Prolog - Mengenai Kisah nyata dari Perselingkuhan Istriku
Istriku
berselingkuh.
Awalnya aku tidak bisa percaya. Istriku selalu tersenyum dan
baik hati. Karena itu, saat perselingkuhan itu terungkap, kupikir pasti ada
suatu kesalahan. Tapi itu adalah kenyataan.
"Aku benar-benar minta maaf......"
Kalau memang sampai harus meminta maaf, aku berharap dia tidak
melakukannya sejak awal. Pria selingkuhan istriku adalah mantan pacarnya semasa
kuliah yang tampan dan berkelas. Dia jadi teringat kembali pada cinta lamanya
yang muncul lagi, dibandingkan dengan suami norak sepertiku. Cerita yang begitu
umum, yang bisa terjadi di mana saja.
"Tapi
aku tidak mau berpisah...... kumohon...... tetaplah di sisiku...... aku ingin
selalu berada di sampingmu......"
Istriku sama sekali tidak memberikan alasan apa pun. Dan
meskipun sudah berselingkuh, dia masih bilang ingin bersamaku. Aku sama sekali
tidak bisa mengerti. Apakah semua wanita memang seperti ini? Aku yang tidak
populer ini tidak pernah pacaran dengan wanita selain istriku. Jadi, aku tidak
tahu apa yang ada di pikirannya.
"Aku akan melakukan apa saja. Kalau soal
uang, aku akan berikan semuanya. Diperlakukan seperti apapun tidak masalah. Aku
tidak peduli meskipun kamu bermain dengan wanita lain. Tapi biarkan aku di
sisimu, biarkan aku tetap di sisimu......"
Aku
tidak mengerti. Berselingkuh itu berarti dia lebih menyukai pria itu, kan?
Lagipula, pria selingkuhan itu sangat berniat merebut istriku. Dia tidak peduli
meskipun reputasi sosialnya akan hancur karena perselingkuhan ini. Dia bahkan
menawarkan uang kompensasi berkali-kali lipat dari standar. Bukan hanya itu,
dia bahkan bilang akan membantuku dalam hal karir di masa depan. Terus terang,
kupikir itu tawaran yang sangat luar biasa. Orang dengan pemikiran waras pasti
akan memilih berpisah dari istrinya, menerima uang kompensasi, dan memulai
hidup kedua dengan kondisi sebaik itu.
Istriku pun pasti lebih memilih pria selingkuhan yang lebih
keren dan kaya daripadaku. Kenyataannya, siapapun pasti akan bilang kalau
istriku yang sangat cantik akan terlihat serasi jika bersanding dengan pria
selingkuhan yang tampan itu. Tidak ada yang rugi. Malah, rasanya itulah yang
benar. Tapi.
"Aku mencintaimu! Aku ingin di sisimu! Aku tidak mau kalau
bukan kamu! Aku ingin bersamamu! Selamanya bersama! Aku ingin bersamamu!"
Kupikir
wanita ini sudah gila. Mungkin dia sedang bingung karena perselingkuhannya
ketahuan. Tapi, meskipun waktu berlalu, jawabannya tidak berubah. Istriku
menolak untuk berpisah dariku. Tentu saja hukum tidak mengizinkan itu. Jika aku
yang mengajukan gugatan cerai, meskipun butuh waktu, pasti suatu saat akan
terjadi juga.
Tapi pembicaraan tidak maju sama sekali. Bahkan saat aku memilih
untuk pisah rumah, istriku selalu mengikutiku ke mana pun aku pergi. Meskipun
aku pindah diam-diam, dia langsung menemukanku. Dia masuk ke kamarku seenaknya
dan tidur di sebelahku. Kehidupan yang konyol. Aku sama sekali tidak bicara
dengannya. Aku terus mengabaikan istriku. Tapi istriku selalu mengulang-ulang
pembicaraan sepele sehari-hari. Kehidupan yang bodoh. Pria selingkuhan itu
selalu datang ke tempatku, mengintimidasiku agar menyerah-kan istriku. Istriku
terus mengabaikan pria itu. Kehidupan yang tegang.
"Nee, biarkan aku mendengar suaramu. Kumohon. Aku ingin
mendengar suaramu."
Aku
tidak punya tenaga untuk itu.
"Nee. Aku akan melakukan apa saja. Jadi... maafkan aku.
Uun. Maafkan aku. Aku tidak dalam posisi untuk bisa bilang 'maafkan aku', ya.
