Chapter
1
Nasib Pelaku dan Para Pendendam Sehari Sebelum Kencan
──Sabtu, Sehari Sebelumnya (6 September, Sore Hari)・Sudut Pandang Miyuki──
"Aku benar-benar minta maaf atas kebodohan anakku kali ini.
Biaya rumah sakit dan lainnya akan kutanggung sepenuhnya."
Ayah senior itu menunduk dengan sikap tulus. Tapi, Ibu sama
sekali tidak menoleh padanya.
"Jangan meremehkan kami. Uang sebesar ini pun bisa kami
bayar sendiri. Memang pantas sebagai seorang politikus, ya. Sambil memandang
rendah kami, kau menunduk dengan akting meyakinkan seolah benar-benar merasa
bersalah. Aku tak sudi melihat wajah penipu sepertimu, jadi cepatlah
pulang."
Ibu mengatakan itu dengan dingin. Kata-katanya terasa seperti
ditujukan padaku juga, membuat hatiku terasa ngilu. Aku belum pernah melihat
Ibu semarah ini sebelumnya. Ini semua salahku. Aku sampai pingsan, membuat Ibu
yang sudah sibuk harus khawatir dan memaksakan diri lebih jauh lagi.
"Kalau begitu, ini kartu namaku. Silakan hubungi saya kalau
ada apa-apa."
Ayah senior itu meletakkan amplop berisi uang tanpa
memperlihatkannya pada Ibu, lalu pergi.
Setelah keduanya pergi dan ruangan rumah sakit menjadi sunyi,
Ibu bertanya dengan suara bergetar.
"Hei, Miyuki. Ibu benar-benar tidak mengerti dirimu. Orang
bernama Kondo itu tahu kamu punya pacar, tapi tetap mendekatimu, kan? Kenapa
kamu bisa... dengan pria seperti itu... apa kamu benar-benar menyukai pria
itu?"
"......"
Aku tak bisa menjawab apa pun. Aku sendiri pun sudah tidak tahu
lagi apa yang kurasakan. Dan kalau Ibu tahu bahwa Eiji dibully karena kami, apa
yang akan terjadi? Aku takut hal itu diketahui.
"Begitu ya, kamu tak bisa menjawabnya ya. Apa yang kamu
lakukan itu salah sebagai manusia. Dan aku, sebagai orang tua, bahkan tidak
bisa mengajarkan hal sepenting itu pada anakku. Aku benar-benar ibu yang paling
buruk."
Aku membuat Ibu yang telah membesarkanku seorang diri mengatakan
hal sekejam itu. Rasa putus asa itu membuatku gemetar dan menangis.
"Maafkan aku."
"Orang yang harus kamu minta maaf itu bukan aku, kan?
Pulanglah hari ini. Tolong, biarkan Ibu sendiri."
Ucapan penolakan dingin itu menusuk langsung ke dadaku.
── Sore Hari yang Sama・Sudut
Pandang Pelapor ──
Aku memastikan pasangan selingkuh itu diamankan, dan sebelum
matahari terbenam aku sudah kembali ke stasiun terdekat dari SMA kami. Tapi ini
belum akhir dari balas dendamku. Ini baru permulaan.
Aku mengambil seragam yang kusimpan di loker koin stasiun,
berganti pakaian di toilet, dan menuju sekolah dengan wajah tanpa dosa.
Hampir semua klub sudah selesai latihan dan sedang membereskan
peralatan. Karena hari ini habis ujian simulasi, sepertinya banyak yang
mengakhiri latihan lebih cepat.
Kalau aku bertemu kenalan di sini, cukup bilang datang untuk
mengambil barang yang tertinggal, pasti tak jadi masalah. Memang aku tidak ikut
ujian hari ini, tapi aku sudah memberi tahu bahwa aku sedang sakit. Kalau aku
bilang aku datang untuk mengambil buku catatan vocab kecil buat belajar, tak
akan ada yang curiga.
Bahkan jika aku harus berbohong pada siapa pun, yang paling
penting adalah balas dendam.
