Epilog
- Gigitan Pertama
(Sudut Pandang Ririse)
Bangun tidur rasanya paling buruk. Kurasa karena
aku mikirin hal bodoh sebelum tidur.
Bukan sesuatu yang akudapat dari orang lain, tapi
karena aku berpikir dan hidup sendiri, makanya aku ngerasain perasaan nggak
menyenangkan ini.
"Haa. Latihan pagi merepotkan sekali..."
Klub pemandu sorak sedang latihan untuk mendukung
pertandingan bisbol Lima Universitas Tokyo yang akan segera diadakan. Bagi klub
pemandu sorak, ini salah satu ajang pamer yang besar.
"Tapi universitas kita kan pasti kalah. Kenapa juga harus mendukung
ya."
Bahkan untuk basa-basi pun, universitas kami tidak
kuat dalam olahraga. Berbeda dengan universitas swasta, tidak ada jalur
rekomendasi olahraga atau semacamnya, terus terang menurutku lemah. Tapi tetap
harus ngedukung. Aku nggak bisa nemuin artinya.
Aku mulai ikut pemandu sorak sejak SMA. Awalnya
karena nggak ada kerjaan, jadi aku mulai setelah berkonsultasi dan disarankan
oleh Hiroto. Waktu itu Hiroto main sepak bola, jadi ada artinya juga untuk
mendukung.
Tapi sekarang gimana ya? Kalau aku ikut latihan,
semua orang memang memujiku sih, tapi.
『Sebentar lagi kereta akan tiba di peron. Mohon berdiri di
belakang garis putih...』
Stasiun terdekat rumahku adalah Kichijoji. Aku juga bilang pada semua orang di
kampus kalau asalku dari Kichijoji. Tepatnya sih aku tinggal di kota di Distrik
Nerima yang paling dekat dengan Kichijoji, tapi kalau Tokyo Disneyland yang ada
di Chiba saja dibolehkan (mengaku Tokyo), masa aku begini saja nggak
boleh.
Semua orang berbohong sedikit demi sedikit. Hiroto
juga begitu. Akhir-akhir ini malah parah. Aku yakin dia lagi ngelakuin sesuatu
yang gawat kalau sampai ketahuan. Tapi aku juga bisa bayangin diriku yang pasti
akan membiarkannya begitu aja. Sekalipun dia melakukan kesalahan, dibandingkan
dengan kesalahanku, apa yang dilakukan Hiroto pasti nggak seberapa. Begitu
pikirku.
Aku pun duduk di kursi kereta, memikirkan hal-hal
tidak penting dengan pikiran kosong.
『Stasiun Shimokitazawa. Untuk transit silakan...』
Saat kusadar, aku sudah dekat dengan kampus. Rasanya ingin terus tenggelam
dalam pikiran begini sampai ke stasiun akhir saja. Aku ingin terbawa arus tanpa
berpikir apa-apa. Karena kalau terbawa arus, hukumannya pasti akan terasa lebih
ringan.
"Ara? Ara ara ara!? Ini kan, ini kan!"
Terdengar suara yang sangat jelas. Saat aku
mengangkat wajah, di sana ada seorang gadis asing berambut pirang bermata biru.
Dia mengintip wajahku dengan penuh minat.
Wajah gadis pirang itu rasanya mirip dengan
orang-orang Latin yang pernah aku lihat di TV. Tapi ras tidak penting. Aku
tidak kenal orang ini.
"Sorry, I can't remember you. Who are you? You had......" (Maaf, aku
tidak ingat kamu. Kamu siapa? Kamu punya......) aku bilang begitu.
Karena ini mendadak, jujur aku tidak yakin dengan
ungkapan bahasa Inggrisku. Kuharap dia mengerti, tapi gadis pirang itu malah
menjawabku dengan bahasa Jepang yang lancar.
"Hentikan dong. Jangan bicara pakai bahasa
Inggris. Aku nggak suka tahu. Sikap sok pinter begitu. Diperlakukan seolah
punya pemahaman pada orang asing begitu cuma bikin kesel aja."
