Chapter 2
Hancurnya Pihak Pelaku
── Pagi, 7 September ・Sudut Pandang Adik
Kelas Klub Sepak Bola ──
Kami selesai latihan seperti biasa dan kembali
ke ruang klub. Tentu saja kami lelah dan kehabisan tenaga, tapi karena sebentar
lagi ada turnamen besar, ini saatnya kami harus bertahan.
Sebelum kedatangan Kondo-senpai, klub sepak
bola kami lemah. Tapi berkat kehadiran jenius tingkat SMA sepertinya, level
sekolah kami meningkat secara drastis, dan tahun lalu kami bahkan bisa ikut
kejuaraan nasional. Di daerah sini, dia sudah dianggap pahlawan yang mengangkat
tim lemah ke level nasional.
Karena mengagumi senpai, kami yang masuk mulai
tahun kedua adalah kumpulan pemain berbakat sejak SMP. Dengan kedalaman pemain
yang lebih baik dibanding tahun lalu, seharusnya kami bisa hasilkan prestasi
yang lebih baik lagi tahun ini.
Kami sangat mengagumi Kondo-senpai. Makanya,
demi senpai, kami rela melakukan apa pun.
Kami mengganggu Aono juga demi menyenangkan
hati senpai.
Asal bisa membuat Kondo-senpai senang, kami
akan melakukan apa pun.
"Kondo-senpai memang hebat ya. Dia jarang
latihan, tapi tetap luar biasa jago."
Aida bicara dengan nada penuh semangat. Dia
bahkan lebih tergila-gila pada senpai dibanding aku. Sudah kayak penggemar
berat.
"Iya, sentuhannya halus banget."
"Itu udah level J-League deh. Aku belum
pernah lihat jenius kayak dia. Senpai itu harta karun sepak bola Jepang!
Serius!"
Mendengar nada bicara Aida yang begitu
bersemangat, aku cuma bisa senyum masam dan sedikit menenangkan diri.
Kami memang bisa lolos dari interogasi
Takayanagi-sensei dengan mudah, tapi perasaan takut tetap muncul. Aku memang
pengecut.
Aida itu tipe yang benar-benar yakin
Kondo-senpai tak mungkin salah. Kalau aku bilang aku takut, dia pasti cuma akan
tertawa dan bilang, "Gila, mana mungkin Kondo-senpai salah."
"Eh, ada amplop aneh di depan ruang klub.
Ada yang jatuhin?"
Mitsuda-senpai, siswa kelas tiga, bertanya
keras-keras pada kami.
"Itu apa, Senpai? Nggak ada nama penerima
juga. Kalau gitu, ya kita buka aja, kan?"
Saat aku menjawab, senpai bilang, "Ya
juga," lalu langsung merobek bagian atas amplop itu.
"Apa-apaan ini…"
Wajah senpai mendadak memerah, lalu langsung
pucat. Tangannya gemetar. Amplop dan foto yang ada di dalamnya jatuh ke lantai.
Kami mengambil foto itu dan melihatnya
bersama.
Seharusnya kami tidak melihatnya.
Akan lebih baik kalau kami tidak tahu.
Informasi yang tak ingin kami ketahui
tertangkap dalam gambar itu.
Foto pertama memperlihatkan Kondo-senpai dan
Miyuki Amada diam-diam difoto saat hendak masuk ke love hotel. Dari situ saja,
hubungan dekat mereka terlihat jelas. Aku dan Aida pun langsung terguncang.
Padahal, senpai bilang dia hanya mendengar curhatan Amada soal kekerasan dan
perlakuan buruk dari pacarnya, Aono. Tapi melihat foto ini, kelihatannya mereka
malah pacaran.
Jadi… Aono benar-benar menyakiti Amada?
Tapi setelah lihat ini…
Yang kelihatan malah Kondo-senpai yang
berselingkuh dengan Amada.
"Ini pasti salah paham…"
Aida yang ada di sebelahku gemetar. Aku tahu
kalau gambaran sempurna tentang senpai di pikirannya baru saja runtuh. Tapi
kalau dipikir logis, kita ditipu senpai, dan kita sudah melakukan hal yang
gila.
