Chapter 2 - Teman yang Didapat Saat Orientasi Biasanya Tidak Bertahan Lama
Bicara soal orientasi, semua orang berpikir itu adalah
kesempatan mencari teman. Tapi meskipun dapat teman di sini, seringkali
persahabatan malah lebih mendalam dengan orang yang cocok saat pesta minum
jurusan atau acara lain nanti. Jadi, apa tidak apa-apa kalau aku bolos
orientasi? Soal-nya di jurusan ini ada...
"Tokiwa-kun, boleh duduk di sebelahmu?"
Awal-awal orientasi. Saat aku sedang memeriksa silabus di sudut
kelas, aku disapa oleh 'istri'-ku. Atau lebih tepatnya, dia malah menyapaku.
"Jurusan arsitektur kan banyak perempuannya, lebih baik kau
ke kelompok perempuan saja sana. Duduk denganku juga tidak akan menyenangkan
kok."
Tentu saja aku merasa canggung. Aku sudah siap mental kalau kami
pasti akan bertemu karena satu jurusan. Tapi aku tidak menyangka dia akan
menyapaku duluan.
Padahal aku baru saja bermasalah dengan pria selingku-han teman
masa kecilnya itu di dunia putaran kedua ini saat upacara masuk.
"Menurutku nggak begitu kok... nggak boleh ya?"
"...Ugh... lakukan sesukamu..."
Sulit menolak kalau diminta dengan mata berkaca-kaca seperti
itu. Tepatnya, aku tidak bisa menolak. Aku ini pernah mengalami kehidupan
pernikahan yang singkat, yang pada dasarnya adalah menjadi ATM berjalan
istriku. Mungkin tubuhku secara refleks mencoba memenuhi keinginan 'istri'-ku.
Atau mungkin ini kebiasaan yang muncul dari pengalaman bahwa membuatnya marah
itu akan rumit dan merepotkan.
"Ne, lihat cewek itu." "Cantik banget ya."
"Nggak tahu? Katanya dia model pembaca lho." "Dia juga pernah
ikut kejuaraan nasional pemandu sorak kan." "Dengan wajah secantik
itu bisa masuk universitas kita, terlalu sempurna." "Tapi kalau satu
jurusan, apa ada kesempatan?" "Siapa gitu ajak kenalan sana!"
Suara bisik-bisik terdengar dari sekitar. Semua orang
memperhatikan 'istri'-ku. Tentu saja. Dia punya wajah yang seratus dari seratus
orang pasti setuju kalau itu cantik. Ditambah lagi warna mata dan rambutnya
yang langka mem-berikan kesan misterius pada orang di sekitarnya. Nantinya dia
juga berhasil menang telak di kontes kecantikan kampus.
Kalau sudah begini, mungkin ini adalah kekerasan ber-nama
kecantikan. Sebaliknya, karena aku duduk santai di sebelahnya, rasanya aku jadi
dimusuhi oleh para laki-laki.
"Ne, Tokiwa-kun ambil mata kuliah apa aja? Di univer-sitas
asal SKS nya cukup, boleh ambil berapa aja dan boleh bolos juga kan ya? Beda
banget ya sama SMA. Rasanya seperti bohong kalau sampai belum lama ini kita
ikutin jadwal pelajaran sesuai yang ditentuin."
"Aku ini mengulang setahun, jadi sudah tidak begitu ingat
soal SMA."
Aku mencoba memotong pembicaraannya saat 'istri'-ku mengajakku
bicara. Mahasiswa yang langsung lulus dan yang mengulang setahun memang
biasanya ada jarak di awal-awal. Nanti juga tidak ada yang peduli lagi, tapi
sekarang pasti jadi perhatian.
"Eh? Lebih tua ya... ya ampun. Maaf, dari tadi aku pakai
bahasa santai."
Tiba-tiba dia berganti ke bahasa formal.
Wajahnya benar-benar terlihat menyesal. Ini agak gawat. Kalau
padaku sih tidak masalah dia bersikap begini, tapi sikap ini tidak boleh pada
mahasiswa mengulang setahun lain. Karena pada dasarnya sesama angkatan itu
pakai bahasa santai.
"Sebaiknya jangan pakai bahasa formal ke sesama ang-katan.