"Haa..… Eeetto. Aku tidak kenal Anda jadi.….
agak bingung."
Gadis pirang itu duduk di sebelahku. Dia tersenyum
genit. Jujur saja, entah kenapa aku jadi kesal sekali pada anak ini.
"Araa? Waah dingin banget ya nona ini! Fufufu. Aku Ayashiro. Itu lho. Yang
waktu upacara masuk ada di sebelah Tokiwa."
"...Eh? Kamu yang waktu itu? Eh? Wajahmu nggak
beda ya? Eee?"
Kalau dibilang begitu, rasanya memang mirip. Aku
kadang melihat gadis pirang itu bersama Tokiwa-kun di dalam kampus. Memikirkan
itu entah kenapa rasa kesalku malah bertambah.
"Pagi sekali ya? Mau ke klub? Pemandu sorak
ya? Karena pertandingan bisbol udah dekat?"
"Iya sih. Kamu sendiri ada apa?"
"Pagi ini aku ada janji sama profesor. Makanya
berang-kat lebih awal sekalian persiapan."
"Gitu ya. Tapi kenapa pakai jersey? Biasanya kan kamu pakai baju bagus.
Lagipula ukurannya tidak pas."
Ayashiro-san memakai jaket jersey. Mungkin
ukurannya tidak pas, terlihat kebesaran. Kedua tangannya tenggelam dalam lengan
baju. Kedua kakinya digulung sampai lutut.
"Hm? Ini? Kemarin aku nginep di rumahnya
Tokiwa. Karena nggak ada baju jadi aku pinjam ini. Katanya sih ini jersey waktu
SMA!"
"...Ee? ...e... Bohong..."
Tiba-tiba aku merasakan sensasi sesak di dada.
Suaraku juga tidak bisa keluar dengan lancar.
"Iyaa kemarin seru lho! Berisik banget!
Ufufu."
Berisik banget. Aku tidak mau memikirkan arti kata
itu. Aku kan juga bukan anak kecil lagi. Aku bukannya tidak tahu apa artinya
hubungan sampai menginap dan meminjam baju.
Teman-temanku juga banyak yang punya pacar setelah
masuk kuliah. Bahkan ada juga yang sudah pernah seks.
Waktu itu aku tidak berpikir apa-apa. Aku belum
pernah punya pengalaman seperti itu, dan itu di luar bayanganku. Tapi hari ini
kata-kata itu terdengar sangat nyata dan kasar.
"Lihat lihat! Hora hora! Dia tidurnya gini
lho! Imut kan! Ufufu."
Ayashiro-san menunjukkan smartphone-nya padaku. Di
sana terpampang foto wajah tidur Tokiwa-kun. Tidur pulas seperti anak kecil.
Melihat itu hatiku sedikit tenang dan hangat. Imutnya, pikirku. Tapi perasaan
itu langsung lenyap. Ayashiro-san menggeser layar smartphone-nya dengan jari
dan foto berikutnya muncul. Ayashiro-san mencium pipi Tokiwa-kun yang imut itu.
Aku langsung membuang muka.
"Ara? Kok reaksimu polos sekali! Lucu ya,
kamu. Ufufu. Hal seperti ini biasa kok kalau udah mahasiswa. Bi-a-sa lho!
Fufufu."
Wajah Ayashiro-san yang tersenyum genit terlihat
sangat menyebalkan.
"Foto seperti ini apa maksudnya? Aku dan
Tokiwa-kun kan cuma teman biasa satu jurusan. Dilihatkan begini aku jadi
bingung."
Aku sadar suaraku jadi dingin secara alami. Wajahku
juga terasa kaku. Tapi Ayashiro-san sama sekali tidak terpengaruh. Malah
terlihat senang.
"Ara ara? Gitu ya? Maaf ya. Aku agak kelewatan
goda kamu ya. Tenang aja. Kami cuma minum-minum biasa kok! Minum di rumah
gitu!"
"Minum di rumah? Cuma minum aja?