Dengan hati-hati agar tak ada yang tahu, aku menuju ruang klub
sepak bola. Latihan sudah selesai. Kabarnya, besok akan ada pertandingan uji
coba. Kalau begitu, saat itulah waktunya memperlihatkan foto-foto ini. Meskipun
aku bukan dari klub olahraga, tak aneh kalau aku berkeliaran di sekitar
lapangan dengan seragam sekolah.
Lagi pula, ruang-ruang klub di sekolah kami tidak terletak dekat
lapangan, tapi terkumpul di tempat lain. Jadi, kalau aku terlihat baru selesai
latihan dan sedang ganti pakaian, pasti tak ada yang mencurigai.
Setelah itu, aku tinggal berpura-pura tidak sengaja menjatuhkan
amplop berisi foto-foto hasil cetak dari minimarket ke ruang klub sepak bola.
Aku menyelipkannya dari celah pintu ke dalam.
Anggota klub sepak bola semuanya mengidolakan Kondo. Sudah
kutelusuri bahwa mereka bahkan ikut membully Aono dengan alasan keadilan versi
mereka sendiri. Jadi, mereka tak pantas mendapat belas kasihan. Ini seperti bom
waktu.
Memang, bakat sepak bola Kondo luar biasa, dan karisma yang
dihasilkan dari bakat itu menyulitkan. Tapi, bergantung pada karisma itu juga
merupakan kelemahan. Karena karisma itu bisa dihancurkan jadi serpihan oleh
keraguan.
"Foto ini akan menghancurkan klub sepak bola dari dalam.
Bahkan kalau mereka berhasil melewatinya, mereka tak akan bisa bertahan di
turnamen penting. Sisanya, biarlah para anggota klub yang memperbesar
ceritanya."
Mitsuda dari klub sepak bola hanya numpang tenar di bawah
bayang-bayang Kondo. Tentang bullying Aono yang dilakukan oleh para anggota
kelas dua klub sepak bola juga sudah kutelusuri. Mereka bodoh. Padahal kalau
menelusuri media sosial, keterlibatan klub sepak bola dalam bullying bisa
langsung diketahui.
Sekolah pasti sudah mulai menyelidiki, jadi sebagian besar pasti
sudah terbongkar. Aku tinggal memberikan pukulan terakhir, lalu biarkan
semuanya hancur dalam kekacauan.
Namun, kenyataan bahwa sekolah masih membiarkan mereka bergerak
bebas menandakan ada sesuatu. Aku punya dua hipotesis:
Hipotesis ①:
"Pihak sekolah berusaha menjatuhkan Kondo yang diduga sebagai otak di
balik keributan ini dengan mencari bukti pasti, agar tidak ada celah untuk
membela diri."
Kalau ini benar, maka pihakku akan lebih mudah bergerak. Aku
punya data foto yang merugikan Kondo. Kalau aku bekerja sama aktif dengan para
guru, bisa menjatuhkan Kondo sepenuhnya.
Namun jika Hipotesis ②: "Pihak sekolah justru terlibat aktif dalam upaya
penutupan dan penghilangan bukti," maka ceritanya jadi lebih rumit.
Kalau hanya mengandalkan foto itu, bisa-bisa hanya dianggap sebagai
bukti hubungan tidak pantas dan selesai dengan hukuman ringan.
Fakta bahwa ayahnya Kondo adalah presiden perusahaan konstruksi
lokal dan juga anggota dewan kota membuat situasi makin pelik.
Kalau Hipotesis ①
benar, maka pihak sekolah mungkin sedang menunggu waktu yang tepat untuk
menjatuhkan hukuman sebelum si ayah beraksi. Tapi kalau Hipotesis ② benar, maka karena takut akan pengaruh
sang ayah, sekolah ikut menyembunyikan semuanya, dan lebih baik aku meminta
bantuan dari anggota dewan kota lain atau komite pendidikan.
Aku sempat berpikir untuk membocorkan info ini ke streamer
pengungkap kasus, tapi aku urungkan niat ini karena tidak pasti mereka akan
mengangkat kasus ini, dan ada resiko besar mereka menyunting bagian tentang
Aono menjadi bahan sensasi, yang bisa menyebabkan trauma kedua.
"Bahkan kalau klub sepak bola runtuh dan mereka kalah telak
di turnamen penting, catatan Kondo hanya akan sedikit ternoda. Dia akan terus
hidup dengan tenang. Dan terus menyakiti orang lain... seperti Aono."
