Chapter 10 - Hidup yang Cuma Kuinginkan Adalah Minum Berdua di Rumah dengan Gadis Manis
Akhir pekan yang menyenangkan telah berakhir, dan rutinitas
biasa kembali datang. Kalau ada yang berubah, itu adalah terbentuknya kelompok
teman makan siang bersamaku. Menghabiskan waktu siang bersama ketiga gadis itu
menyenangkan. Kadang aku merasa 'istri'-ku melirik-lirik ke arahku, tapi karena
tidak punya firasat apa-apa jadi kuabaikan. Dan yang terpenting adalah.
"Apa yang coba dilakukan Hagiri itu sama sekali tidak
kumengerti...!"
Setelah kuliah selesai dan kembali ke kamar, saat aku sedang
melakukan rutinitas harianku mengelola saham. Aku membandingkan laporan hasil
investigasi dari detektif-san yang kusewa dengan buku catatan hasil salinan
pengetahuan masa depanku, dan sekalian meneliti soal Hagiri juga.
Seharusnya aku mengabaikannya saja. Tapi saat kusadar, di dunia
setelah time leap ini pun aku sudah terlibat dengan 'istri'-ku dan Hagiri.
Situasinya dalam arti tertentu lebih parah dari dunia sebelumnya. Dunia sebelumnya
adalah soal perselingkuhan 'istri'-ku, yang ekstremnya, itu bisa dianggap hanya
masalah perasaan pribadiku saja, tapi di dunia ini berbeda.
Aku khawatir soal Yuzuriha dan Miran. Kalau hanya aku sendiri,
aku percaya diri bisa kabur sepenuhnya. Tapi kedua gadis itu pasti tidak akan
bisa lari jika lawannya Hagiri. Hanya aku yang bisa melindungi mereka berdua.
Makanya aku ingin mencari tahu apa yang diinginkan Hagiri.
Tapi sama sekali tidak ada hasil. Detektif-san gagal melakukan
investigasi karena penjagaan Hagiri yang ketat, sebagai gantinya dia hanya
melaporkan soal aset yang mungkin dimiliki bajingan itu. Pengetahuan masa
depanku hanya berisi soal dia teman masa kecil 'istri'-ku dan pacar pertamanya,
lalu di masa depan akan mendirikan venture dan jadi miliarder, hanya sebatas
itu.
"Mungkin poin pentingnya ada diisi bisnis masa depannya
tapi... aku tidak tahu... Ingin kupukul diriku di masa lalu...!"
Aku saat itu syok mengetahui keberadaan Hagiri untuk pertama
kalinya setelah istriku direbut. Miliarder mega venture dan orang terkenal.
Hanya dengan itu saja aku merasa kalah sebagai laki-laki, dan tidak mencari
tahu lebih dari itu.
Pihak sana mengakui perselingkuhannya dengan jujur, jadi tidak
perlu menyelidiki apa pun. Yah, sebenarnya aku takut jika tahu lebih jauh, aku
akan dipaksa menyadari cinta istriku sudah hilang.
"Sial... kalau saja aku tahu ide bisnisnya, aku bisa
merebutnya dari samping...!"
Aku pun terus terang tidak bisa lagi jaga gengsi. Pihak sana
sudah bergerak bahkan sebelum masuk kuliah. Pihak sana punya akumulasi masa
lalu, pihak sini punya pengetahuan masa depan. Rasanya seperti keuntungan kami
saling meniadakan. Padahal aku bisa menang kalau bisa menahan dan merebut ide
bisnis yang jadi sumber kekuasaan-nya itu.
Aku bahkan tidak mengetahuinya. Aku menundukkan wajah ke meja
dan menghela napas. Saat ini aku hanya bisa menghasilkan sedikit uang dari
saham. Tapi sebanyak apa pun uang kukumpulkan, aku tidak bisa membayangkan visi
untuk menang melawannya.
"Sudahi hari ini. Tidur saja... Tidur karena
kesal...!"
Hari ini saham lumayan menang. Kalau begini terus, di masa depan
bisa membangun aset besar. Aku sendiri juga punya mimpi. Punya kantor
arsitektur sendiri. Aku ingin menciptakan banyak arsitektur sebagai seni diriku
sendiri di dunia ini. Uang atau kekuasaan, hal seperti itu tidak kubutuhkan.
Hanya keindahan dan cinta yang kuinginkan.
Lalu saat aku berbaring di tempat tidur dan hendak memejamkan
mata, smartphone-ku berbunyi. Di layar muncul nama Ayashiro. Bukan dari
aplikasi pesan, tapi telepon, tumben sekali. Aku segera menjawab telepon.
『Maaf ya. Malam-malam
gini』
"Ada apa?"
『Aku bakal langsung ke
intinya. Bisa izinin aku nginap di rumahmu. Aku ketinggalan kereta terakhir
terus sekarang ada di Kampus Komaba』
"Eh? Serius? Gimana kalau menginap di tempat Miran? Dia kan
di Asrama Tayoshi jadi masih di dalam kampus."
『Katanya nggak bisa
karena hari ini kerja paruh waktu ke klub Roppongi. Makanya aku cuma bisa
andelin rumahmu. Kalau Shimokita kan bisa jalan kaki dari sini.』
"Eeeh... hmm. Sebenarnya ingin sekali tapi... terus terang
aku sarankan naik taksi ke kafe manga Shibuya atau menginap di hotel
saja."
Bagaimanapun aku tidak bisa membiarkan perempuan menginap di
rumahku. Kalau pria dan wanita di bawah satu atap, pasti akan terjadi
'kesalahan' kan. Tentu saja aku bisa menahan diri, tapi rasanya tidak enak.
『Blak-blakan sekali ya
kamu bilang. Pasti cowok-cowok sejurusanmu akan berlagak jadi pacar pengertian
dan mem-beriku tumpangan secara jantan! Pasti mereka udah puas cuma dengan bisa
kasih aku tumpangan sampai pagi tanpa menyentuh satu jari pun!』
"Maaf ya. Aku pria yang tidak pengertian. Aku tidak bisa
membiarkan wanita secantik dirimu menginap."
『Fufufu. Bagian kamu
yang kayak gitu aku sukai loh. Makanya aku juga bilang duluan ya, tentu aja aku
pengen menginap, tapi nggak bakal kasih kamu kesempatan sama sekali, juga bukan
memancing. Kita sama sekali nggak bakal ngelakuin hal mesum.』
"Uwwah~. Menurutku hal seperti itu seharusnya tidak
dibicarakan terang-terangan oleh pria dan wanita kan. Pemahaman diam-diam
namanya."