Mau mengulang setahun atau langsung lulus, di univer-sitas itu dibatasi per
angkatan."
"Begitu ya... begitu ya. Syukurlah. Un. Tadi aku kaget
karena rasanya kayak ada dinding. Ehehe."
'Istri'-ku terlihat lega, dan tersenyum manis. Sampai sekarang
pun menurutku dia wanita yang sangat manis. Aku tidak pernah melihat 'istri'-ku
di masa muda sedekat ini. Selalu hanya bisa melihat dari jauh. Karena itu aku
baru sadar sekarang kalau rambut kepang half-up nya ternyata lebih tipis dari
yang kubayangkan.
Saat menyadari itu, aku merasa sangat gelisah yang tak
tertahankan. Makanya aku berdiri dari kursi.
"Aku mau keluar sebentar cari angin."
"Eh? Tapi Tokiwa-kun nggak bau rokok loh? Kamu
merokok?"
"Aku suka beli kopi di mesin penjual otomatis. Sampai nanti
ya."
Aku memberi alasan dan meninggalkan kursi. Lalu sampai
menit-menit terakhir sebelum orientasi dimulai, aku menghabiskan waktu di depan
mesin penjual otomatis di lan-tai satu gedung dengan minum kopi kaleng yang
tidak kusukai.
Saat kembali mepet waktu, di sekitar 'istri'-ku sudah ada
kerumunan orang, terutama laki-laki. Aku diam-diam men-dekat, mengambil tas dan
materi kuliahku, lalu pindah duduk di kursi yang jauh darinya. Tak lama
kemudian dosen datang dan orientasi pun dimulai.
Orientasi itu membosankan. Aku sudah di putaran kedua, jadi aku
sudah tahu semua aturan universitas. Bahkan aku tahu mata kuliah mana saja yang
gampang. Setiap waktu istirahat, 'istri'-ku melihat ke arahku, tapi karena dia
langsung dikerumuni orang, dia tidak bisa mendekat.
Lalu tiba waktu istirahat makan siang. Orientasi hari ini
selesai sampai di sini. Sore hari bebas. Selagi 'istri'-ku diajak makan oleh
para laki-laki, aku segera kabur dari kelas dan menuju kantin mahasiswa yang
jauh dari kelas.
Kampus Komaba di Universitas Kouto itu luas. Kantin mahasiswa
juga tersebar di beberapa titik. Yang kutuju adalah kantin dengan menu yang
agak mahal. Malah, apa ini bisa disebut kantin mahasiswa? Tempatnya cukup
modis. Rasanya lebih banyak digunakan oleh para madam yang tinggal di dekat
kampus daripada para profesor.
"Ara? Kebetulan banget ya. Bertemu di tempat seperti ini.
Jangan-jangan kamu stalker ku ya?"
Di kursi area luar, ada Ayashiro. Seperti biasa, dia memakai
baju Jirai-kei yang ber-aura menhera. Mungkin sedang masa chuunibyou nya, hari
ini dia memakai hoodie dasar hitam dan rok hitam yang dipadukan dengan blus
merah muda. Gaya rambutnya hari ini twintail pendek. Kalau dipakai cewek
sungguhan biasanya hanya terlihat norak, tapi Ayashiro terlihat sangat manis.
"Bukan stalker. Aku cuma ingin jalan sedikit lebih jauh
saja. Kalau kau sendiri kenapa di sini? Tempat ini kan jauh dari gedung kuliah
jurusanmu?"
Aku duduk di meja Ayashiro dan membuka menu. Harganya dua sampai
tiga kali lipat dari kantin mahasiswa lainnya.
"Lidahku nggak puas dengan menu murah kantin maha-siswa.
Makanya aku ke sini... sebenarnya aku pengen bilang begitu sih. Tapi sejujurnya
aku kabur."
Ayashiro menyendok pasta dengan garpu secara anggun dan
membawanya ke mulut. Anehnya, dia terlihat anggun seperti lukisan.
"Dari para laki-laki?"
Aku memanggil pelayan dan memesan set clubhouse sandwich.
Harganya seribu yen, tapi kalau dipikir sebagai harga untuk kabur dari
'istri'-ku, rasanya murah. Mengingat di putaran pertama aku sampai pindah rumah
sepuluh kali demi kabur darinya. Tentu saja itu sia-sia belaka karena dia
selalu berhasil menemukanku.