Sejujurnya, aku tak bisa memaafkan diriku sendiri. Kalau saja
waktu itu aku melakukan sesuatu, Kondo tak akan sebegitu sombongnya. Hanya aku
satu-satunya yang mungkin bisa menghentikan mereka.
Aku membayangkan wajah teman masa kecilku yang kini tak lagi
menyimpan apa pun selain dendam. Masalah kali ini pasti akan benar-benar
menghancurkan mentalnya yang sudah tidak stabil. Tapi aku tidak peduli soal
itu. Sudah sewajarnya aku memprioritaskan teman yang tetap bersamaku di saat
sulit, daripada orang yang telah membuangku.
Karena aku sendiri pernah hancur secara mental dan mengurung
diri di rumah. Aku harus mengulang satu tahun untuk bisa masuk SMA ini, tapi
pada akhirnya, akulah juga yang turut memperbesar dampak kejahatan Kondo. Itu
juga adalah tanggung jawabku.
"Eh, bukankah itu Endou? Ada apa? Bukankah klub sains
libur? Lagipula bukankah kamu juga absen karena sedang tidak enak badan sejak
kemarin? Tadi pun kamu tidak ikut ujian simulasi."
Seseorang tiba-tiba menyapaku dari belakang dan aku pun refleks
menoleh. Di sana berdiri Imai, teman sekelasku yang mengenakan seragam kyudo.
Aku bersyukur atas pertemuan tak terduga ini. Imai adalah teman
masa kecil dan sahabat Aono yang lain. Lewat Aono, dia jadi teman keduaku saat
SMA. Kalau itu dia, pasti tahu sesuatu.
Dengan ini, balas dendamku mungkin telah melewati satu titik
penting. Dadu telah dilempar. Tuhan ada di pihakku.
"Ah, aku ada barang yang ketinggalan. Minggu depan ada kuis
kecil, kan? Yang hafalan kosakata Bahasa Inggris. Aku kelupaan bawa bukunya,
jadi datang buat ngambil."
Aku menggunakan alasan yang sudah kusiapkan. Meski dia pintar,
dia seharusnya tidak curiga.
"Begitu, ya. Tapi kamu lagi nggak enak badan, kan? Sampai
bolos ujian simulasi segala. Jangan terlalu memaksakan diri ya. Kalau bilang,
aku bisa antar ke rumah, tahu."
"Wah, itu terlalu merepotkan. Lagipula, bukunya kusimpan di
loker yang udah kukunci."
Sepertinya dia sudah cukup menerima penjelasanku, jadi aku pun
mulai masuk ke topik utama. Aku sudah melewati satu rintangan, yakni tidak
dicurigai. Sekarang masuk ke hal penting.
"Ngomong-ngomong, Aono baik-baik saja? Aku sempat kirim
pesan LINE karena khawatir, tapi belum dibaca sampai sekarang."
Kurasa dia sengaja menghindari melihat pesan. Kalau aku di
posisinya, aku juga pasti begitu.
Dalam situasi di mana seluruh kebencian sekolah tertuju padamu,
tentu saja menakutkan untuk membuka media sosial.
Dan aku tak bisa memaafkan orang-orang yang membuat teman
pentingku sampai menjadi seperti itu. Orang yang telah menolongku dijadikan
sasaran ejekan—mana mungkin bisa dimaafkan?
"Ah, dia lumayan baik-baik saja, kok. Jadi kamu juga
khawatir ya, Endou. Syukurlah. Bukan cuma kami, ternyata masih ada orang lain
yang peduli."
"Itu sudah pasti. Aono bukan orang yang akan melakukan hal
seperti dalam gosip."
"Kalau begitu, nanti setelah dia kembali sekolah, ayo kita
sama-sama menjenguk. Sekarang dia masih masuk lewat UKS. Tapi katanya berkat
Takayanagi-sensei dan yang lainnya, kondisinya sudah cukup membaik. Kalau kamu
datang, dia pasti senang banget."
Terima kasih, Imai. Informasi bahwa Aono mulai membaik berkat
bantuan para guru sangat penting untuk rencana balas dendam ini. Setidaknya
sekarang aku tahu kalau pihak sekolah tidak berencana menutupi masalah ini.
