gadis pintar yang meraih
peringkat pertama dalam ujian masuk tahun lalu. Dengan kecantikan yang tak
kalah dari model dan sifatnya yang baik kepada siapa pun, dia menjadi idola
sekolah ini hanya dalam sebulan setelah masuk.
Dia adalah sosok yang bertolak belakang denganku. Atau lebih
tepatnya, seseorang yang seharusnya tidak kutemui di tempat seperti ini.
"Aku adalah Aono. Siswa tahun kedua. Aku hanya berkeliaran
di sekolah dan akhirnya sampai di sini."
Alasan yang lemah. Aku yang tadi sempat berpikir untuk
mengakhiri semuanya dengan melompat dari atap, entah mengapa mengucapkan
kata-kata aneh seperti itu.
"Aono-senpai?"
Suara lembutnya membuatku terkejut. Meskipun dia seorang gadis
pintar berwajah cantik, suaranya terdengar imut. Anak laki-laki di kelas sering
mengagumi kecantikannya dan bahkan ada yang menjadi penggemarnya, tapi aku
sendiri tidak terlalu tertarik karena sibuk dengan perasaan bahagia saat bisa
bersama Miyuki.
Sesaat, wajah Ichijo tampak suram. Sepertinya dia tahu rumor
tentangku. Yah, mau bagaimana lagi. Aku tersenyum pahit dengan wajah menyerah.
"Mengapa, di saat seperti ini..."
Dengan suara pelan, dia bergumam seperti itu. Tidak ada
tanda-tanda kebencian seperti yang kuterima dari teman-teman sekelas. Aku
merasa sedikit lega.
"Maaf. Kau pasti tahu rumor tentangku. Bisa beri aku tempat
ini sebentar? Setidaknya sampai waktu istirahat. Aku hanya ingin bersembunyi di
sini sambil makan sendirian."
Ibu sudah membuatkan onigiri untukku. Ketika melarikan diri dari
kelas, aku membawa tas bersamaku, jadi aku bisa bertahan di sini sampai waktu
makan siang. Aku ingin sendirian untuk mempertimbangkan lagi apakah aku akan
mengakhiri hidup atau tidak.
Entah dia tahu perasaanku atau tidak, tapi dia menunjukkan rasa
tidak suka.
"Tidak mau. Ini adalah tempatku. Aku tidak bisa
memberikannya. Senpai sendiri yang seharusnya pergi ke tempat lain."
Ternyata dia memiliki kepribadian yang lebih tegas dari yang
kupikirkan. Aku mulai menyukainya sedikit.
"Yakin? Kau pasti tahu rumor tentangku, bukan?"
Perkataanku sendiri membuat
hatiku terasa sakit. Aku sadar bahwa aku sendiri belum bisa menghadapi hal ini.
Aku hanya berusaha membuatnya tidak ingin berada berdua denganku, seorang yang
dianggap sebagai laki-laki kasar.
"Aku tahu."
"Kalau begitu, cepatlah…"
"Tidak mau."
Tampaknya idola sekolah kita ini adalah orang yang cukup keras
kepala.
"Apa?"
Secara tidak sadar, nada bicaraku menjadi sedikit lebih keras.
Aku tidak menyangka reaksinya akan sekuat ini.
"Aku tahu tentang rumor itu. Tapi itu hanya rumor saja.
Sepertinya ada rumor aneh yang tersebar akibat masalah dalam hubungan asmara...
Namun, aku tidak melihatnya sendiri. Lagi pula, asmara itu seperti semacam
penyakit, bukan? Mengapa aku harus percaya pada cerita sepihak atau rumor yang
kabur seperti itu? Bukankah itu terlalu berbahaya? Murid-murid lain bereaksi
berlebihan. Melakukan kekerasan tanpa mengetahui kebenaran, itulah yang
benar-benar terendah."
Ucapannya lebih kuat dari yang kuperkirakan. Kata-katanya
menusuk hati. Kata-kata yang ingin kudengar dari teman sekelas dan anggota
klubku, sekarang justru diucapkan oleh seorang junior yang baru pertama kali
kutemui. Perasaan terkejut dan bahagia sedikit menutupi luka di hatiku.