"Betul. Aku kabur dari mata lapar yang mesum dari para
cowok dan mata iri hati yang hina dari para cewek. Menye-balkan banget,
semuanya langsung tergila-gila padaku pas liat aku. Untuk apa sih mereka datang
ke universitas? Kalau mau cari pacar, pakai saja aplikasi kencan kan
bisa."
"Malah di zaman sekarang, universitas itu tempat untuk
main-main. Seperti aku ini. Benar-benar begitu."
Diriku yang sekarang hanya memikirkan bagaimana cara menikmati
masa muda, dan bertemu wanita menarik. Pada dasarnya mungkin nggak ada bedanya
dengan para cowok yang mengerumuni Ayashiro.
"Itu mungkin benar ya. Tapi kamu tipe yang suka belajar
kan? Benar kan?"
"Ah, ya, aku suka. Aku juga tidak berniat bohong soal itu.
Aku datang ke sini juga karena bisa belajar arsitektur terbaik."
"Oh gitu ya. Punya tujuan yang jelas itu enak sama bagus
ya. Harusnya emang begitu kalau mau kuliah. Lain kali ceritain ya alasan kamu
mutusin buat masuk arsitektur."
"Kenapa tidak ngobrol sekarang saja? Aku sih tidak
masalah."
"Kalau kamu cerita, nggak adil dong kalau aku nggak cerita
alasanku masuk fakultas hukum. Maaf tapi aku belum mau ngobrolinnya. Tolong
ngerti ya."
"Yah, kalau kau tidak mau cerita aku tidak akan tanya sih.
Kau ini memang orang aneh ya."
"Fufufu."
Sikapnya saat tertawa sambil menutup mulut terlihat sangat
anggun. Anak ini, meskipun penampilannya aneh, tetap saja memberi kesan kalau
dia dari keluarga baik-baik. Aku jadi semakin penasaran padanya, mungkin karena
pengala-manku dengan wanita sangat kurang. Aku jadi mudah menyu-kai wanita yang
terlibat denganku. Pola pikir perjaka kedua ini mungkin agak menjijikkan ya.
Tak lama kemudian makan siangku datang.
Makan siang berdua begini, terasa cukup menyenangkan. Rasanya
seperti masa muda.
"Ngomong-ngomong, kamu senggang hari Sabtu?"
"Hm? Sejauh ini sih senggang." kataku.
"Ada sirkel yang ingin aku datangi. Ada pesta
penyam-butannya, temenin aku ya."
Aku terkejut. Diajak minum oleh wanita, mungkin ini pertama
kalinya bahkan termasuk di putaran pertama. 'Istri'-ku, sebelum kami pacaran,
adalah wanita yang sama sekali nggak pernah mengusulkan apa pun duluan.
Meskipun ini pesta penyambutan jadi bukan ajakan yang romantis
sih. Tapi diajak saja sudah membuatku senang.
"Boleh. Ayo pergi bersama. Di mana tempatnya?"
"Shimokita. Tempat itu bagus ya. Waktu SMA aku sering
belanja di sana."
"Memang tempat yang bagus sih. Menurutku ciri khas utama
kota itu ada pada hubungan antara stasiun dan area pertokoannya. Pemandangan
kota yang semrawut itu katanya berakar dari pasar gelap pasca-perang.
Akhir-akhir ini me-mang sudah direnovasi jadi lebih rapi sih, tapi kesemrawutan
di sekitar stasiun dulu itu jelas punya keindahan tersendiri. Meskipun semua
elemennya independen, tapi semuanya pasti punya latar belakang ideologi yang
sama yang membuktikan eksistensinya secara kokoh dan instan dan..."
Saat aku sedang asyik bicara soal sejarah struktur kota dan
filosofinya, jari telunjuk Ayashiro dengan lembut menyentuh mulutku. Jarinya
yang menyentuh bibirku terasa lembut. Karena itu aku tidak bisa bicara lebih
lanjut.
"Stop. Wajahmu saat bicara dengan antusias tadi manis sih.
Tapi ya, isi pembicaraannya nggak kumengerti dan agak jijik. Fufufu."
"Mumu. Padahal bagian serunya baru mau dimulai..."