Kalau mereka menunjukkan sedikit saja tanda menutup-nutupi, Imai pasti akan
bertindak tegas.
Aku tahu sekarang kalau pihak sekolah bisa diandalkan. Itu
artinya, hipotesisku yang pertama kemungkinan besar benar.
Kalau begitu, untuk saat ini, aku akan menyerahkan data foto itu
ke pihak sekolah dan melihat reaksi mereka.
Kalau tidak salah, di situs sekolah ada nomor faks yang bisa
digunakan untuk kontak. Memang ketinggalan zaman menggunakan faks di era
sekarang, tapi justru itu menguntungkan kali ini. Mengingat risiko pelacakan
dari server email, mengirim dari mesin faks di minimarket yang digunakan banyak
orang akan membuat pengirim sulit dilacak.
Tapi hanya itu saja bisa dianggap sebagai lelucon, jadi aku juga
akan memasukkan foto cetaknya ke dalam amplop yang ditujukan pada
Takayanagi-sensei dan menaruhnya di kotak surat sekolah.
Dengan ini, tahap kedua dari balas dendamku selesai.
"Kalau begitu, aku pulang dulu. Sampai jumpa minggu depan,
ya."
Aku mengakhiri pembicaraan dengan tenang dan cepat. Aku tak bisa
membiarkan Imai terlibat dalam balas dendam ini. Kalau dia mendukungku secara
terang-terangan dan jadi sasaran balas dendam Kondo dan yang lain, itu akan
jadi bencana. Kalau Imai mengalami nasib yang sama seperti Aono, aku bahkan tak
akan bisa memaafkan diriku sendiri.
"Ah, jaga kesehatanmu, ya. Oh iya, Endou. Ini mungkin cuma
rasa kepo... atau mungkin cuma khayalanku saja sih, tapi..."
Biasanya dia orang yang blak-blakan, jadi aneh rasanya
melihatnya ragu-ragu begitu.
"Hm?"
"Jangan terlalu memaksakan diri ya. Kalau memang sudah
terlalu berat, kamu boleh mengandalkan aku, atau guru, siapa pun. Tolong,
ya."
Waktu seakan membeku sejenak.
Jangan-jangan... dia tahu? Bagaimana bisa? Bukankah aku tidak
memberikan informasi apa pun?
Aku baru sadar wajahku masam, jadi buru-buru kutarik senyum
palsu. Jangan biarkan dia sadar. Imai itu pintar. Hanya dengan sedikit
informasi saja, dia mungkin bisa menyusun semuanya dan mengetahui kebenaran.
Dan kalau dia sadar, dia pasti akan mencoba menolongku dan membahayakan
dirinya.
"Eh? Ah... kamu ngomongin soal masuk angin, ‘kan? Makasih
udah khawatir."
Dengan susah payah aku mengeluarkan alasan itu, dan dia pun
tertawa. Tawa yang biasa seperti biasanya.
"Iya, maksudku soal masuk angin. Repot banget, ya, sampai
harus ke sekolah cuma buat ambil buku kosakata."
Aku tidak membenarkan atau menyangkal. Kami hanya pura-pura
seirama dan tertawa bersama.
Kami pun berpisah dengan tawa.
※
—Sore hari yang sama, sudut pandang Takayanagi—
Ujian simulasi sudah selesai, dan sebenarnya aku boleh langsung
pulang, tapi masih ada banyak pekerjaan yang harus diselesaikan.
Aku lembur di ruang guru dan menyelesaikan semua itu. Akhirnya,
satu minggu yang penuh gejolak ini berakhir juga. Pertarungan ini baru saja
dimulai, tapi setidaknya bimbingan tambahan untuk Aono sudah bisa dimulai, dan
kami sudah berhasil menjalin komunikasi dengan orang tuanya.
Hubungan saling percaya antar staf pengajar juga berjalan baik.
Sampai saat ini, semuanya berjalan lancar. Besok aku sepertinya harus kerja di
hari libur, tapi tinggal sedikit lagi.
"Lancar, ya. Hanya karena aku berpikir begitu saja, rasanya
aku sudah terlalu sombong. Toh, masalah ini seharusnya tidak pernah terjadi.