"Eh, ini jelas-jelas hubungan tak pantas.
Love hotel itu kan nggak boleh dimasukin anak di bawah 18 tahun. Kalau ini
terbongkar, apa kita masih bisa ikut turnamen? Kalaupun klub tetap bisa ikut,
bisa menang tanpa Kondo?"
Salah satu senpai kelas tiga berteriak panik.
Mereka sangat ingin hasilkan prestasi di turnamen ini agar bisa dapat
rekomendasi kuliah. Jadi, turnamen kali ini penting banget.
"Siapa yang motret ini, ya? Apa
jangan-jangan anggota klub? Kalau bukan, kenapa amplopnya bisa sampai di depan
ruang klub?"
Mitsuda-senpai bertanya dengan suara cemas.
Semua orang mulai saling pandang dengan penuh curiga. Bisa jadi, salah satu
dari mereka adalah pengkhianat… si pelaku. Semua orang mulai tampak seperti
musuh.
"Ayo cepet tunjukin foto
selanjutnya!"
Aku masih pegang foto-foto itu, dan ternyata
ada lanjutan.
Foto yang berikutnya jauh lebih parah.
Di dalam foto, Amada terlihat sedang ditahan
di bahunya oleh polisi. Sementara itu, Kondo-senpai terlihat mencoba kabur dan
akhirnya dijatuhkan oleh polisi ke tanah.
"Enggak mungkin… ini gila. Ini skandal
besar. Ace kita ditangkap polisi? Kalau ini ketahuan, rekomendasi kita bisa
dibatalkan. Bukan cuma itu—bisa-bisa klub dibubarkan! Kalau begitu, masa depan
kita gimana!? Aku nggak mau!!"
Mitsuda-senpai menangis histeris.
Dibubarkan? Kalau itu terjadi, gimana nasib
masa depan kami? Dan kenapa senpai sampai ditangkap polisi? Jangan-jangan…
selama ini kami dilibatkan dalam kejahatan? Apa Aono sebenarnya nggak bersalah?
Kalau begitu, kami juga ikut bersalah…
Masa depan cerah yang tadi ada di depan mata,
sekarang terasa runtuh seketika.
"Pelakunya. Yang motret ini. Cepat
keluar. Kalau nggak, gue bunuh lo!"
"Kamu ya? Kamu kan sering ngeluh soal
senpai!"
"Buat apa aku kerja keras selama tiga
tahun kalau akhirnya begini!?"
Kecurigaan menyebar seperti api.
Ruang klub langsung berubah jadi neraka.
Neraka penuh saling tuduh dan saling serang.
Dan di tengah neraka itu, datanglah mantan
karismatik kami.
── Pagi hari yang sama・Sudut Pandang Kondo ──
Setelah kejadian kemarin, aku pulang dari
kantor polisi. Ayahku tinggal untuk menemani Miyuki. Karena situasi bisa makin
rumit, aku diminta pulang dulu. Aku pun tidur nyenyak dan sekarang sudah hari
pertandingan latihan.
Padahal stresku sudah hilang, tapi rasanya tetap
nggak enak.
Aku menuju klub. Katanya ada SMA dari luar
daerah yang datang ke sini. Kalau gitu, tinggal hajar habis-habisan aja mereka…
Terus main bareng Cewek Gampangan Nomor 1 yang
katanya mau datang nonton juga.
"Hah~ Hidup ini emang menyenangkan."
Ayo, saatnya menyiksa yang levelnya di bawah
untuk menghilangkan stres. Walaupun aku masih ngantuk.
Begitu aku membuka pintu ruang klub dengan
semangat, hampir semua anggota sudah berkumpul.
Tatapan dingin yang berbeda dari biasanya
menusuk ke arahku.
"A-apa sih, kalian..."
Nggak mungkin mereka menyambut aku—yang
seharusnya jadi ace—dengan tatapan seperti ini. Ada yang aneh.
"Kondo, kau!!"
Watanabe, kapten klub, mencengkeram kerah
bajuku dan langsung mendorongku ke arah loker.