"Ufufu. Jangan cemberut gitu ya. Tapi syukurlah. Kamu punya
sesuatu yang kamu sukai selain main-main. Aku seneng mengetahuinya. Lain kali
ceritakan lagi ya. Tapi harus dibuat lebih mudah dimengerti, oke?"
"Baiklah. Akan kuusahakan."
Ada wanita yang mau mendengarkan ceritaku. Itu pasti salah satu bentuk
kebahagiaan yang tak tergantikan oleh apa pun.
Dulu 'istri'-ku juga mendengarkan ceritaku dengan lem-but sambil
tersenyum. Kenangan itu sama bahagianya dengan waktu yang kuhabiskan bersama
Ayashiro saat ini.
Ternyata ada orang lain selain 'istri'-ku yang mau mende-ngarkan
ceritaku. Mengetahui hal itu saja sudah membuat hari ini menjadi hari yang
sangat membahagiakan.
*
Selama orientasi, aku berusaha sebisa mungkin untuk tidak
mendekati 'istri'-ku. Tapi berada di dalam kelas yang sama dan terus melakukannya
ternyata mustahil.
"Tokiwa-kun. Hari ini ayo kita makan bareng teman-teman
sekelas. Aku ingin bicara baik-baik dengan semua orang di jurusan."
'Istri'-ku belakangan ini sepertinya belajar sesuatu dari
kerumunan orang yang mengerubunginya, dia mulai melaku-kan rotasi makan siang
dengan anggota jurusan yang berbeda setiap hari. Alasan 『Ingin bicara dengan semua orang selama orientasi』 yang dia pakai terus terang cerdik menurutku. Biasanya dia
santai dan cuek, tapi entah kenapa khusus saat memojokkanku otaknya jadi encer.
"Yah, aku sudah masak di rumah jadi..."
Meskipun begitu, tentu saja aku menolak. Aku benar-benar tidak
tahu harus bicara apa, dan kenangan buruk terus muncul kembali membuatku merasa
muak dan tidak nyaman.
"Gitu ya~. Kalau begitu hari ini aku juga nggak makan di
kantin, pulang aja makan di rumah. Un, sayang sekali ya~"
Saat 'istri'-ku berkata begitu dengan nada sedih, anggota makan
siang hari ini yang berada di belakangnya menatapku dengan tatapan tajam yang
mengerikan. Aku tahu betul alasannya. Kalau kesempatan ini dilewatkan, mungkin
tidak akan pernah ada lagi kesempatan makan bersama dengannya selamanya. Kalau
dipikir begitu, wajar mereka jadi nekat. Dan aku merasakan insting. Kalau aku
menolak makan siang ini di sini, aku akan kehilangan tempat di jurusan ini.
"Kalau dipikir-pikir lagi, masakan di rumah bisa dimakan malam
nanti! Ayo kita ke kantin! Ahaha! Ahahahaha!"
"Oh gitu ya! Syukurlah! Menu spesial hari ini apa ya? Nggak
sabar kan ya, ufufu."
Aku sudah pasrah. Akhirnya aku pun dibawa serta untuk makan
siang.
Kami datang ke kantin mahasiswa dalam kelompok sekitar delapan
orang termasuk aku dan 'istri'-ku. Kantin mahasiswa selalu ramai. Jumlah
mahasiswa di universitas kami cukup banyak. Makanya saat jam sibuk, harus
cepat-cepat cari tempat duduk. Tapi ya, 'istri'-ku ini terlahir sebagai putri.
"Ah... hari ini ramai ya... apa kita nggak bisa duduk
ya..."
'Istri'-ku terlihat murung. Wajahnya pun tampak sangat memelas.
Tapi dia cantik. Begini pun terlihat anggun seperti lukisan. Artinya...
"Oi! Kami sudah selesai makan, pakai saja tempat ini!"
Para Senpai yang terlihat seperti anak klub olahraga yang duduk
di meja dekat kami buru-buru menghabiskan makanan mereka dan mengosongkan
tempat untuk kami, atau lebih tepatnya, untuk 'istri'-ku.
"Eh! Benarkah! Wah terima kasih banyak! Aku senang sekali
ada Senpai-senpai yang baik hati!"