"Jadi, kau mempercayaiku?"
"Bukan masalah mempercayai atau tidak. Rumor itu disebarkan
dari pihak mantan pacarmu, kan? Terlalu berisiko untuk menyakitimu hanya
berdasarkan informasi sepihak dan bias itu. Rumor yang muncul dari masalah
asmara itu adalah informasi yang paling tidak dapat dipercaya."
Dengan sangat logis, mungkin terlalu rasional, dia menyatakan
pendapatnya. Mungkin kata-kata itu terkesan seperti perkataan junior yang
lancang, tapi itu adalah kata-kata yang paling ingin kudengar.
"Terima kasih."
"Mengapa kau berterima kasih padaku?"
Dia menatapku dengan wajah cemberut yang penuh kebingungan.
"Jika kau tidak mengerti, tak apa."
Aku menahan air mata saat melihat junior yang logis ini.
Tiba-tiba hujan mulai turun dari langit. Dalam sekejap, hujan
menjadi deras.
"Hujannya sangat deras. Kita akan kedinginan jika tetap di
sini. Ayo kita masuk ke dalam."
"Biarkan saja aku di sini."
Aku terkejut ketika usulanku yang kukira akan disetujui justru
ditolak.
"Apa? Tapi…"
"Masih belum mengerti? Kau tidak tahu kenapa aku ada di
sini sendirian!!"
Suara marahnya membuatku terdiam, berbeda dengan suara
rasionalnya yang tadi.
"Maksudmu?"
"Tidak perlu khawatir aku kedinginan karena basah oleh
hujan. Karena, bagiku besok sudah tidak ada lagi."
Emosinya mengalir seakan seperti anak kecil yang mengamuk. Dia
terus melangkah maju menuju ujung atap.
"Tenanglah."
"Biarkan aku sendiri. Aku ingin mati!!"
Dia berkata begitu sambil perlahan menuju pagar. Aku dengan
panik meraih lengannya dan berkata.
"Berhenti."
Aku yang tadi memikirkan untuk bunuh diri, sekarang justru
menghentikan seorang junior agar tidak bunuh diri.
Perkembangan situasi yang sangat cepat ini membuatku bingung.
"Ini bukan urusanmu. Biarkan aku melakukan apa yang
kuinginkan."
Dengan kekuatan yang lebih besar dari perkiraanku, dia berusaha
melepaskan tanganku. Namun, aku berusaha keras untuk menahannya.
"Cukup sudah…"
Kami berdua basah kuyup oleh hujan, namun itu tidak kami
hiraukan. Dengan tangan lainnya, dia berusaha melepaskan cengkeramanku dari
tangannya. Kami tergelincir dan terjatuh bersama. Untuk melindunginya, aku
memeluknya sambil membenturkan punggungku ke pagar. Syukurlah, kami bisa
berhenti.
"Au…"
Keluhan tertahan keluar dari mulutku, namun dia tampak baik-baik
saja.
"Mengapa, mengapa kau berusaha melindungiku? Jika pagar ini
sudah rapuh, kau juga bisa…"
Dengan kepala yang kacau, aku mengucapkan kata-kata selanjutnya.
"Cukup!! Untuk menolong seseorang, aku tidak perlu
alasan!"
"Apa?"
Dia tampak bingung dengan suara indahnya yang terkejut.
"Kalau kau ingin mati, setidaknya temani aku hari ini!!
Mari kita bolos sekolah bersama!!"
"Apa!? Bolos? Kau paham situasi ini, bukan?"
Dalam situasi mendesak, yang kukatakan hanya "mari bolos
bersama," sebuah usulan yang tidak berguna, dan aku merasa kesal pada
diriku sendiri. Seharusnya aku bisa memberikan usulan yang lebih baik. Kami
berdua dalam keadaan seragam yang basah kuyup, situasi yang sangat menyedihkan.
"Yah, apa boleh buat. Aku datang ke sini untuk bunuh diri,
tapi siapa sangka aku malah menghentikan juniorku untuk tidak bunuh diri."
Suara lemahnya terdengar.