Sekolah juga tidak sepenuhnya bebas dari tanggung jawab."
Sedikit rasa benci muncul terhadap diriku yang lemah. Dan ada
satu masalah lagi: guru Ayase, wali kelas pendamping, merasa sangat bersalah
karena kasus Aono, sampai-sampai dia jatuh sakit dan tidak masuk kerja. Aku
ingin membantu, tapi sekarang aku harus memprioritaskan Aono, jadi aku serahkan
semuanya ke kepala sekolah dan wakil kepala sekolah.
Masalah ini penuh dengan hal yang harus direnungkan. Tapi aku
tidak boleh terlalu larut dalam penyesalan. Itu akan melemahkan kemampuan
menilaiku, dan semakin lama masalah ini berlangsung, semakin berat pula beban
fisik dan mentalnya.
Sepertinya aku memang sedikit lelah. Aku bisa bertahan sampai
sejauh ini berkat dukungan banyak orang.
Setelah menyelesaikan koreksi kuis yang tertunda karena berbagai
urusan, aku pun berdiri untuk beristirahat sejenak.
Ayo minum kopi dulu dan segarkan pikiran.
Sambil membawa mug yang kusimpan di lemari dan kopi instan di
kedua tanganku, aku melintasi depan mesin cetak dan mendengar suara penerimaan
faks.
"Faks? Zaman sekarang, itu sudah langka ya."
Memang kadang-kadang masih dipakai untuk komunikasi dari dewan
pendidikan, tapi di era Reiwa ini, bahkan masa keemasan email pun sudah lewat.
Aku dengar banyak guru yang membuat daftar grup di LINE untuk berkomunikasi
dengan murid. Aku benar-benar terkejut bahwa email pun mulai dianggap sebagai
barang kuno.
Ketika aku memeriksa apa yang diterima, terlihat semacam foto di
sana.
"Apa!?"
Resolusinya sangat rendah. Wajar saja, karena ini dari faks.
Tapi itu adalah bukti yang selama ini kucari.
Meskipun fotonya hitam-putih dan sulit dilihat, data faks ini
seharusnya juga tersimpan di server sekolah. Kalau kulihat dari sana, semuanya
akan lebih jelas.
Aku langsung melupakan kopi dan buru-buru mencari data gambar di
server.
Dengan menggunakan software pengolah gambar, aku mengedit
warnanya. Hanya dengan itu saja, gambar menjadi jauh lebih jelas dibandingkan
faks.
"Kondo dan Amada..."
Aku tidak tahu kapan foto itu diambil. Tapi yang pasti, mereka
berdua sedang hendak masuk ke love hotel.
Foto kedua menunjukkan keduanya sedang diamankan oleh polisi.
Dan ada catatan tulisan tangan yang berbunyi, ‘Foto warna asli
telah dimasukkan ke kotak surat sekolah. Silakan dicek.’
Aku teringat pada kesaksian waktu itu:
[Memang benar, aku dan Eiji sempat bertengkar karena hendak
putus... Lalu, saat aku jalan bersama Kondo-senpai yang menemaniku curhat, Eiji
melihat kami dan salah paham.]
[Kami kebetulan jalan bareng, lalu dia melihat kami dan
menyangka aku selingkuh, mungkin begitu.]
Dengan begini, jelas bahwa kesaksian mereka berdua adalah
bohong. Bukti ini bisa digunakan untuk menggoyahkan mereka lebih jauh.
Jika foto ini dan penyelidikan berjalan lancar, mungkin
kebenaran akan segera terungkap.
Namun, ada satu hal yang menggangguku.
Tentang si pelapor anonim ini.
Kemungkinan besar, dia bukan staf pengajar, melainkan murid
sekolah ini. Bisa saja orang tua, tapi sepertinya tidak perlu menggunakan cara
se-rumit ini.
Bagaimana murid anonim itu bisa mengambil foto ini?
Pasti dia mengambil resiko besar.
Mungkin dia sangat dendam pada Kondo dan Amada, atau punya rasa
terima kasih besar pada Aono.
Kupikir, salah satunya. Namun yang jelas, dari foto ini terasa
bahwa dia punya tekad kuat, seolah tidak peduli kalau harus mengorbankan
dirinya sendiri.