Sering dengar kan. Cewek datang ke kamar cowok, kalau tidak
melakukan hal mesum malah hubungan ke depannya jadi rumit. Dirinya tidak bilang
apa-apa, tapi ingin si cowok mengajak secara paksa tapi lembut sambil
memimpin.
Kurasa perempuan ingin diinginkan oleh pria seperti itu.
Setidaknya 'istri'-ku di awal pacaran dulu tipe seperti itu. Yah, meskipun saat
kusadar dia sudah jadi ceroboh, dan mulai mengajak duluan juga sih.
『Komunikasi tingkat
tinggi dan non-verbal kayak gitu nikmati aja sama perempuan lain. Sebagai
gantinya bukan apa-apa sih, tapi aku bakal buatin sarapan buat kamu besok sama
bekal makan siang. Biaya bahannya tentu aja aku yang bayar.』
"Ho? Bisa memuaskan lidahku? Gitu katamu? Hm?"
Aku jadi tertarik pada kegigihan Ayashiro. Entah bagaimana dia
perempuan yang datang terus terang dalam banyak hal. Orang aneh yang genit tapi
seperti tidak punya niat menggoda. Dia agak menarik ya, selalu kupikir begitu.
『Tentu aja kan. Aku
itu ya, aslinya jago masak lho. Pakai sisa bahan pun enak, pakai bahan pilihan
juga enak. Aku bisa masak apa aja. Tapi kalau kamu bilang 'terserah', aku hajar
kamu.』
"Aku jadi ingin makan Nikujaga. Ngomong-ngomong, ini cuma
sekadar bertanya saja, kalau aku berubah jadi serigala, kau mau apa?"
『Kalau kamu jadi gitu,
ya aku bakal liat rendah dirimu selamanya. Kalau kamu mau gitu, ya silakan aja
sana jadi serigala! Kalau kamu pengen dipandang rendah selamanya olehku demi
kenikmatan sesaat, silakan! Lahap aja tubuhku ini sepuasmu!』
Ah, ini mustahil. Aku tidak bisa menang melawan gadis ini.
Habisnya, rasanya dipandang rendah olehnya jauh lebih menyakitkan daripada
tidak bisa 'memeluknya'.
Aku merasakan rasa hormat yang aneh pada Ayashiro. Padahal terus
terang, aku ini jadi agak tidak percaya wanita sejak perselingkuhan istriku ya.
"Dipandang rendah olehmu itu tidak nyaman. Baiklah. Kalau
rumahku tidak apa-apa, menginaplah. Sekarang kau di kampus kan? Tunggu di
dalam. Aku jemput."
『Boleh? Kalau gitu aku
terima tawaranmu. Makasih ya.』
"Boleh kok. Ya sudah, tunggu sebentar ya."
Aku menutup telepon, lalu segera keluar dari kamar. Kemudian aku
masuk ke mobil yang terparkir di parkiran, dan menuju Kampus Komaba. Dari
Shimokita ke Kampus Komaba sangat dekat. Makanya dalam sekejap aku sudah sampai
di depan kampus. Aku pun turun dari mobil lalu menelepon untuk memanggil
Ayashiro.
"Aku kira kok cepet banget, ternyata kamu punya mobil
ya."
"Ya, baru beli belum lama ini. Gimana Keren kan? Hm?"
"4WD itu seleramu keren juga ya. Jujur aja, aku kira kalau
kamu beli mobil pasti yang gaul kayak mobil sport."
Mobilku adalah mobil four-wheel drive besar spek outdoor. Yang
tenaga kudanya luar biasa gila seolah 'kekuatan adalah keadilan', bisa melaju
mulus bahkan di jalan gunung yang kasar.
"Aku berbeda dari pria lain lho. Kukuku. Yah, setengah-nya
sih karena hobi. Ayahku di Hokkaido juga naik mobil seperti ini."
Setengah alasan lainnya adalah karena mobil yang dimiliki Hagiri
itu mobil sport. Maaf sekali punya mobil sama dengan pria selingkuhan itu!
"Kalau gitu, hari ini aku numpang ya. Maaf ngerepotin, tapi
tolong mampir ke supermarket atau minimarket. Soalnya perempuan butuh persiapan
juga buat tidur."
Padahal bilang gitu, tempo hari kau tidur tanpa melepas lensa
kontak kan? Matamu sepertinya tidak apa-apa sih.
"Padahal tempo hari kau tidur pulas saja! Ahaha!"
Ayashiro naik ke kursi penumpang, dan aku menjalankan mobil.
Dalam perjalanan pulang, kami mampir ke super-market yang untungnya masih belum
tutup, Ayashiro membeli toner, sikat gigi, dan barang-barang lain yang
diperlukan untuk menginap. Sekalian juga bahan-bahan untuk masak Nikujaga.
Sepertinya dia benar-benar akan memasaknya.
"Di rumah kamu ada wine?"
Dia bertanya padaku sambil memegang botol wine di pojok minuman
keras.
"Tidak ada. Cuma ada bir. Tapi kalau soal bir saja, aku
cukup percaya diri dengan koleksiku."
"Oh ya? Uun. Kalau gitu, di mana bumi dipijak, di situ
langit dijunjung ajalah ya. Cemilannya mau apa?"
Entah kenapa secara alami suasananya jadi seperti mau minum di
rumah. Yah, besok aku baru mulai kuliah jam kedua jadi tidak masalah sih.
"Kalau bilang 'terserah' nanti aku bakal dihajar ya… Tolong
olah keju jadi sesuatu yang enak."
"Oke. Tunggu aja ya. Fufufuun!"
Ayashiro-san terlihat senang saat asal memasukkan berbagai jenis
keju dan barang lainnya ke keranjang.
(TL/N : MC aja agak kaget karena gaya bicara Ayashiro agak
berubah, jadi kek agak dewasa, walau masih agak centil.)
***SEDANG
MENYETIR!***
Kami segera sampai di apartemen tempat tinggalku. Lalu aku
mempersilakan Ayashiro masuk ke kamarku. Begitu masuk, Ayashiro mengamati
sekeliling kamarku dari sudut ke sudut. Kamarku hanyalah sebuah kamar tipe
studio biasa yang tidak ada istimewanya. Kalaupun ada yang bisa dibanggakan,
hanyalah kemampuan kedap suaranya yang luar biasa.