"…Memang benar."
Idola teratas di sekolah ini duduk di tempat itu, terlihat
kehilangan tenaga. Setidaknya, akhir yang terburuk telah terhindari.
Dia berkata, "Seperti orang bodoh saja," lalu entah
kenapa dia tertawa. Aku pun ikut tertawa.
"Ayo, mari kita kembali ke dalam."
"Ya, memang sebaiknya begitu."
Meskipun kami berada dalam situasi yang menyedihkan, tawa kami
tidak berhenti.
"Nih, pakai ini dulu."
Aku menyerahkan handuk yang ada di dalam tas.
"Eh, tapi…."
Pertama-tama, harusnya kamu duluan, kan? Matanya seolah berkata
begitu memohon, "Silakan gunakan dulu."
Namun, aku tahu bahwa jika aku yang menggunakan handuknya
duluan, handuknya akan terlalu basah, dan Ichijou-san tidak bisa
menggunakannya.
"Tidak apa-apa, sebagai seorang pria, sudah seharusnya aku
bersikap lembut kepada seorang gadis."
Sejujurnya, aku hampir kehilangan kepercayaan terhadap wanita
karena kejadian dengan Miyuki, tapi aku bisa jujur pada junior yang kini
menjadi teman seperjuangan.
"Terima kasih banyak. Tapi, tolong jangan terlalu menatap,
ya?"
Aku sudah tahu alasannya tanpa harus bertanya. Baju musim
panasnya yang tipis basah terkena hujan, membuat segalanya terlihat jelas. Baju
tipis berwarna merah muda di bawah kemeja putihnya benar-benar tembus pandang.
Meski tahu itu salah, insting pria membuatku meliriknya.
"Baru saja aku bilang begitu… ini pelecehan, tahu!"
"Maaf, maaf."
Dia mengambil handuk dariku dengan sedikit kesal dan mulai
mengeringkan tubuhnya. Pemandangannya begitu memikat, seakan-akan ada malaikat
turun ke bumi. Singkatnya, dia sangat cantik.
"Jadi, apa rencananya sekarang? Kamu mengajakku bolos, kan?
Pasti punya rencana, dong."
Sejujurnya, aku tidak punya rencana apa-apa. Aku hanya tertawa
kecut dan jujur mengaku.
"Tidak ada. Aku cuma nekat saja. Ini nggak keren,
kan?"
Ketika aku tersenyum kecut, dia ikut tertawa.
Dari tadi, dia sudah mulai menunjukkan ekspresi yang lebih santai.
Ternyata dia bisa tertawa seperti ini juga. Biasanya, senyumnya terlihat
sedikit muram.
Aku pernah dengar beberapa teman sekelas mencoba mengungkapkan
perasaan padanya, tapi…
※
"Kenapa kamu berpikir bisa menjalin hubungan dengan
seseorang yang tidak kamu kenal?"
"Kamu tahu rasanya ketika ada orang yang baru pertama kali
bertemu lalu mengungkapkan perasaan padamu? Nggak, kan? Kalau begitu, biar aku
kasih tahu. Jujur saja, rasanya menakutkan."
"Pada akhirnya, kamu cuma tertarik pada penampilan dan
statusku, kan? Aku sudah baca suratmu, dan isinya hanya tentang itu saja, kan?
Membaca hal seperti itu bikin sakit hati."
Menurut saksi, dia berkata begitu.
Ya, benar-benar hancur.
Jadi, jujur saja, aku agak terkejut saat aku diterima dengan begitu
mudah. Kukira dia akan menghinaku habis-habisan.
"Ini nggak banyak, tapi sebagai tanda terima kasih."
Dia memberikan saputangan yang cantik. Sepertinya dia merasa
bersalah karena handuknya sudah terlalu basah. Aku menerimanya dengan senang
hati.
Saat mulai tenang, aku menyadari kalau aku lapar. Tapi makan
sendirian nggak enak, kan?
Aku membelah onigiri yang kubawa, membaginya menjadi dua dan
memberikannya padanya. Isinya tuna mayo. Beberapa hari ini, aku bahkan tidak
bisa merasakan rasa makanan, tapi entah kenapa aku bisa menikmatinya sekarang.