"Ah nggak juga kok! Aku Satou, Fakultas Ekonomi Jurusan
Kebijakan Finansial tahun kedua." "Aku Tanaka, Fakultas Hukum Jurusan
Politik tahun kedua!" "Aku Suzuki, Fakultas Sastra Jurusan Sastra
Inggris-Amerika tahun ketiga!" "Aku Saitou, Fakultas Teknik Jurusan
Mesin dan Elektronika tahun ketiga!" "Aku... (dan seterusnya)."
Para Senpai itu memperkenalkan diri demi mencari kesempatan. Aku
belum pernah melihat perkenalan diri menyedihkan seperti ini. 'Istri'-ku senang
dengan polosnya, tapi mungkin semenit lagi juga sudah lupa. Para Senpai itu
pergi meninggalkan kantin mahasiswa dengan senyum malu-malu. Dan kami pun duduk
di meja yang kosong itu.
Masing-masing mengambil menu makan siang dari konter dengan
nampan. 'Istri'-ku duduk dengan santai di sebelahku. Sesaat suasana membeku. Di
jurusan teknik hanya ada sedikit perempuan. Jadi di kelompok ini, selain
'istri'-ku, semuanya laki-laki. Ada otaku, introvert, populer, semua campur
aduk tanpa kesamaan, tapi semuanya menatapku dengan dingin.
Hebat ya, manusia bisa bersatu jika ada musuh bersama. Aku sudah
berusaha menghindari 'istri'-ku agar tidak menjadi musuh itu! Dia ini
benar-benar memojokkanku secara alami!
"Nee nee, kenapa semuanya memilih universitas ini?"
'Istri'-ku memulai topik yang sangat cocok untuk masa orientasi.
Para cowok langsung berebut menceritakan alasan mereka masuk universitas ini
pada 'istri'-ku. Semuanya adalah cerita sombong yang nggak ada isinya. Introver
yang berkoar kalau dia siswa terpintar di sekolahnya. Yang populer bilang, "Dulu
sih nggak bisa belajar, tapi pas serius belajar eh lulus deh~!". Otaku
yang sok hebat bilang mau mengukir nama dalam sejarah penelitian arsitektur.
Anak orang kaya sok pintar yang berkoar akan meneruskan perusahaan konstruksi
ayahnya dan memperluas bisnisnya, dan lain-lain. Kenapa ya cerita cowok ke
cewek itu selalu membosankan begini? Benar-benar membosankan.
"Hei Tokiwa-kun. Dari tadi diem aja kan ya? Apa kamu gugup
karena belum berinteraksi dengan teman-teman sejuru-san? Manis juga ya,
fufufu."
Senyumnya yang memberikan kesan keibuan itu sangat indah.
Mendapatkan senyuman itu seharusnya membahagia-kan, kalau dalam kondisi normal.
Kenyataannya semua orang di sekitar terpesona sampai bengong. Tapi bagiku,
kecantikan wanita ini adalah racun. Semakin dia terlihat cantik dan manis,
semakin fakta pengkhianatannya membuatku merasa hina.
"Tidak juga. Bukan begitu kok."
"Oh ya? Kalau begitu ceritakan kenapa kamu datang ke
universitas ini."
'Istri'-ku mencondongkan tubuh mengintip wajahku. Wajah
'istri'-ku yang kukenal jauh lebih dewasa dari sekarang. Tapi sekarang masih
ada kepolosan kekanakan. Aku tidak mengenal 'istri'-ku di masa ini. Kenapa ya
rasanya kesal karena tidak mengenalnya. Makanya kuputuskan untuk menjauhkan
dia.
"Aku masuk kesini karena gagal masuk universitas seni.
Arsitektur itu bagaimanapun punya kaitan erat dengan seni. Aku ingin melakukan
sesuatu yang sedikit berbau seni. Kalau begitu, sebaiknya masuk ke tempat
terbaik. Itu saja alasan-nya."
Aku merasakan para laki-laki di sekitar sedikit kesal. Maklum
saja, Universitas Kouto adalah universitas top di Jepang. Bukan tempat untuk
dijadikan pilihan cadangan. Aku ini gagal masuk universitas seni. Sampai
sekarang pun kadang ada hari di mana aku berpikir dalam hati inginnya masuk
universitas seni saja.
"Oh begitu. Aneh ya..."
'Istri'-ku memasang ekspresi aneh yang sulit
diartikan. Begini saja sudah bagus. Nanti juga aku akan keluar dari lingkaran
ketertarikannya.