Apartemen ini tipenya tidak masalah sama sekali meskipun
memainkan alat musik sekeras apa pun atau berisik sekalipun. Kenyataannya, di
dunia sebelumnya aku terus tinggal di sini bahkan setelah lulus kuliah,
'istri'-ku tinggal di kamar ini dan kami melakukan hal mesum dengan suara keras
pun tidak pernah ada yang menggedor dinding sekalipun. Aku terus tinggal di
sini sampai akhirnya kami memutuskan tinggal bersama. Terlalu banyak kenangan
sampai sekarang pun meski punya uang aku tidak bisa pindah. Ngomong-ngomong,
mungkin ini pertama kalinya wanita selain 'istri'-ku masuk ke sini, termasuk
dunia sebelumnya (kecuali Mashiba. Karena aku benci dia jadi tidak kuanggap
perempuan).
"Aku agak kaget lho. Ternyata rapi ya. Kamar cowok itu,
biasanya berantakan kan? Kamar adikku parah lho."
"Hee, kau punya adik laki-laki ya. Umur berapa?"
"Anak itu masih TK. Lagi nakal-nakalnya tapi lucu kok.
Fufufu."
Sepertinya jarak usianya cukup jauh. Hubungan orang tuanya pasti
baik ya. Haha! Jadi iri dengan pasangan seperti itu! Ini sih cuma menyiksa diri
sendiri.
"Boleh aku mandi dulu sebelum masak?"
"Ou. Boleh kok. Sabun atau samponya didalam pakai saja
sesukamu."
Kalau ini manga komedi romantis, pasti ini adegan yang bikin
deg-degan, tapi aku sadar diriku lumayan terbiasa dengan situasi seperti ini.
Kebiasaan buruk karena wanita ya.
Aku ingin perasaan yang lebih polos. Ayashiro sendiri juga bersikap
biasa saja, jadi tidak ada elemen yang membuat malu. Aku ingin bisa deg-degan
hanya karena mendengar suara shower. Begitu pikirku.
***DIA
SEDANG MANDI!***
Mandinya perempuan itu lama. Itu bukan lagi sekadar teori umum,
tapi mungkin sudah jadi kebenaran, teorema, atau hukum alam. Tanpa terkecuali,
Ayashiro juga mandinya lama.
"Air mandinya pas banget hangatnya. Hari ini aku udah
belajar keras sekali jadi rasanya nyaman."
Suara Ayashiro terdengar dari belakangku yang sedang menonton
TV.
"Ou. Kau sudah selesai ya. Bagaimana kalau bir setelah
mandi?"
Sebelum berbalik, aku sudah sedikit mempersiapkan diri. Mungkin
Ayashiro sekarang tidak memakai makeup.
Ayashiro memang sangat cantik, tapi ada kemungkinan biasa saja
kalau makeup-nya dihapus. Kemungkinan seperti itu wajar saja. 'Istri'-ku dulu
tetap kelewat cantik meskipun tanpa makeup, tapi tidak semua orang begitu. Lalu
aku memantapkan hati dan berbalik.
"Boleh. Aku minum birnya deh. Sesekali boleh lah ya. Bir
juga. Ufufu."
Saat aku berbalik, mataku bertemu dengan mata biru Ayashiro. Dia
memakai celana pendek dan kaus yang kupin-jamkan. Tunggu, matanya biru? Hm?
Bukankah biasanya lensa kontak berwarna dilepas kalau mandi? Lho eh? Eh? Aku
pun memberikan sekaleng bir ke tangan Ayashiro. Ayashiro pun meminumnya.
Glek glek~
"Puhaa! Kuuuuh! Enak ya! Rasa segarnya ini nggak ada di
wine ya! Sehabis mandi emang paling enak bir! Aktivitas budaya yang luar biasa
ya! Fufufu."
Ayashiro tanpa makeup sangatlah cantik. Ya. Memang cantik. Tapi
ya. Wajahnya benar-benar berbeda dari biasanya! Tulang wajahnya tegas,
hidungnya mancung dan lurus. Dilihat-lihat, raut wajahnya terlihat seperti
orang Kaukasia. Kalau begitu matanya juga bukan lensa kontak berwarna tapi asli
ya. Rambut pirangnya juga mungkin begitu. Terlalu alami untuk ukuran rambut
dicat. Begitu ya. Makanya dia biasa saja tidur tanpa melepas lensa kontak
berwarna.
Aku jadi paham sekarang.
"Apa? Kok lihatin mukaku terus. Ada yang mau kamu bilang ke
aku?"
"Bukan, tidak ada yang ingin aku katakan secara khusus sih.
Memang rasanya berbeda dari biasanya, tapi kau tetap saja cantik."
Tapi setelah dipikir-pikir lagi, rasanya jadi tidak penting. Ras
atau apa pun tidak penting. Aku tidak tertarik pada hal semacam itu.
"Ara ara. Reaksi kayak gitu baru pertama kali aku lihat.
Kamu orang pertama yang nggak nunjukin reaksi curiga mgeliat muka ini. Nggak
tanya? Wajah kayak gini orang dari mana, gitu?"
"Eh? Ya, aku tidak masalah sih. Daripada itu, cepat buatkan
cemilannya dong. Aku sudah berharap sekali! Yang cocok dengan bir ya!
Tolong!"
Aku sudah mengeluarkan bir lokal mahal yang enak khusus untuk
Ayashiro. Kalau bukan cemilan yang sepadan, tidak akan kuakui!
"... Hee.…. reaksi kamu benar-benar sama kayak biasa ya.
...Fufu... oke. Tunggu aja ya! Bakal aku buatkan cemilan istimewa! Ufufu."
Ayashiro terlihat senang saat berdiri di dapur dan mulai
memasak. Melihat punggungnya dari belakang cukup membuatku merasa bahagia. Hari
ini sepertinya akan jadi acara minum di rumah yang menyenangkan!
Ayashiro menata cemilan yang dibuatnya di meja pendek dan kami
bersulang. Cemilannya adalah cheese fondue rasa kaldu Jepang. Dan rasanya enak
sekali. Cocok dengan roti, sayuran, maupun ham. Ayashiro-san benar-benar serba
bisa. Malah aku jadi ingin tahu apa yang tidak bisa dia lakukan.