Beneran?"
"Fufufu. Iya kok. Cuma minum alkohol sambil
heboh nggak jelas aja. Itu aja kok. Hal yang kamu harapkan itu sama sekali
nggak terjadi kok! Ahaha!"
Ayashiro-san tertawa lepas seolah benar-benar
senang. Apa dia sengaja menggodaku? Padahal aku dan Tokiwa-kun hanya teman
biasa saja, dan hubungan kami akan berakhir sebagai teman biasa saja.
Tidak mungkin ada kelanjutannya. Tapi. Kenapa. Aku
menyentuh wajahku. Terasa lembut. Lagipula kenapa rasanya panas begini.
"Bagus ya. Muka itu. Bagus sekali. Betul.
Ungkapan perasaan yang jujur itulah yang ngebuat orang jadi indah. Kalau
denganmu, aku mau kok 3P bareng Tokiwa."
San-pi? Apa ya itu? Game atau apa? Melakukan
sesuatu bertiga dengan Tokiwa-kun dan anak ini? Tapi bagaimanapun juga,
melakukan sesuatu dengan Tokiwa-kun sih terserah. Tapi aku tidak mau melakukan
sesuatu bersama anak ini.
"Aku nggak mau. Aku nggak mau melakukan apa
pun bersamamu."
"Ara sayang sekali. Ditolak deh."
Lalu kereta tiba di Stasiun Komaba Koudai Mae. Aku
melewati gerbang tiket dan keluar di depan pintu masuk kampus. Saat itu
Ayashiro-san tiba-tiba bergumam.
"Dia masih tidur. Makanya nanti dia datang
belakangan. Dia kan rajin, jadi mungkin sebelum jam kuliah kedua mulai, dia
udah datang? Ke sini."
"Terus kenapa?"
Aku tidak mengerti apa yang ingin dikatakan anak
ini. Memangnya kenapa kalau Tokiwa-kun nanti datang ke sini.
"Itu terserah kamu yang memutuskan. Apa makna
yang ingin kamu berikan? Dan bagaimana kamu akan bertindak? Itu
kebebasanmu."
Hanya berkata begitu, Ayashiro-san pun berjalan
dengan gagah menghilang ke dalam kampus. Aku ditinggal sendirian di depan
stasiun.
"Harus pergi latihan..."
Aku membawa tas olahraga dan hendak menuju kampus.
Tapi sebelum itu, kios lotre menarik perhatianku.
"...Iya juga. Aku harus beli lotre seperti
biasa. Un. Harus coba peruntungan. Ramalan nasib hari ini kan penting."
Aku memutuskan untuk membeli lotre. Terlambat untuk
latihan klub pemandu sorak pun tidak masalah. Mungkin ada hal yang lebih
penting dari itu. Sekarang, di sini.
*
(Sudut Pandang Kanahisa)
Menurutku kenikmatan jadi mahasiswa itu adalah kuliah mulai jam
kedua. Pagi yang lumayan santai begini benar-benar yang terbaik. Yah, aku benci
terlambat sih, dan kuliah di universitas pada dasarnya menarik, jadi aku tetap
berangkat pagi.
"Aah~ Kebanyakan minum jadi malas~ ! Beneran terlalu heboh
semalam~!"
Aku keluar stasiun sambil mengeluarkan suara yang entah seperti
mahasiswa atau seperti protagonis light novel. Lalu saat aku hendak berjalan
menuju kampus. Tiba-tiba aku melihat kios lotre. Dan di sampingnya, entah
kenapa aku melihat sosok 'istri'-ku.
"Fa!? Eh? Eh? Apa? Eeeh?"
Manusia kalau terlalu kaget suaranya bisa terjadi error.
Habisnya tidak masuk akal. Bagaimana bisa 'istri'-ku duduk di atas tas
olahraganya persis di sebelah konter kios lotre sambil membaca buku. Di dunia
sebelumnya aku memang beberapa kali melihat kelakuan aneh 'istri'-ku yang sudah
jadi ceroboh, tapi yang hari ini lumayan aneh.