Saat aku sedang merasa lega berpikir begitu.
"Ririse? Ternyata kamu makan di sini hari
ini?"
"Ah. Hiroto. Yahhoo~."
Saat aku menoleh ke arah suara itu, di sana
ada Hagiri. Di sekelilingnya ada mahasiswa laki-laki dari fakultas kedok-teran.
Semuanya menatap 'istri'-ku penuh kekaguman.
"Semuanya, perkenalkan. Dia teman masa
kecilku, Ririse, Igarashi Ririse."
Hagiri memperkenalkan 'istri'-ku pada
teman-teman fakultas kedokterannya. Itu jelas tindakan pamer kekuasaan. Hagiri
memamerkan bahwa dia punya kekuatan untuk akrab dengan wanita secantik ini.
Tidak lama lagi fakultas kedok-teran juga pasti akan jatuh ke tangannya. Dia
pintar sekali bermanuver politik.
"Aku Igarashi Ririse. Mohon
bantuannya."
'Istri'-ku berdiri dan memberi salam dengan
sopan pada teman-teman fakultas kedokteran itu. Kenaggunan sikapnya jelas
memikat para mahasiswa kedokteran itu. Ini kekerasan. Kekerasan
kecantikan.
Hagiri mengendalikan sepenuhnya kekerasan yang
dimi-liki 'istri'-ku. Ikatan yang kuat. Hubungan erat mereka berdua. Hubungan
manis yang nantinya akan berubah menjadi cinta. Tidak mungkin menang, aku jadi
yakin begitu.
"Teman-teman seangkatan-nya Ririse.
Tolong jaga teman masa kecilku ini ya. Ririse ini agak ceroboh, jadi tolong
bantu dia."
"Mou! Aku nggak sebodoh itu tahu! Hiroto
ini selalu aja memperlakukanku seperti anak kecil."
'Istri'-ku tertawa malu. Meskipun mulutnya
mengeluh, ekspresinya cerah. Hubungan di mana mereka bisa bercanda dengan
bebas. 'Istri'-ku saat bersamaku dulu adalah wanita pendiam yang selalu
tersenyum tenang. Wanita tenang yang jarang sekali mengutarakan sesuatu duluan.
"Habisnya, kita bersama sejak kecil sih.
Perasaanku padamu tidak berubah sejak kecil tahu. Fufufu."
Hagiri berkata begitu sambil tersenyum segar.
Itu adalah senyum ramah yang pasti disukai orang. Meskipun aku tidak berpikir
begitu.
"Ngomong-ngomong Ririse. Setelah ini kami
mau pergi makan di luar bersama Klub Riset Periklanan, bagaimana?"
"Eh? Tapi aku masih makan..."
'Istri'-ku bingung dengan ajakan tiba-tiba
itu. Lagipula makan siangnya juga masih tersisa cukup banyak.
"Ini jalan pintas untuk jadi penyiar
wanita impianmu lho. Katanya hari ini alumni pria yang jadi produser di
stasiun TV sengaja datang. Ini kesempatan. Ayo kita jual tampang dan cari
koneksi. Tenang saja, aku pasti akan membantumu!"
Setelah lulus kuliah, 'istri'-ku menjadi
penyiar wanita di stasiun TV swasta besar Tokyo. Tentu saja karena
kecantikan-nya dia jadi sangat populer dan laris manis di program berita,
wawancara orang terkenal, dan variety show. Sampai level tidak ada hari tanpa
melihatnya di TV.
"Ayo pergi. Maaf ya, semuanya. Ini demi
masa depan Ririse. Kuharap kalian mengerti."
Hagiri menundukkan kepala pada kami, para
laki-laki jurusan arsitektur. Tapi justru kamilah yang merasa kalah. Hagiri
bisa mengendalikan ke mana 'istri'-ku pergi. Semua orang paham bahwa sebagai
laki-laki, dia sangat dekat dengan 'istri'-ku. Ya, aku tidak bisa menang.
"Kalau begitu ayo pergi, Ririse!"
"Ah... maaf ya..."
'Istri'-ku berkata begitu padaku. Wajahnya
terlihat sedih karena merasa bersalah. Wajah yang sama seperti waktu itu. Wajah
yang sama saat pengkhianatannya terbongkar. Aku sudah muak melihat wajah
seperti itu.