"Hari ini, kenapa kau ketinggalan kereta terakhir?"
"Aku lagi mau ikut lomba karya tulis ilmiah, tadi aku
ngerjainnya di ruang penelitian profesor kenalan, eh tahu-tahu sudah jam
segini. Lucu ya."
"Hee. Lomba karya tulis ilmiah ya…. Rajin sekali ya padahal
baru tahun pertama."
Lomba karya tulis ilmiah atau debat untuk mahasiswa itu ada
banyak. Ada yang tujuannya untuk mencari kerja, ada yang kegiatan sirkel, ada
yang untuk NPO, macam-macam.
Hal seperti itu karena usahanya tidak sebanding hasilnya, jadi
kelompok sok pintar (tertawa) biasanya tidak ikut. Yang sering ikut justru
mereka yang benar-benar berusaha keras. Sambil minum bir, Ayashiro tersenyum.
"Nggak sehebat kamu kok. Kamu kan akhir-akhir ini lagi
sibuk? Misaki juga, Yuzuriha juga, diincar sama si Hagiri itu kan. Kamu bakal
melawannya kan? Si dia itu."
"Yah begitulah. Kalau aku sendirian sih bisa saja, tapi aku
tidak bisa membiarkan mereka berdua."
"Gitu. Syukurlah. Aku suka mereka berdua. Makanya kamu
melindungi mereka itu menenangkan ya. Fufufu. Nee? Boleh tanya satu hal?"
"Apa?"
"Antara kamu, Hagiri, dan si Igarashi Ririse itu ada
hubungan seperti apa sih?"
"Soal itu... maaf. Tidak bisa kukatakan."
Aku tidak ingin berbohong pada Ayashiro. Kalau beberapa waktu
lalu mungkin aku akan mengarang cerita bohong saja. Tapi sekarang aku sudah
tidak bisa begitu lagi.
"Gitu. Gitu ya. Aku punya satu tebakan, mau denger?
Sebenarnya kamu itu teman masa kecil mereka berdua."
"Haha. Apa itu? Kayak manga saja ya. Lanjutkan."
"Kamu adalah teman masa kecil ketiga yang dilupakan oleh
mereka berdua. Sebenarnya kamu dulu pernah berjanji menikah dengan Igarashi
Ririse waktu kecil. Tapi dia lupa dan cuma kamu yang ingat. Malah dia mengira
udah berjanji menikah dengan Hagiri. Gimana kalau begitu? Alasan kamu benci
sama Hagiri terus punya perasaan cinta-benci sama Igarashi Ririse jadi nggak
cocok kan?"
"Ahaha! Boleh juga! Itu! Kalau memang begitu! Kalau memang
begitu kan bagus sekali! Ahaha! Ahahahaha!"
Aku tanpa sadar tertawa. Sebagai variasi dari template komedi
romantis rasanya menarik. Kalau aku adalah rival dalam komedi romantis yang
tokoh utamanya Hagiri, cerita itu kurasa paling bagus. Tapi kenyataannya lebih
sederhana. Ada dua orang yang takdirnya tidak bersatu, dan aku hanyalah pria
yang kebetulan menyela di antara mereka. Antara aku dan 'istri'-ku tidak ada
takdir apa pun. Tidak ada ikatan karma, tidak ada nasib. Tidak ada juga kisah
cinta indah yang bisa dapat rating tinggi. Semuanya hanyalah pertemuan biasa
yang membosankan. Alasan aku menyukai 'istri'-ku pun, hanyalah hal yang biasa
terjadi pada siapapun yang introvert.
"Kalau gitu, cerita kamu, Hagiri, sama Igarashi Ririse itu
lebih simpel, dan justru bosenin ya."
"Itu benar. Cerita yang membosankan dan tidak menarik
sampai malu untuk diceritakan. Tidak ada hal keren seperti takdir atau nasib.
Ini hanyalah masalah perasaan pribadiku saja."
Cerita ini hanya akan berakhir jika aku bisa membuang obsesiku
pada 'istri'-ku.
"Begitu ya. Kalau begitu aku nggak bakal tanya deh. Aku
juga tadi nggak terlalu banyak cerita soal diriku. Sebenarnya, apa kamu nggak
merasa aneh? Soal aku nyembunyiin asal-usul atau cerita aku."
"Biasa saja. Aku bukan pria hebat yang pantas mengo-mentari
perempuan. Silakan saja sesukamu. Tapi jangan dendam ya kalau aku tidak sadar
kau ganti cat kuku."
"Ahaha. Kalau kamu nggak sadar perbedaan cat kukuku, akan
kucakar kamu kayak kucing! Nyaa gitu!"
Ayashiro mengelus pipiku dengan jari tangan kanannya yang
dibulatkan seperti tangan kucing. Sensasi gelinya terasa sangat nyaman.
"Ibuku itu generasi pertama imigran Amerika keturunan
Hispanik lho. Katanya dia pindah ke Amerika dari negara asalnya di Amerika
Latin bareng orang tuanya gara-gara alasan ekonomi. Terus dia ketemu ayahku
yang lagi studi di Amerika, menikah, terus datang ke Jepang. Repot ya
bolak-balik ke sana kemari."
"Hee. Latar belakang yang cukup rumit ya. Apa itu alasan
kau tidak mau cerita soal asal-usulmu?"
"Iya. Merepotkan kalau diceritakan. Asal-usulku yang rumit
ini nggak bakal dimengerti kalau diceritain ke orang Jepang biasa. Tapi aku
suka namaku. Himena itu nama Spanyol. Tapi dalam bahasa Jepang juga nggak
terlalu aneh."
"Benar juga ya, pertama kali dengar, aku tidak merasa aneh
selain aksennya."
"Ngomong-ngomong, ejaan alfabetnya X-i-m-e-n-a lho. Huruf
depannya X itu keren kan?"
"Chuunibyou ternyata wkwk Faaaaaa! Pas sekali buat Ayashiro
Dai-Sensei! Ahaha!"
"Iya kan! Ahahahaha wkwkwk!"
Kami berdua tertawa terbahak-bahak. Lalu setelah itu obrolan
konyol berlanjut.
***KALAU
MINUM BERDUA SAMBIL MABUK, JADI NGOMONGIN HAL-HAL FILOSOFIS NGGAK SIH? SEDANG
MENGOBROL KONYOL!***
"Ngerti? Intinya, hukum itu kayak kumpulan kebijak-sanaan
umat manusia! Makanya juri persidangannya banyak oppai! Lalu hukumnya jadi
tetek rata!!"