Padahal dia masih anak remaja…Harus melewati seberapa kerasnya
hidup sampai bisa punya tekad seperti itu?
Lagipula, dia masih belum dewasa, masih harus dilindungi oleh
orang dewasa.
Sejak bekerja di dunia ini, aku sudah sering melihat anak-anak
yang tak bisa kulindungi sebagai orang dewasa.
Murid yang tak bisa bersekolah karena utang orang tua yang
kacau. Murid yang tumbuh tanpa kasih sayang orang tua dan akhirnya terjerumus
ke kenakalan.
Dan sekarang, seperti Aono, murid yang menjadi korban
perundungan kejam hingga masa depannya hampir dirusak.
Aku ingin menemukan murid seperti itu dan mengulurkan tangan.
Mungkin terdengar sombong, tapi aku merasa itu adalah tanggung jawabku sebagai
guru.
Sebelum sesuatu terjadi, kali ini aku tidak boleh terlambat.
Aku akan menyelesaikan semuanya.
Aku segera menghubungi kepala sekolah dan wakil kepala sekolah,
lalu berbagi informasi.
Beberapa saat kemudian, mereka datang ke sekolah.
"Takayanagi-sensei, maaf kami terlambat."
Kepala sekolah meminta maaf dengan sangat tulus.
"Tidak apa-apa, saya memang berencana lembur hari
ini…"
Sambil menunggu mereka, aku juga menyelesaikan beberapa tugas.
Foto ini cukup kuat untuk membantah semua kesaksian yang ada.
Tentu saja, bisa saja ini hanya ulah iseng untuk menjahili
Kondo, tapi sejauh yang kulihat, ini bukan foto yang tampak dibuat-buat.
Setidaknya, aku pikir kita harus menunjukkan foto ini dan
mendengar penjelasan lagi dari Kondo dan Amada. Lalu, memastikan apakah mereka
benar-benar tidak berbohong.
"Syukurlah kamu langsung menghubungi kami," kata wakil
kepala sekolah.
"Tapi kalau yang mengambil foto ini memang seorang murid,
kita harus bertindak cepat. Kita harus segera menemukannya dan melindunginya.
Kalau tidak, dia bisa berada dalam bahaya. Itu tugas orang dewasa. Karena murid
harusnya dilindungi."
Kepala sekolah terlihat berpikir dengan wajah cemas.
Aku merasa lega karena atasan kami memiliki pandangan yang sama
denganku.
Memang, beliau bisa dipercaya.
"Benar. Sepertinya murid itu mengambil resiko besar. Dan
kalau gerakan ini diketahui oleh klub sepak bola, bisa saja mereka mencoba
membalas dan mencari tahu siapa pengambil foto ini. Kalau sampai terjadi
kekerasan…"
Wakil kepala sekolah juga memegangi kepalanya.
Itu akan menjadi situasi terburuk.
Aku tidak ingin ada murid lain yang terluka karena masalah ini.
Kupikir itu pemikiran yang wajar bagi seorang guru.
"Takayanagi-sensei, apa Anda punya ide bagus? Saya tidak
ingin melihat ada murid lagi yang terluka,"
tanya kepala sekolah dengan ekspresi sangat khawatir.
Aku pun menjelaskan rencana yang sudah kususun sambil menunggu
mereka.
"Ya. Selagi menunggu, saya juga melakukan beberapa
penyelidikan. Kondo dan Amada hari ini absen ujian simulasi karena alasan
sakit. Foto ini mungkin diambil sekitar waktu pelaksanaan ujian. Karena foto
seperti ini disebarkan, kemungkinan besar pengambilnya memiliki dendam mendalam
terhadap Kondo atau merupakan teman dekat Aono. Saya mempersempit pencarian ke
murid-murid yang tidak ikut ujian dan tidak tergabung dalam klub. Saya sedang
menyaring siapa saja yang cocok dengan kriteria itu."
Aku segera menunjukkan daftar murid yang sesuai kepada mereka
berdua.
Pasti salah satu dari mereka adalah pengambil foto.
Dan kami akan melindungi murid itu dengan baik.
Agar tidak ada lagi anak muda yang harus terluka karena masalah
ini.
Previous Chapter | Next Chapter
Tidak ada komentar:
Posting Komentar