"Enak. Ini tuna, kan? Dicampur mayones?"
Seolah-olah dia gadis dari keluarga terpandang.
"Iya. Belum pernah coba? Ini salah satu isi onigiri yang
paling populer di toko."
"Benarkah? Jadi, orang-orang biasa makan makanan enak
seperti ini."
Sepertinya dia memang gadis dari keluarga berada.
"Masih banyak makanan enak lainnya. Sayang kalau nggak
sempat mencoba sebelum mati."
"Kamu pandai bicara ya. Dibilang begitu, aku jadi
tertarik."
Matanya berbinar. Ternyata, gadis ini punya rasa ingin tahu yang
besar.
Namun, onigiri yang kubawa hanya satu. Karena aku tidak terlalu
nafsu makan, jadi aku hanya membawa makanan secukupnya. Setengah onigiri
mungkin nggak cukup buat gadis ini. Jadi, kalau mau bolos, cuma ada satu
tempat.
"Hei, Ichijou-san. Mau ke rumahku?"
"Apa!?"
※
Kami melepas sepatu luar kami, memanfaatkan atap dan tempat
parkir sepeda untuk mendekati gerbang depan tanpa terlihat dari ruang kelas.
Beruntung, sepertinya tidak ada yang memperhatikan kami.
Dari tempat parkir sepeda ke gerbang depan kira-kira seratus
meter. Kami berhasil bergerak tanpa diketahui siapa pun, jadi aku merasa aman.
Meskipun ada yang melihat kami dari ruang guru, jaraknya terlalu jauh untuk
mengejar.
Untungnya, hujan deras tadi sudah reda. Bahkan, matahari kini
bersinar cerah. Waktunya sempurna.
"Baiklah, ayo pergi."
"Tapi, Senpai… gerbang depan kan terkunci, ya? Bagaimana
caranya kita keluar?"
Dia sedikit ragu dan bertanya dengan nada khawatir.
"Kita akan memanjatnya."
"Aku pakai rok, tahu!"
Dia sedikit terkejut mendengar candaan itu.
"Tenang, aku cuma bercanda. Gerbang depan punya pintu besi
kecil di samping, kayak pintu darurat. Itu bisa dibuka dari dalam, tapi begitu
ditutup, kuncinya otomatis terkunci. Jadi, kita bisa keluar dari dalam, tapi
nggak bisa masuk dari luar."
Cara ini adalah trik lama untuk bolos dari sekolah. Biasanya
digunakan saat pergi keluar untuk beli makanan. Para guru tahu tentang cara
ini, dan meski mereka akan marah kalau terlalu terang-terangan, dalam batas
tertentu mereka membiarkannya.
"Kok bisa tahu hal begituan sih senpai."
Dia berkata dengan wajah takjub. Gadis pintar ini sepertinya
nggak terbiasa dengan trik seperti ini.
"Nggak apa-apa sekali-kali, kan? Yuk, pergi!!"
Tanpa sadar, aku meraih tangannya, kebiasaan yang kulakukan pada
Miyuki dulu. Aku terkejut, tapi dia membalas genggamanku. Aku merasa berdebar.
"Kenapa merah(malu) begitu? Ayo, cepat."
Dia juga tampak sedikit malu.
"Kamu nggak apa-apa nih, pegangan tangan orang yang baru
ketemu?"
"Bohong kalau aku bilang nggak keberatan… tapi dalam
situasi seperti ini, bukankah biasanya kalau pria dan wanita bergandengan
tangan? Di film atau drama juga begitu."
Sepertinya dia cukup imajinatif. Mempercampur fiksi dengan
kenyataan?
"Baiklah, ayo."
"Omong-omong, ini pertama kalinya aku benar-benar
bergandengan tangan dengan pria, jadi jaga baik-baik, ya."
Melihat reaksinya yang makin malu, aku ikut merasa malu.
Sudahlah, tak perlu dipikirkan terlalu dalam.
"Ayo kita cusss!"
Dengan aba-aba itu, kami mulai berlari.
"Hai, kalian ngapain di sana!"