(TL/N : intinya mereka berdua mabuk, jadi kata-katanya agak
kurang jelas dan nyambung.)
"Berarti kalau setengah telanjang di pengadilan pasti
divonis bersalah ya!!"
"Ya gitulah! Ngomong-ngomong, universitas kita ini
bangunannya nyampur antara yang modern sama tradisional ya. Menurutku itu
bagus-bagus aja sih."
"Betul. Semuanya bercampur jadi satu. Artinya, univer-sitas
adalah tempat para mahasiswa datang untuk 'bersatu'."
"Bersatu (secara badan) wkwk! Datang itu buat belajar!
Geragera wkwkw Minta maaflah sama para jomblo yang nggak bisa 'bersatu'!!
Ahyahahaha!"
"Ngomong-ngomong, mobilku bagaimana? Pakai itu buat kemah
pasti gampang kan?"
"Itu boleh juga tuh. Liburan musim panas ayo kita kemah
bareng! Ngomong-ngomong, aku taruhan satu sloki tequila buat Misaki yang sok
keren mau nyalain api tapi ujung-ujungnya nggak bisa terus cari alasan bau
perawan!"
"Tidak bisa jadi taruhan wkwkw Miran pasti tidak bisa
menyalakan api, malah kebalikannya Yuzuriha yang cekatan nyalain api, terus
diejek anak Soshum wkwkw, sudah pasti begitu! Geragera!"
"Menarik sekali! Ngomong-ngomong, aku mau tanya ke anak
Saintek dong, apa ujung alam semesta itu ada?"
"Maaf. Jawabannya cuma Tuhan yang tahu. Lagipula terus
terang aku ini tipe yang masuk Saintek cuma karena ingin belajar arsitektur,
jadi cuma Saintek bohongan. Obrolan Saintek yang benar-benar penuh romansa itu
pelecehan!"
"Ngomong-ngomong, kenapa kamu pilih arsitektur?"
"Itu karena aku gagal masuk universitas seni. Terus setelah
lulus SMA, aku sempat kerja sebentar jadi pekerja konstruksi di Sapporo. Waktu
itu kebetulan terlibat dalam pembangunan properti desainer yang keren. Saat itu
aku berpikir, ini dia! Aku pikir arsitektur itu seni. Makanya aku masuk sini
sambil kerja jadi pekerja konstruksi dan ikut bimbel."
"Ara ara. Hebat sama menarik ya."
"Ya kan? Bukan bermaksud pamer sih, tapi aku punya SIM
untuk eskavator dan alat berat konstruksi lho! Kalau soal konstruksi aku sudah
pengalaman semua dan punya berbagai sertifikat konstruksi juga! Bukan pamer
tahu!!"
"Itu keren banget kan!? Ahaha! Tapi kamu beneran udah
berusaha ya~ Aku kasih kamu pujian~!"
Benar-benar hanya obrolan konyol. Saat kusadar, waktu sudah
menunjukkan lewat jam dua pagi.
*
(Sudut Pandang Hagiri Hiroto)
Ririse di seberang jendela seperti biasa bicara melompat-lompat
ke sana kemari. Rumahku dan Ririse bersebelahan, kamar kami saling menghadap
jendela. Cukup dekat sampai kalau niat bisa menyeberang. Sampai SMP dulu Ririse
sering datang ke kamarku lewat jendela.
"Mou, kecewa deh! Kupikir setelah masuk universitas tidak
akan ada matematika, tapi ternyata ada Matematika Dasar Umum! Vektor itu kan
cuma tanda panah saja sudah cukup! Kenapa sih mereka suka sekali menghitung
sebanyak itu! Hiroto juga berpikir begitu kan!?"
"Yah, anak Saintek memang wajib belajar matematika kan.
Lagipula kamu pikir tidak ada matematika ya. Kenapa juga pilih arsitektur.….
Padahal sudah kubilang lebih baik masuk Fakultas Sastra saja."
Ririse benci matematika. Bukan berarti dia tidak bisa berhitung.
Nilainya juga bagus. Tapi dia selalu mengeluh soal limit atau kalkulus. Soal
bilangan kompleks, dia bahkan sampai bilang 『Tidak
ada di alam semestaku』.
Tapi aku tidak mengerti kenapa dia memilih masuk Saintek atas
kemauannya sendiri. Aku sudah membujuknya baik-baik untuk masuk Soshum, tapi
dia keras kepala tidak mau menerima. Pada dasarnya dia penurut, tapi kadang
lepas dari kendaliku itu merepotkan.
"Makanya! Aku beli kalkulator saintifik, tapi terus di
koperasi kampus kebetulan ketemu Katou-san dan yang lain. yang sekelas waktu
kelas satu SMA! Terus kutanya, 'Mau ke kantin yang mahal nggak?' eh katanya
hari ini mau ke toko roti! Aku juga belum pernah ke toko roti itu jadi kupikir
pas banget, terus ikut bareng deh, enak lho! Roti melon sama roti kacang merah!
Terus puding juga!"
"Puding di toko roti?"
"Un! Puding enak kan! Kapan-kapan ingin buat puding satu
ember!"
"Kalau begitu, mau buat disaat liburan Golden Week keluarga
nanti? Tahun ini kita ke gunung kan, mau coba di pinggir sungai?"
Liburan Golden Week tahun ini adalah perjalanan gabungan antara
keluargaku dan keluarga Ririse. Aku tidak terlibat dalam perencanaannya. Aku
tahu orang tua Ririse ingin menjodohkan kami berdua. Orang tuaku juga
sepertinya setuju.
"Eh? Uun. Benar juga ya, sebentar lagi Golden Week. Nee
Hiroto. Sebelum libur, apa kamu nggak mau baikan sama Tokiwa-kun?"
Nama orang yang tidak menyenangkan muncul. Baikan apanya, dari
awal kami bukan teman atau apa pun.
"Aku tidak cocok dengannya."
"Bukankah Hiroto yang biasanya itu bisa menyesuaikan diri
dengan baik meskipun dengan orang yang tidak cocok? Tokiwa-kun bukan orang
jahat lho. Dia orang baik."
Sering dikatakan kalau pria yang disebut 'orang baik' oleh
wanita itu artinya orang yang tidak penting baginya, tapi tetap saja Ririse
berkata begitu itu jarang terjadi. Ririse tidak terlalu sering membicarakan
laki-laki. Pada dasarnya dia tidak tertarik pada percintaan atau laki-laki.