Rasanya tidak boleh kuabaikan begitu saja. Kenyataan-nya
mahasiswa lain yang lewat menatapnya dengan curiga, dan bibi penjaga kios lotre
juga terlihat terganggu. Aku pun membulatkan tekad, mendekati kios lotre, dan
menyapa 'istri'-ku.
"Sedang apa di sini...?"
"Ah... selamat pagi... Tokiwa-kun."
'Istri'-ku yang mengangkat wajahnya menutup buku desain arsitektur
yang dibacanya dan meletakkannya di atas lutut.
"Akting Tokiwa-kun tempo hari, payah banget ya."
Tiba-tiba dia mengatakan hal yang kurang ajar, sambil tersenyum
lembut.
"Haa? Tiba-tiba ngomong apa? Lagian kenapa kau ada di
tempat begini?"
"Habisnya aku mau beli lotre."
Sama sekali tidak mengerti. Aku tidak paham apa yang dikatakan
wanita ini. 'Istri'-ku pun berdiri.
"Ngomong-ngomong ya. Aku kan belum sempat makan di kantin
mahal itu. Kan waktu itu nggak jadi pergi gara-gara Tokiwa-kun menolak? Padahal
aku ingin sekali ke sana."
"Jangan seenaknya menyalahkanku. Tempat seperti itu kan
bisa didatangi kapan saja."
"Masa sih? Apa bisa pergi kapan aja ya? Aku rasa nggak
begitu. Menu di sana kan mahal.….. Rintangannya sangat tinggi...
bagiku..."
'Istri'-ku terlihat agak gelisah. Seperti ingin mengatakan
sesuatu tapi tertahan. Sikapnya yang seperti ini tidak berubah dari dulu.
'Istri'-ku yang kukenal di masa lalu.
"Begitu ya. Hmm. Ya. benar. ...Yah memang agak mahal sih
ya. Wajar kalau merasa enggan."
Aku memutuskan untuk melanjutkan pembicaraan. 'Istri'-ku
biasanya cerewet, tapi kadang ada saatnya dia terlihat sulit mengatakan sesuatu
seperti ini. Itu bisa jadi hal penting, atau mungkin hal sepele tapi memalukan.
Aku tidak boleh melewatkannya. Jadi aku harus memancingnya agar dia bisa
mengatakannya, dan menunggunya dengan sabar.
"Iya! Ah bener juga! Rasanya agak enggan gitu! Maka-nya!
Aku punya ide bagus! Kita berdua tarik lotre yuk! Nanti yang menang traktir
pakai uang itu! Gimana? ...Menurutmu bagus nggak...?"
Dia berkata begitu sambil tersenyum agak memelas dan penuh
harap. Ini wajah yang tidak kukenal. Ah, dia menun-jukkan wajah yang tidak
kukenal.
Aku baru menyadarinya sekarang.... Aku memejamkan mata.
Membayangkan sosok 'istri'-ku di masa lalu, saat kami bersama.
Banyak hal yang sama. Dan ada juga hal yang berbeda.
Tapi hari ini aku menyadarinya dengan jelas.
Yang ada di depanku saat ini, meskipun sama, adalah gadis yang
baru kutemui.
Benar.
Begitulah adanya. Dunia ini sudah terputar kembali.
Aku tidak bisa memaafkan dosanya,
Makanya aku memberikan hukuman yang keterlaluan,
Lalu aku menanggung dosa baru,
Dan semua kenangan indah yang kuhabiskan bersamanya telah lenyap
dari dunia ini.
Di dunia baru ini sudah tidak ada lagi kenangan yang kuhabiskan
bersama Ririse.
Ingatan dicintai dan buktinya, sudah tidak ada di mana pun.
Begitu ya.
Memutar kembali waktu dan mengulanginya,
Semua kenangan hanya ada di dalam hatiku,
Itulah hukuman untukku.
"Kamu kenapa? Kamu merasa nggak enak badan? Nggak apa-apa?"