Suara itu dari guru olahraga yang ada di ruang guru. Kami terus
berlari tanpa menoleh ke belakang.
Seakan meninggalkan masa lalu, kami melangkah maju ke depan.
Gadis di sebelahku tersenyum lebar saat kabur dari sekolah.
──Dari Sudut Pandang Aishi Ichijou──
Kenapa aku malah keluar dari sekolah dengan seseorang yang baru
kukenal hari ini? Selama ini, aku tak pernah terpikir untuk bolos. Tangan pria
yang baru pertama kali kusentuh, kuat namun lembut, memegang tanganku.
Kenapa dia mau repot-repot melindungiku, orang yang tak
dikenalnya? Saat terpeleset tadi, aku sempat berpikir itu akhir hidupku.
Setidaknya aku akan terjatuh ke pagar di atap sekolah yang tak terurus. Namun,
dia rela mengambil resiko nyawanya demi aku yang tak dia kenal.
"Aku akan melindungimu."
Kata-kata manis seperti itu sudah sering kudengar saat orang
mengungkapkan perasaan. Tapi aku tidak ingin mendengarnya, karena itu hanya
akan menyentuh luka lamaku.
Namun, Eiji Aono-senpai berbeda. Tanpa berkata apa pun, dia
melindungiku dengan tindakannya.
Dia bukan seperti pria-pria yang pernah kutemui sebelumnya.
Meski berada dalam situasi yang sulit, dia tetap bergerak demi aku. Sifatnya
yang terlalu baik ini bahkan membuatku khawatir.
Namun, bersamanya, mungkin aku bisa keluar dari neraka ini.
Entah kenapa, dia memberiku harapan.
Kami mempercepat langkah. Meski tahu ini salah, aku merasa
senang.
Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, aku tertawa dari
hati. Semua ini gara-gara senpai yang baru kukenal hari ini.
──Sudut Pandang Kondo──
Namaku Seiji Kondo. Aku adalah pusat dunia ini. Ayahku seorang
anggota dewan kota. Di bidang akademik, aku masuk ke SMA elit yang dikenal
sebagai salah satu dari tiga besar di prefektur ini, dan di klub sepak bola aku
adalah pemain andalan. Aku mengangkat tim sepak bola sekolah yang dulu lemah
hingga ke peringkat atas di turnamen prefektur, dan berkat aku, kami berhasil
lolos ke turnamen nasional tahun lalu.
Secara diam-diam, aku mendapat tawaran dari klub sepak bola
terkenal di universitas swasta. Jika aku mendapatkan rekomendasi olahraga dari
sekolah, hidupku akan penuh warna. Menjadi pemain profesional mungkin saja.
Dengan kemampuanku, sedikit usaha akan membuatku tak terkalahkan
di dalam negeri, dan tim dari liga luar negeri pasti akan tertarik padaku.
Masuk ke tim di Belgia atau Skotlandia, meraih posisi reguler, dan sukses di
sana, lalu menantang liga besar Eropa. Mimpi menerima gaji miliaran dan
dikelilingi wanita cantik bukan hal yang mustahil bagiku.
"Aah, hidup ini terlalu mudah."
Sejak kecil aku berbeda dari orang lain. Sedikit belajar saja
sudah membuatku mendapat peringkat atas. Tinggiku terus bertambah dan hampir
mencapai 190 cm. Dalam sepak bola, dengan bakat teknik yang alami, aku selalu
menjadi pusat di tim mana pun.
Aku pernah ditawari bergabung dengan klub-klub lokal di Jepang,
tapi aku menolaknya. Bergabung di sana akan menghabiskan waktu
bersenang-senang. Meski begitu, aku tetap terpilih untuk timnas junior Jepang,
jadi tidak ada yang bisa protes. Lagi pula, aku punya teknik. Jika melakukan
latihan dasar dan angkat beban, aku akan menjadi pemain biasa yang terjebak
dalam pola. Lebih baik aku menikmati posisi sebagai raja di sekolah yang kecil
ini. Para pelatih biasa tidak akan mengerti hal ini.