Justru karena itulah Tokiwa Kanahisa yang sampai jadi topik pembicaraan adalah
orang yang sangat tidak baik.
"Sudah kubilang kan? Dia orang yang tidak baik. Jangan
dekati dia. Tidak akan ada hal baik yang terjadi."
"Tapi Hiroto, waktu acara teater tempo hari, kamu datang
menemui Tokiwa-kun dan Misaki kan? Kamu tertarik pada Tokiwa-kun kan?"
Ririse tersenyum seolah menggodaku. Aku iri pada sifatnya yang
polos. Padahal aku sejak upacara masuk terus dibuat pusing oleh si Tokiwa
Kanahisa itu.
"Aku hanya khawatir soal Isumi-san saja. Gawat kan kalau
dia dapat pengaruh buruk darinya."
Aku sudah memberinya peringatan tersirat. Aku menun-jukkan niat
bahwa aku selalu siap mengambil kembali Isumi Misaki, sumber daya manusia yang
berharga itu, kapan saja. Tapi kalau dia ada di dekat pria itu, entah kenapa
roda takdir jadi berputar ke arah yang salah.
"Misaki waktu itu cantik ya. Makanya tidak perlu khawa-tir
kan, tapi kamu malah khawatir? Kayak orang bodoh."
Meskipun tersenyum, Ririse melontarkan kata-kata itu dengan
suara yang sangat dingin. Aneh. Apa dia marah pada Isumi Misaki? Memang dia
keluar dari kelompokku, dan belakangan ini tidak bersama Ririse lagi. Ririse
menyukai Isumi Misaki. Saat makan bersama dengan orang penting, mereka berdua
selalu mengobrol akrab. Apa dia merasa dikhianati? Atau...? Yah, sudahlah jangan
diselidiki. Ririse itu minatnya cepat berubah. Dibiarkan saja mungkin tidak
apa-apa. Mengobrol lebih jauh pun sepertinya tidak akan ada hasilnya.
"Ririse. Sadar tidak ini sudah jam dua malam. Besok kamu
ada latihan pagi klub pemandu sorak kan? Sebaiknya kamu tidur."
"Uun. Iya ya. Kalau begitu selamat tidur ya. Bye bye~"
Ririse tidak merengek atau apa, langsung menutup jendela dan
juga gordennya. Aku juga menutup jendela dan gordenku. Lalu aku menghadap meja
dan menyalakan PC.
"Nee Hiro. Kenapa kamu begitu peduli pada si Tokiwa itu?
Orang seperti itu tidak penting kan?"
Terdengar suara dari tempat tidur. Tomoe bangun dan memelukku
dari belakang. Sepertinya Tomoe pura-pura tidur dan sejak tadi menguping
pembicaraanku dengan Ririse.
Setidaknya dia tidak menunjukkan diri di depan Ririse,
sepertinya dia tahu posisinya, tapi tetap tidak mengenakkan.
"Kau menguping? Selera yang buruk."
Aku tidak menoleh ke arah Tomoe, tapi juga tidak melepaskan
pelukannya, aku menghadap monitor. Di sana terpampang laporan hasil
penyelidikan latar belakang Tokiwa Kanahisa dari berbagai sudut, serta analisis
hubungannya saat ini dengan Isumi Misaki dan Kouyou Yuzuriha.
"Cuma kedengeran kok. Lagian Tokiwa itu nggak hebat kok!
Dia cuma orang licik yang iri sama Hiro! Dia terus menerus menjelek-jelekkan
sirkel pada Riri! Benar-benar menyebalkan! Riri itu baik hati jadi langsung
percaya begitu aja. Cuma itu."
"Tapi cerita soal sirkel yang dia katakan itu fakta lho.
Sirkel tenis antar universitas Fakultas Kedokteran itu kan cuma tempat cari
jodoh. Bukan, pasar mungkin? Pria menjual status sosial tinggi sebagai
mahasiswa Kedokteran. Wanita menukarnya dengan daya tarik seksual tubuhnya
sendiri, itu tidak lebih dari perilaku mencari pasangan primitif yang
menjijikkan mirip kerumunan monyet. Konyol sekali."
"Eh... tapi dia kan menghina Hiro dan teman-teman..."
"Tidak penting. Hal seperti itu. Lagipula kalau dilihat secara
objektif, yang bodoh mungkin bukan dia tapi aku. Aku sadar kok. Karena aku
sudah memutuskan untuk berkorban demi mimpi."
Tatapan yang dia arahkan padaku memang jelas mengandung
kebencian. Seringkali pria yang tergila-gila pada Ririse menatapku seperti itu.
Kukira dia salah satunya, tapi sikapnya terhadap Ririse sangat ambigu.
Itulah yang membuatku kesal. Prinsip tindakannya tidak terbaca.
Aku jadi sulit memutuskan harus bagaimana. Padahal dua orang sumber daya
manusia yang kubutuhkan untuk mewujudkan mimpiku ada di tangannya. Terutama
kehilangan Kouyou Yuzuriha cukup berat.
"Nee Hiro. Tokiwa itu mengganggu kan? Kalau begitu. Seperti
biasa, kita rekayasa aja skandal! Kalau kita buat dia dikeluarkan dari
universitas..."
"Kalau mekakukan cara itu, dia pasti akan datang lalu
membunuhku."
"Eh... Apa itu. Bercanda... kan?"
Tomoe tampak bingung. Hal seperti inilah yang menu-rutku dia
tidak mengerti. Instingnya sebagai wanita buruk. Makanya wanita ini tidak akan
bisa menang melawan Ririse.
"Tidak bercanda kok. Dia pasti akan mencoba
menying-kirkanku segera dengan cara kekerasan kalau aku melewati batas. Aku
tahu dari matanya. Dia tidak normal. Dia adalah binatang buas yang menahan
diri."
Makanya pertarunganku dengannya harus kuselesaikan saling
menghancurkan dalam batas legal. Aku belum pernah melawan musuh seperti ini
sebelumnya. Aku sudah sering mengambil risiko berbahaya melawan yakuza atau
preman, tapi dia ini tingkat bahayanya jauh lebih tinggi. Orang seperti inilah
yang selalu menarik perhatian Ririse.
"Kalau saja Ririse tidak ada.….. pasti tidak akan jadi
begini..."