Igarashi Ririse mengintip wajahku, lalu mengelus pipiku.
Tangannya lembut. Sentuhan tangannya yang kukenal baik, namun terasa asing
entah kenapa.
"Aku, bilang hal aneh ya. Maaf ya. Lupain aja yang aku
katakan tadi..."
"Tidak. Tidak akan lupa. Aku tidak mungkin bisa lupa. Boleh
kok. Ayo lakukan."
Aku membeli dua lembar lotre gosok dari bibi di konter. Lalu
menyodorkannya di depan Igarashi.
(TL/N : Baru sampe sini MC di narasi nya nyebut ni mantan
istrinya pake "Igarashi", sebelum-sebelumnya pakai "istri"
kan? Artinya dari sini ni MC udah ngakuin ni mantan istrinya udah jadi orang
baru dan udah mulai move on dari masa lalunya, karena menurutnya keterlaluan
kalau dia ngasih (vonis) hukuman ke orang yang gak (belum) ngelakuin kesalahan
apapun ke dia)
"Pilihlah yang kau suka."
"Eh... boleh pilih dari situ? Lotre itu kan punya
Tokiwa-kun."
"Boleh kok. Tidak masalah."
Kerja sama pertama kami di dunia pengulangan ini. Kalau mau
melakukan sesuatu, aku ingin melakukannya bersama. Sejak hari kesalahan di
dunia sebelumnya, kami pun tidak bisa melakukan apa pun bersama. Makanya
bersama. Aku ingin melakukan sesuatu bersama.
"...Gitu ya! Un! Okee, aku pilih ya!"
Igarashi berdiri di sisi kiriku dan menatap lekat lotre di
tanganku, lalu memilih satu lembar. Dan kemudian, saat aku mengeluarkan koin
sepuluh yen dari dompet dan hendak menggosok lapisan peraknya.
"Ah, tunggu!"
Aku pun menghentikan tanganku mendengar suara itu. Igarashi
tersenyum lebar.
"Sip! Ayo tukar lotre ini dengan yang itu!"
Lotre yang dia pilih disodorkan padaku.
"Tukar? Memang ada gunanya?"
"Un! Ada dong! Yang aku pilih untuk Tokiwa-kun! Yang
Tokiwa-kun pilih aku yang gosok! Mungkin aja nanti ada hal baik yang
terjadi!"
Aku tanpa sadar tertawa mendengar usulannya. Menang atau
kalahnya lotre sudah ditentukan saat dibeli di konter. Secara logika memang
begitu. Tapi entah kenapa mendengar ucapan Igarashi ini membuat hatiku terasa
hangat.
"Baiklah. ayo, kita tukar."
"Un. Tukar ya."
Kami pun saling menukar lotre kami. Lalu menggosok lapisan
peraknya.
"Eh...? Bohong?"
"Oh! Seriusan!"
Kami berdua menang. Menang lima ratus yen. Berdua total seribu
yen.
"Benaran nih? Ini? Bukan mimpi kan!? Seriusan! Yatta!
Yattaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa! Menaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaangggggg!
Kyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!"
Igarashi berteriak sambil mengangkat kedua tangannya.
"Berlebihan ah. Cuma lima ratus yen juga."
"Bukan cuma! Soalnya ini pertama kalinya! Aku baru pertama kali menang
lotre tau! Yatta! Hebat! Hebat! Ahaha! Ahahahaha!"
Igarashi memotret kupon lotre yang menang itu berkali-kali.
Segitu senangnya ya. Bahkan dia mulai mengambil selfie bersama kupon menangnya
itu.
"Tokiwa-kun! Tokiwa-kun juga ikut masuk! Ayo!"
Dia menarik siku kiriku.
"Ah, oi sebentar!"
"Udah udah, ayo ayo! Hai cheese~!!"
Foto dengan Igarashi yang tersenyum paling cerah, dan aku yang
entah kenapa kaku dan bingung, tapi ikut tersenyum, berhasil diambil.