Aku pun berdiri, meletakkan tangan di bahu
'istri'-ku dan menekannya sedikit agar dia kembali duduk. Aku melakukan-nya
dengan lembut, jadi seharusnya tidak sakit.
"Eh... Tokiwa-kun... kenapa?"
"Habiskan makananmu. Sayang kan kalau
dibuang."
Di piring makan siang 'istri'-ku masih tersisa
dua udang goreng.
"Hei. Tokiwa-kun. Apa kau mau menghalangi
masa depan Ririse?"
Hagiri menatapku tajam. Aku balas menatapnya.
"Berisik. Keluargaku itu petani tahu. Aku
tidak akan memaafkan orang yang menyia-nyiakan makanan."
Keluargaku adalah petani di Hokkaido. Aku
datang ke kota karena tidak berniat meneruskannya. Rumah kami nanti akan
diteruskan oleh adik perempuanku dan suaminya, jadi tidak masalah.
"Dibandingkan makan siang ini saja,
koneksi dengan produser stasiun TV besar jelas jauh lebih penting kan?
Omonganmu tidak ada gunanya."
"Aku tidak peduli. Standar nilaimu tidak
ada hubungan-nya denganku. Lagipula yang ingin bertemu produser itu kau kan,
bukan... Igarashi?"
"...Bertemu produser itu demi keuntungan
Ririse juga."
"Itu tidak menjawab pertanyaanku. Hei.
Kau tidak akan bohong pada Igarashi kan? Coba bersumpah sekarang di de-pan
Igarashi. Kalau kau sendiri tidak punya niat bernegosiasi apa pun dengan
produser itu."
Hagiri terdiam. Aku punya pengetahuan masa
depan. Teman masa kecil tipe pria selingkuhan ini mulai muncul di TV sekitar
musim panas.
Akan ada program yang tayang dengan mahasiswa
aktif dari Universitas Kouto yang bergengsi sebagai pusatnya.
Dengan penampilannya yang segar, pria ini akan
menjadi idola ruang keluarga. Dia akan menerbitkan buku referensi atau buku
motivasi diri dan meraup banyak uang. Mungkin dia akan membicarakan hal itu
dengan produser.
Mengajak 'istri'-ku ikut mungkin agar
negosiasinya lebih lancar berkat pesonanya. Yah, mungkin benar juga kalau jalan
menjadi penyiar wanita akan terbuka untuknya.
"Nee... Hiroto."
"Ririse. Jangan terpengaruh omongan
Tokiwa-kun. Orang ini tipe yang menjatuhkan lawan dengan argumen tidak masuk
akal. Tidak baik lho, orang seperti ini."
"Hiroto. Aku masih ingin bicara dengan
teman-teman di sini. Dan juga, menyisakan makanan emang nggak baik. Kurasa
orang seperti itu nggak boleh jadi penyiar wanita. Nggak pantas bicara di depan
orang di TV dengan sok hebat. Un."
'Istri'-ku berkata begitu sambil menatap
Hagiri dengan wajah serius. Hagiri tampak bingung melihat mata 'istri'-nya itu.
Tapi dia segera memasang senyum segar.
"Baiklah. Iya juga ya Benar kata Ririse.
Bertemu dengan produser kita tunda lain kali saja. Kalau begitu, sampai kete-mu
nanti malam."
"Un. Sampai jumpa, Hiroto."
Hagiri dan 'istri'-ku saling melambai kecil.
Lalu Hagiri pergi meninggalkan kantin mahasiswa bersama rombongan pengikutnya.
'Istri'-ku terlihat malu-malu dengan pipi sedikit memerah. Lalu dia menatapku
dari bawah sambil berkata.
"Ano ne... Tokiwa-kun... teri... ma...
ka..."
"Terima kasih makanannya. Teman-teman.
Aku permisi duluan. Aku harus belajar di perpustakaan."
"Ah... tu... nggu..."
Aku pun berdiri sambil membawa nampan-ku.
'Istri'-ku mengatakan sesuatu di belakangku tapi kuabaikan. Lalu aku pun
meninggalkan kantin mahasiswa itu.
Previous Chapter | Next Chapter
Tidak ada komentar:
Posting Komentar