Aku bergumam sangat pelan sampai Tomoe pun tidak bisa
mendengarnya. Tapi itulah perasaanku yang sebenarnya.
*
(Sudut Pandang Ririse)
Mataku jadi sulit terpejam. Akhir-akhir ini malam seperti ini
sering terjadi. Makanya kalau nggak mengalihkan perasaan dengan bicara pada
Hiroto, aku nggak bisa tidur nyenyak. Meskipun bagi Hiroto yang harus
menemaniku mengobrol pasti menyebalkan sih.
"Kenapa ya aku selalu melihat ke arah Tokiwa-kun
saja."
Beberapa waktu ini aku sadar diriku terus memperhati-kannya.
Beberapa waktu lalu aku bisa mendekatinya dengan aktif, tapi sekarang sudah
tidak bisa. Aku tidak tahu harus berbuat apa dengan perasaanku. Pertama kali
aku memper-hatikannya adalah saat upacara masuk.
Saat bertemu dengannya, aku tidak merasakan apa-apa. Aku hanya
ingat makeup gadis pirang di sebelahnya agak 'begitu' dan menakutkan. Sosoknya
baru tertangkap jelas di mataku saat dia membuat Hiroto kesal. Hiroto teman
masa kecilku itu mungkin laki-laki sempurna. Gadis mana pun pasti bilang pengen
pacaran dengan Hiroto. Pelajaran, olahraga, apa aja dia bisa. Populer bukan
cuma di kelas, tapi di seluruh sekolah, seluruh daerah, uun, ke mana pun dia
pergi.
Pasti gadis-gadis di dunia ini sangat menyukai laki-laki seperti
itu. Ayah, ibu, kakak, adikku, semua suka Hiroto. Aku pun tahu apa yang
diharapkan semua orang pada perjalanan Golden Week nanti. Dibandingkan dengan
laki-laki mana pun, mungkin nggak ada yang bisa menandinginya. Aku memang belum
pernah pacaran, tapi aku tahu kalau Hiroto adalah pilihan terbaik dibandingkan
siapa pun. Makanya kupikir tidak ada. Orang yang sampai dibenci oleh Hiroto
yang hebat itu.
"Dibenci oleh Hiroto itu hebat ya. Apa Tokiwa-kun tidak
takut ya?"
Aku baru pertama kali melihat orang yang benar-benar dibenci
oleh Hiroto si kesukaan semua orang. Aku terkejut. Makanya aku jadi tertarik.
Ternyata dia orang yang baik, tapi sikapnya padaku kasar dan dingin, terus buat
aku kesal. Tapi tetap saja menyenangkan. Makanya aku pengen Hiroto berbaikan
dengan Tokiwa-kun, tapi apa sudah nggak mungkin ya. Sebentar lagi Golden Week
datang. Kalau begitu mungkin akhir akan dimulai.
"Kenapa aku nggak bisa melakukan apa-apa ya. Padahal
rasanya gelisah begini."
Aku ini gadis bodoh yang sudah melakukan kesalahan di masa lalu.
Aku nggak berhak melakukan sesuatu atas kemau-anku sendiri. Makanya aku sudah
meminta pada Hiroto, tapi tetap aja ditolak. Kesempatan untuk mengobrol dengan
Tokiwa-kun sudah nggak banyak lagi. Tinggal sedikit lagi.
"Tapi begini udah bagus kan. Kalau aku melakukan sesuatu
sendiri, pasti akan salah lagi nanti..."
Aku sudah melakukan hal yang tidak termaafkan. Aku melakukan
dosa yang tak terampuni. Kalau semua orang tahu, mereka pasti akan menjauhiku.
Mungkin cuma Hiroto saja yang akan tetap di sisiku selamanya. Menerima hukuman
sendirian itu sepi. Makanya sampai hari itu tiba, aku ingin bersama seseorang.
"Makanya aku tidak boleh melibatkannya. Tapi... tapi...
saat aku menerima hukumanku nanti..."
Aku tidak tahu hukuman masa depan seperti apa yang menantiku.
Tapi tidak ada satu hari pun aku melupakannya. Tapi tapi tapi. Kalau saja kalau
saja kalau saja boleh berharap.
"Tokiwa-kun. Apa nggak boleh melibatkanmu? Lihatlah, aku.
Lihat aku yang akan menerima hukuman..."
Aku tidak punya hak untuk egois. Tidak ada satu hal pun yang
bisa kulakukan. Aku tidak bisa memutuskan apa pun sendiri. Kalau aku yang
memutuskan, pasti akan salah lagi.
Makanya aku tidak bisa memilih apa pun. Aku ingin terbawa arus.
Terbawa arus, terbawa arus, dan cepat menerima hukuman.
Aku ingin mengakhirinya.
Aku pun memejamkan mata. Mimpi selalu menyiksaku. Tapi aku akan
terus melihat mimpi ini. Sampai hari di mana semuanya berakhir.
(TL/N : Doi punya kesalahan dimasa lalu, tapi cuman bisa
ngandelin si Bajingan hiroto ini, makanya gak bisa apa-apa buat sekarang.)
*
(Sudut Pandang Kanahisa)
Ayashiro yang sudah menenggak habis bir kalengnya mengangkat
tangan, dengan senyum lebar dia berkata dengan suara lantang.
"Aku akan lakukan lelucon singkat!"
"Hyuu! Bagus! Garing! Garing! Gahahaha!"
Ayashiro pun berbaring telentang di atas tempat tidur,
merentangkan kedua tangannya ke atas kepala.
"Aku ikan tuna! Kalau kamu sih nggak bakal bisa bikin aku
muncrat──!"
Setelah menekuk dan membuka kedua lututnya, dia menggeliat-liatkan
badannya.
"Ikan tuna wkwkwkwk Hahahaha! Gadis ikan tuna di atas kasur
itu payah sekali! Hiii! Hati pria yang rapuh bisa terluka wkwkw"
Lebih jauh lagi, Ayashiro meluruskan kedua kakinya, membawa
kedua tangannya ke area selangkangan, lalu membentuk segitiga dengan jarinya ke
arah langit-langit.
"Dari ikan tuna jadi Cumi! Menusuk!"
Ayashiro terus menerus menggerakkan jari-jarinya yang membentuk
segitiga itu naik turun di atas pinggangnya.