"Iyaa! Hebat ya! Tokiwa-kun! Bisa membuatku menang, lotre
itu kamu benar-benar beruntung ya!"
"Hm? Hmm? Yah, mungkin juga sih."
Kurasa aku setelah time leap ini memang termasuk beruntung.
Bertemu orang-orang baik, dan bisa menghabiskan hari-hari yang menarik.
"Un un! Hebat ya! Tokiwa-kun itu Agechin ya!"
Kami pun menukarkan kupon lotre di tempat itu juga. Igarashi
menatap koin lima ratus yen yang berkilau itu dengan mata berkaca-kaca, lalu
memeluknya erat di dadanya.
"...O...oi. Tunggu sebentar. Tadi kau bilang apa?"
"Agechin! Laki-laki yang beruntung kan dipanggil begitu?
Tomoe yang bilang lho."
Dasar si cewek ceplas ceplos itu! Mengajari kata-kata aneh pada
Igarashi! Setiap kali aku foto selfie dengan perempuan, julukan anehku
bertambah. Teman seks → Kedua → Darling → Agechin. Perubahan macam apa ini!
Parah sekali!
(TL/N : Agechin itu cowok yang dipercaya membawa keberuntungan
pada wanita yang nfewe dengannya, dari kata "Age" dari ngangkat atau
ningkatin, terus "Chin" dari penis [ochinchin])
"Itu salah penggunaan. Nanti coba cari artinya di internet.
Kau mengatakan hal yang keterlaluan lho."
"Eh? Gitu ya? Oke. Tapi kedengerannya bagus kok, Agechin
Tokiwa! Keren!"
Tidak ada. Itu jelas tidak ada.
"Ngomong-ngomong. Kalau hasilnya seri bagaimana?"
"Aa~ belum kita putusin ya~. Gimana ya? Uun."
Saat itulah. Bel tanda kuliah jam kedua dimulai berbunyi.
"Ee~. Kalau pergi sekarang juga sudah telat kan. Aa~
gawat!"
"...Ini... kesempatan bolos!? Tokiwa-kun! Ayo bolos jam
kedua! Lagian cuma Matematika Dasar Umum kok! Bolos sekali atau dua kali nggak
apa-apa kan!"
"Yah, kuliah memang begitu sih tapi..."
"Aku mendambakannya! Bolos itu! Di SMA
kan nggak bisa bolos! Ini pertama kalinya! Rasanya kayak jadi anak nakal!"
"Aah~. Sedang masa-masanya ya.…. Begitu
ya. Yah, sesekali boleh lah."
Bolos sekali atau dua kali tidak akan separah
itu sampai gagal dapat SKS di kuliah. Lagipula melihat Igarashi yang tampak
senang sekarang, aku tidak ingin mengatakan hal yang merusak suasana. Makanya
aku secara alami berkata begini.
"Kalau begitu, mau ke kantin yang mahal
itu? Kalau ada lima ratus yen kan bisa bayar setengahnya, mungkin tidak akan
terasa mahal lagi."
"Ah! Itu ide bagus! Ayo! Ayo! Jam segini
pasti sepi jadi bisa kita nikmati berdua aja kan! Waah kayaknya seru!
Fufu!"
Kami berjalan beriringan menuju kantin
mahasiswa yang mahal itu. Igarashi yang berjalan di sisi kiriku bersenandung
dengan gembira.
Aku sudah tidak tahu lagi apa yang akan
terjadi setelah ini. Mungkin suatu saat jalan kami akan berbeda.
Tapi setidaknya untuk saat ini, kami berdua
menghabis-kan waktu yang sama dengan menyenangkan.
(Selesai)
Kata Penutup
Yang ingin aku gambarkan adalah kebangkitan
kembali sebuah mitos. Aku mencari dunia cerita di mana waktu dan ruang melebur
dan terjalin, segalanya tetap ambigu namun memiliki kontur yang jelas.