Karena aku pria penuh bakat, para wanita juga tidak bisa
mengabaikanku. Sejak SD, aku sudah banyak digilai. Pertama kali aku punya pacar
adalah saat kelas tiga SD. Sejak saat itu, aku tidak pernah tanpa wanita di
sisiku. Di kelas dua SMP, aku dan pacarku saat itu melangkah lebih jauh, dan sejak
itu, hubungan cintaku semakin liar.
Aku ingat betul kejadian saat aku di kelas dua SMP. Saat itu,
ada seorang otaku dan idola kelas yang berpacaran. Meski hubungan mereka hanya
sebatas pegangan tangan, itu adalah hubungan yang naif. Mereka pasangan teman
masa kecil, dan berpikir mereka akan menikah suatu hari nanti.
Seperti yang kuduga, setelah kuberi pujian dan perhatian, gadis
itu dengan mudah tertarik padaku. Ia mengkhianati pacarnya yang dianggapnya
sebagai takdirnya, bahkan menyebut pacarnya menjijikkan saat kami berdua
bersama. Gadis bodoh.
Saat otaku itu mendengar rekaman kata-kata pacarnya, ia menangis
dan ambruk. Melihat wajahnya yang penuh keputusasaan membuatku bersemangat.
Itulah mengapa aku suka mengambil wanita milik orang lain. Wajah pria yang
putus asa setelah tahu kebenaran sangat menghibur.
Setelah masuk SMA, aku putus dengan gadis itu. Hubungan cinta
paling menyenangkan sebelum resmi berpacaran. Setelah berpacaran, mereka
biasanya jadi posesif dan menyebalkan.
"Aku telah meninggalkan segalanya demi memilihmu!"
Melihat gadis itu setengah gila, aku berkata, "Aku tidak
tertarik dengan wanita yang gampangan. Aku tidak suka kamu lagi, mari kita
putus." Biasanya, setelah jatuh cinta padaku, mereka tidak belajar,
nilainya turun, dan kehilangan semua teman lama karena memilihku. Apalagi
pasangan teman masa kecil, mereka memutus hubungan dengan teman-teman sejak TK.
Gadis yang tidak bisa memahami ini seharusnya sadar diri.
Pada akhirnya, mantan idola kelas itu kehilangan segalanya dan
menjadi tidak hadir di sekolah. Menyaksikan kehancurannya sangat menyenangkan.
Selanjutnya, giliran Miyuki. Padahal dia seharusnya memilih
pacarnya, bukan aku. Aku berpikir akan menyenangkan menghancurkan hidup mereka
berdua.
Jadi, aku sengaja meninggalkan bekas seperti korban kekerasan di
lengan Miyuki dan menyebarkan rumor tentangnya. Reaksinya? Lihat saja hasilnya
nanti.
──Sudut Pandang Miyuki──
Sejak pagi, Eiji tidak kembali ke kelas. Orang-orang yang
merusak mejanya berusaha menghapus coretan itu, tetapi bekasnya masih ada. Meja
kotor Eiji tampak seperti hatiku yang hancur. Dia mungkin akan keluar dari
sekolah, dan ini semua salahku.
Bagaimana ini? Bagaimana ini? Aku tidak menyangka Kondo-senpai
akan menyebarkan rumor itu. Aku tidak salah. Jika aku meminta maaf, dia pasti
akan memaafkanku.
Saat melihat keluar, aku melihat Eiji di lapangan. Melihatnya
membuatku senang sejenak, namun segera jatuh ke dalam keputusasaan. Di
belakangnya ada seorang gadis yang tidak kukenal, dan mereka berlari ke gerbang
sekolah sambil berpegangan tangan seperti dalam adegan film.
Kenapa? Kenapa? Kenapa?
Api cemburu membakar pikiranku. Tangannya, yang seharusnya hanya
untukku, kini menggenggam tangan gadis lain. Kenapa? Padahal aku sendiri yang
memutuskan hubungan kami dulu. Tapi aku lupa itu, dan hanya ada api cemburu
yang menghanguskan.
"Siapa gadis pencuri itu?"
Previous Chapter | Next Chapter


Tidak ada komentar:
Posting Komentar