"Hentikan wkwkw Hahahaha! Jangan bilang 'cumi menusuk' dong
wkwkw Baru pertama kali lihat orang bodoh main plesetan soal sashimi dan
tusuk-cabut wkwkw"
"Nah berikutnya giliranmu! Garing! Garing! Hooooooo!"
Menurutku kamar ini hebat sekali, meskipun kami segila ini
suaranya tidak terdengar sampai ke sebelah. Justru karena itu aku akan
mengeluarkan kesungguhanku! Aku juga naik ke tempat tidur, lalu berbaring di
sebelah Ayashiro yang sedang duduk bersandar di dinding.
"Baik! Sekarang aku akan peragakan kegagalan seorang
perjaka!"
Aku sendirian mengambil gaya seperti posisi misionaris, kedua
tangan menumpu di kasur seperti merangkak.
"A-aku mulai ya! Huh! Huh! Huh! Huh!"
Bukannya menggerakkan pinggul, aku malah melakukan push-up di
tempat. Sepertinya bagi Ayashiro itu lucu, dia sampai menyemburkan sedikit bir
yang diminumnya.
"Buuh! Ahahaha! Gyahhahahaha! Lucu banget wkwkwk-wkwkwkwkw!
Gawat! Kena banget! Kena banget. Aduh─ww! Goyangin
pinggulmu dong wkwkw kenapa posisi misionaris malah push-up wkwkwkwkwkwkw, kamu
bodoh banget tauu wkwkwkwkwkwkw"
Sebagian perjaka memang benar-benar melakukan kesalahan seperti
ini. Bukannya menggerakkan pinggul, tapi malah melakukan push-up di atas si
gadis. Dan itu adalah aku! 'Istri'-ku yang kena push-up dulu juga tertawa
terbahak-bahak. Pengalaman pertama yang buruk ya.
"Fuuh... Lenganku pegal~"
Aku terkulai lemas di tempat tidur. Kegilaan yang sangat
menyenangkan.
"Ahaha. Seru ya. seriusan. Benar-benar seru. Ahaha. Nee
Tokiwa. Kamu juga sama kayak aku? Nggak bisa nerima sepenuhnya masa
lalumu?"
Saat kulihat wajah Ayashiro, dia tersenyum begitu rapuh. Ada
nuansa kesedihan di sana.
"Sekarang aku hidup dengan senang. Tapi soal masa lalu...
un. Benar-benar tidak bisa kuterima."
"Nggak bisa dimaafkan ya. Kamu juga."
Aku sama sekali belum memaafkan masa laluku. Soal 'istri'-ku
tentu saja, dan kelemahanku sendirilah yang menyebabkan situasi itu yang paling
tidak bisa kumaafkan.
Kalau saja aku pria yang lebih kuat, hal seperti itu pasti tidak
akan terjadi. Aku selalu berpikir begitu. Ada kekurangan dalam diriku. Aku
mati-matian mencoba mengisinya. Kalau tidak, aku akan kehilangan semua yang
berharga. Aku takut akan hal itu.
"Ayashiro juga?"
"Iya. Aku juga punya hal yang nggak bisa kumaafkan.
Benar-benar nggak bisa dimaafkan. Aku tau harus memaaf-kan, tapi tetap aja
nggak bisa. Nggak bisa. Ini mungkin cerita yang agak aneh, tapi belakangan ini
aku jadi ngerti kenapa agama ngajarin memaafkan sesama, dan Tuhan mengampuni
dosa. Dosa itu sangat besar, terlalu berat buat ditanggung sendirian sampai
nggak bisa kita atasi. Meskipun ingin aku lempar, dia bakal terus kejer ke mana
pun. Menghancurkan kita. Itu bakal terus berlanjut sampai hari kita bisa
memaafkan. Mirip neraka kan. Makanya manusia berangan-angan tentang Tuhan.
Kalau nggak menyerahkan segalanya sama Tuhan, manusia bakal terus menderita
selamanya."
Aku merasa mengerti apa yang dikatakan Ayashiro. Masa lalu tidak
bisa dikembalikan. Aneh sekali. Padahal aku sudah melakukan time leap. Tapi
masa lalu terus mengejarku ke mana pun. Padahal masa laluku seharusnya adalah
cerita masa depan. Meskipun waktu diputar kembali, masa lalu tetaplah masa
lalu. Dosa dan hukuman tidak mau menghilang. Aku tidak bisa memaafkan dosa
'istri'-ku. Makanya aku memberikan hukuman sebagai pelampiasan. Dan dengan
begitu aku menanggung dosa baru. Padahal seharusnya aku menghadapinya dengan
benar.
"Nee. Karena lagi mabuk, aku rasa sekarang aku bisa cerita.
Aku mohon. Suatu saat nanti saat aku menghadapi dosaku sendiri. Tetaplah di
sisiku dan genggam tanganku ya."
Ayashiro pun berbaring di sebelahku. Tangan kirinya menggenggam
erat tangan kananku. Begitu ya, Ayashiro pasti kesepian sama sepertiku.
"Boleh. Kalau waktunya tiba, katakan saja. Aku pasti akan
datang ke sisimu."
"Makasih. Sebagai gantinya. Aku bakal memaafkan masa
lalumu."
Aku merasakan sentuhan lembut di kepalaku. Ayashiro memelukku ke
dadanya. Kehangatan yang sangat lembut, seperti seorang ibu memeluk anaknya.
"Aku udah melihat dari dekat apa yang udah kamu lakukan.
Semua orang bahagia karena kamu ada. Itu pasti penebusan dosa kan, gimana
menurutmu?"
"Aku tidak tahu. Tapi. Kalau semua orang tertawa. Aku juga
senang."
Hari-hari sampai sekarang terasa menyenangkan. Tentu saja ada
hal yang tidak menyenangkan.
Tapi karena aku ada, seseorang bisa tersenyum. Hanya itu saja
yang kurasa boleh kubanggakan dari diriku.
"Iya bener. Kamu udah berusaha. Berusaha sangat sangat keras. Kamu anak
yang sangat baik."
Ayashiro pun mengelus kepala dan punggungku. Aku menyerahkan
diri pada kenyamanan itu.
Dan perlahan aku mulai mengantuk.
"Selamat tidur~♥. Hari ini mari kita bermimpi indah bersama
ya."
Lalu aku pun tertidur. Mimpi yang kulihat saat itu pasti adalah
mimpi yang sangat membahagiakan.
Previous Chapter | Next Chapter

Tidak ada komentar:
Posting Komentar