Pepatah "tak ada yang baru di bawah
matahari" memang benar adanya, semua cerita selalu merupakan pengulangan
dari mitos. Aku pun merasa senang bisa menjadi salah satu dari sekian banyak
gelombang pengulangan tersebut.
Aku bangga mengatakan kalau karya ini adalah
cerita yang aku gambarkan sebagai mitos modern versiku sendiri. Aku percaya
kalau manusia adalah makhluk yang tidak bisa mendefinisikan identitas diri
tanpa adanya cerita.
Cerita adalah doa manusia yang memproyeksikan
kehidupannya ke dalam khayalan. Hanya dengan adanya ceritalah manusia bisa menerima
keberadaan diri sendiri dan orang lain, serta saling memaafkan.
Jika setelah membaca ceritaku ini timbul suatu
perasaan dalam diri kalian, dan tindakan yang lahir dari perasaan itu terhubung
dengan sesuatu yang baik dalam hidup orang tersebut, tidak ada kebahagiaan yang
lebih besar bagiku sebagai penulis.
Ucapan Terima Kasih
Ilustrator Kuroto Yuu-sama Saat pertama kali
melihat desain karakter Ririse, aku merasakan keindahan yang jauh melampaui
ekspektasi. Aku bisa merasakan momen ketika dunia karya ini meluas secara
signifikan. Terima kasih banyak.
Dokter Psikiater Utamaku, terima kasih banyak
telah menyelamatkanku dari masa keputusasaan saat aku melewati periode kelam
dalam hidup akibat depresi berat dan gangguan obsesif-kompulsif. Jika tidak ada
kamu, jangankan kembali ke masyarakat, aku bahkan tidak akan bisa menulis kata
penutup dengan sok hebat seperti ini sebagai penulis. Terima kasih banyak.
Perwakilan Perusahaan IT Tertentu-sama, Terima
kasih telah memberikan kesempatan besar dalam hidupku. Anda membangkitkan
kembali kesenangan dalam dunia engineering yang pernah saya tinggalkan, dan
berkat Anda lah aku masih bisa bekerja dengan harapan di masyarakat hingga
kini. Terima kasih banyak.
Untuk Ayah Tercinta Meskipun aku hampir
kehilangan hidup karena sakit, meskipun aku drop out dari masyarakat, Ayah
tidak pernah meninggalkanku, anakmu, dan terus mendukungku, sehingga akhirnya
aku bisa merasa lega dengan hidupku. Terima kasih banyak.
Untuk Ibuku Tercinta, Karya ini lahir karena
ibu mem-berikan doa dan identitas yang berbeda dari orang lain kepada ku.
Terima kasih banyak.
Untuk Seorang Teman di Hiroshima-sama, aku
berterima kasih karena kamu tidak menjauh bahkan ketika depresiku sedang parah.
Sekarang kita saling menjalani pekerjaan yang berbeda, tapi aku masih berharap
suatu saat nanti kita bisa bekerja bersama di bidang engineering. Terima kasih
banyak.
Editor yang Bertanggung Jawab-sama, Aku
berterima kasih karena Anda telah membimbingku yang pada dasarnya adalah
pembuat masalah ini dengan baik sampai sejauh ini.
Kepada Semua Pihak Penerbitan yang Terlibat
dalam Karya Ini, ada banyak pekerjaan yang terlibat sampai sebuah buku bisa
sampai ke tangan pembaca, tanpa semua itu buku ku tidak akan sampai kepada para
pembaca. Terima kasih banyak.
Kepada Para Pembaca yang Membaca Sejak Versi
Web, sekali lagi mengucapkan terima kasih kepada kalian semua yang telah
membaca karya ini sejak versi web. Karena kalian semua membaca karya gado-gado
yang kelam ini dan mengatakan menarik, aku bisa sampai sejauh ini. Jadi terima
kasih banyak.
Kepada Para Pembaca Baru, aku mengucapkan
terima kasih kepada para pembaca yang baru kali ini membaca karya ini. Terima
kasih banyak.
Semoga kebahagiaan menyertai semua orang yang
telah mengambil buku ini.
Engyou Kouki