Maaf ya. Tapi. Aku ingin di sisimu. Karena hanya di sampingmu lah tempatku
berada."
Kurasa aku sudah sangat lelah. Dan entah aku masih mencintainya
atau tidak. Suka tapi benci. Meskipun terus diikuti, aku senang karena
dibutuhkan tapi juga membencinya. Isi kepalaku kacau balau. Aku seharusnya
sudah bahagia setelah menikah. Tapi masa lalu dari istriku menghancurkan
kebahagiaanku. Aku tidak punya masa lalu yang hebat. Jangankan mantan pacar
hebat yang bisa mengancam istriku, teman wanita saja aku tidak punya. Sementara
dia, punya banyak mantan pacar. Sangat populer. Banyak yang
mengi-nginkannya.
Aku tahu, meskipun istriku meninggalkanku, aku mung-kin tidak
akan pernah dicintai oleh wanita yang lebih baik darinya. Tapi istriku,
meskipun pergi ke tempat pria seling-kuhan itu, dia bisa bahagia. Kupikir ini
sangat tidak adil. Karena itu, aku jadi kelepasan bicara.
"Aku sudah tidak bisa melihat kebahagiaan lagi di masa
depanku."
".….. Maafkan aku. Kalau ada yang bisa kulakukan,
katakanlah. Aku akan melakukan apa saja."
"Kalau begitu. Kau juga relakanlah kebahagiaanmu."
"Maksudmu kamu ingin kita berpisah? ......Aku tahu ini
egois, tapi aku tidak mau. Kumohon… aku ingin di sisimu. Karena bertemu
denganmu, aku bisa menemukan diriku kem-bali. Karena itu aku ingin terus
bersamamu mulai sekarang...."
"Ya, kalau memang kebahagiaanmu adalah berada di sisiku.
Buktikanlah itu padaku. Kalau kau bisa, kurasa aku pasti bisa
memaafkanmu."
Apa yang sebenarnya
sudah kukatakan? Aku sendiri tidak tahu apa yang kukatakan. Pokoknya aku
membencinya, muak padanya, tapi masih penuh penyesalan dan tidak bisa bahagia
lagi.
"Un. Aku
mengerti. Seberapa besar rasa sukaku padamu. Seberapa aku mencintaimu. Akan
kubuktikan sekarang."
Pasti bukan cara yang
benar.
Paling-paling dia
hanya memelukku, mencium, atau seks. Pakai tubuh wanita bisa menyelesaikan
segalanya, kan? Kau pasti berpikir begitu, kan? Itulah yang kupikirkan.
Ternyata berbeda.
"Lihat. Aku bisa
membuktikan cintaku. Kalau kamu tidak ada di sisiku, nyawa seperti ini pun aku
tak butuh lagi. Jadi lihatlah. Lihat aku. Jangan pernah lupakan aku selamanya.
Aku sangat menyukaimu. Aku mencintaimu. Hanya kamu."
Istriku menusuk
dadanya sendiri dengan pisau tepat di depan mataku. Dia tidak ragu sedikit
pun.
Dan dengan senyum
tenang terukir di bibirnya, sambil menatapku….. dia meninggal begitu
saja.
Kematian tanpa kesan
atau pertanda apa pun. Aku hanya bisa terdiam. Satu-satunya wanita yang mungkin
mencintaiku telah hilang selamanya.
Setelah kejadian itu,
aku tidak punya ingatan khusus. Pria selingkuhannya itu menghajarku
habis-habisan sambil menangis. Mertuaku mencaci makiku sambil menangis. Aku
kehilangan semua temanku. Pekerjaan mungkin masih tersisa, tapi semangat atau
apa pun sudah tidak ada lagi. Yang tersisa hanyalah hari-hari membosankan
tenggelam dalam alkohol.
Dan saat aku sedang
berkeliaran di kota dalam keadaan linglung.
"Kalau saja
sampah sepertimu tidak ada, dia pasti bisa bahagia."
Hanya kata-kata itu
yang terdengar. Saat kusadar, ada seseorang di depanku. Lalu tiba-tiba dadaku
menjadi sakit. Dan semuanya menjadi merah.
"Apakah semuanya
salahku...... Ini tidak adil......"
Lalu aku terjatuh, dan
aku mati.
Previous Chapter | Next Chapter
Tidak ada komentar:
Posting Komentar