"Sakit, sialan!! Apa-apaan kau, kenapa
nyerang aku!?"
Aku protes karena tubuhku didorong ke loker.
Meskipun dia kapten, ada batasnya juga, kan.
"Tutup mulutmu, kau pikir lagi masa
santai apa sekarang! Ini masa penting buat klub tahu!!"
"Hah?"
Aku nggak ngerti dia ngomong apa. Apa mereka
udah gila?
"Jangan pura-pura bego! Lihat foto
ini!!"
Saat dia bilang begitu dan menyodorkan
fotonya, terlihat jelas gambar aku masuk ke love hotel bersama Miyuki, dan foto
lain saat aku ditangkap polisi.
Apa-apaan ini. Siapa yang… Jangan-jangan ada
pengkhianat? Seketika darahku terasa dingin. Tapi… seberapa banyak yang udah
ketahuan? Guru juga tahu? Atau...
Padahal ayahku seharusnya bisa menghapus jejak
ini, tapi ada foto jelas seperti ini, kayak nyaris ketangkap. Gawat, gawat,
gawat.
Kalau begini, rekomendasiku bisa batal. Masa
depan gemilangku akan tertutup.
"Bukan aku, aku nggak tahu
apa-apa!!"
Kata-kata tanpa logika keluar dari mulutku.
Padahal jelas-jelas itu aku.
"Lihat baik-baik, itu jelas-jelas kau!!
Jangan main-main tahu!!"
Masih dengan kerah bajuku digenggam, aku
kembali didorong ke loker. Rasa sakit yang tumpul menyebar berkali-kali.
Penghinaan, penghinaan, penghinaan.
Aku ini rajanya klub ini. Siapa yang melawan
raja, hukumannya mati!! Gimana kalau ace sekaligus raja seperti aku terluka di
tempat kayak gini?
Masa depan kalian semua ada di tanganku, tahu!
"Diam kau!!"
"Karena kau, gimana dengan turnamen
terakhir kita? Aku ngandelin rekomendasi olahraga. Sekarang kalau belajar buat
ujian juga udah nggak sempat. Kalau karena kelakuan brengsekmu kita nggak bisa
ikut turnamen, gimana coba? Kalau klub ini sampai dibubarkan, hidupku tamat.
Balikin masa mudaku, balikin masa muda kita semua!!"
"Sejak tadi aku diam aja, tapi kalian ini
berisik. Kalian itu cuma numpang naik berkat bakatku, tapi banyak omong
banget."
Aku mendorong tubuh Watanabe dengan sekuat
tenaga. Kalau nggak mukul, aku nggak bakal puas.
"Dasar bajingan!!"
Watanabe menatapku dengan penuh kebencian. Aku
balas menatapnya.
"Dengar baik-baik. Nggak mungkin sekolah
bisa menghukum aku. Ini cuma dianggap pacaran nggak pantas. Kalau udah jadi
anak SMA, pasti banyak yang udah ngelakuin itu kan. Paling-paling cuma diskors
sebentar. Nggak bakal pengaruh ke klub. Lagian, ayahku itu anggota dewan. Kelas
atas, tahu!? Skandal begini gampang dihapus. Kalian beda kelas sama aku! Jangan
pakai cara pandang kalian buat nilai aku yang terpilih ini!!"
"Hah!?"
"Dan sekolah juga nggak akan bisa lepas
dari aku. Kalau sampai keluar kabar mereka menghukum bintang sepak bola SMA,
itu skandal besar tau. Nama baik sekolah bisa rusak. Guru-guru konservatif
nggak bakal bisa terima itu, kan?"
Aku terus bicara cepat.
"Benar juga!"
Salah satu adik kelas menyahut. Ya, jelas
begitu. Aku larut dalam kepuasan atas ucapannya. Beberapa orang bahkan bertepuk
tangan mendukungku.
Enak banget. Lumayan bisa bikin suasana hatiku
membaik.
"Dengar, aku ini tak terkalahkan.
Ekspektasi ke aku beda dari kalian, para pecundang!!"
Ya, aku ini istimewa. Ayahku akan beresin
semuanya. Bakat sepak bolaku juga akan selamatkan aku.
Nggak ada yang bisa lawan aku!!
"Kondo!!"
Walau begitu, saat Watanabe masih mendekat
dengan penuh amarah, aku menyambutnya dengan ucapan:
"Kalau begitu aku tanya, kalian itu
budakku, kan? Kalian juga ikut-ikutan ngebully Aono. Fakta itu nggak bisa
dihapus kan. Kalau sampai itu ketahuan, gimana jadinya, ya? Dan kalau aku nggak
ada, kira-kira kalian bisa menang di turnamen? Heh? Bisa menang nggak? Bisa
dapat rekomendasi kalau aku nggak ada?"
Aku terus memprovokasi. Watanabe gemetar
karena marah, tapi nggak bisa jawab. Racunku mulai bekerja.
Ya, kalian rakyat jelata yang nggak punya
bakat itu harus menerima nasib dipimpin olehku dengan senang hati. Paham, kan?
Ayo, keluarkan umpatan penuh penyesalan dan akui aku. Jadilah budakku.
"Sialan..."
Watanabe mengumpat pelan, mencoba menutupi
kekesalannya. Tapi jangan kira aku bisa dibohongi. Dia menendang tempat sampah
dengan keras, isinya berantakan ke mana-mana.
Efeknya luar biasa. Nanti setelah
pertandingan, aku akan paksa dia sujud dan minta maaf. Kalau nggak sampai
segitu, amarahku nggak akan reda!!
"Bagus, kalau kalian ngerti. Ya, tanpa
aku kalian nggak bisa menang, kan? Jadi diam aja, dasar pecundang!!"
Aku menertawakan para anggota klub sambil
mulai ganti baju dengan seragam. Akulah rajanya, sekarang kalian pasti paham,
kan, rakyat jelata!?
Hidup dan mati mereka semua ada di tanganku.
Ya, mereka itu cuma budak. Apa pun yang kulakukan ke mereka akan selalu
dimaafkan. Bahkan, itu adalah kebahagiaan buat mereka. Jelas begitu.
"Kalau nanti kita jadi dirugikan karena
ulahmu, kau harus tanggung jawab, ya."
Watanabe berkata begitu dengan nada lemah. Ya
ya, si budak ngomong apa sih. Aku cuma tertawa dan mengabaikannya.
"Kalau begitu, kau juga siap-siap buat
nangis dan minta maaf padaku, ya!!"
Dengan itu aku menekannya balik. Orang
sepertiku, sekali diremehkan, tamat sudah.
Nggak apa-apa, pasti masih aman. Aku ini orang
yang terpilih, kan!
Semua stres ini akan kuhilangkan lewat
pertandingan uji coba hari ini. Dan aku akan buktikan kalau aku memang berguna.
Dengan tubuh gemetar, aku menuju lapangan.
Nggak apa-apa. Ini cuma gemetar karena
semangat.
※
— Hari yang sama, sudut pandang Endou —
Aku menonton pertandingan uji coba klub sepak
bola dari ruang kelas kosong di gedung sekolah.
Karena sekolah ini sekolah unggulan, ruang
kelas tetap dibuka sebagai ruang belajar mandiri di hari libur.
Tapi, kebanyakan siswa belajar di bimbel, jadi
ruang kelas selain kelas tiga biasanya kosong.
Makanya, tempat ini cocok banget buat
memantau.
Aku membawa teropong dan mengamati situasi
klub sepak bola. Seperti yang kuduga, bola tidak lagi diarahkan ke Kondo, dan
secara keseluruhan, pergerakan tim menurun drastis. Tampaknya foto kemarin
benar-benar memberikan dampak yang besar.
Mungkin karena semuanya berjalan buruk, Kondo
jadi semakin panik dan terisolasi, lalu terus saja memberi tambahan gol untuk
tim lawan yang jauh lebih lemah.
Kekalahan ini begitu parah sampai terasa
menggelikan. Kalau seluruh klub sepak bola memang terlibat dalam kasus perundungan
itu, maka mereka pantas mendapatkannya.
Di dekat lapangan, aku melihat mantan pacarnya
datang untuk mendukung. Masa lalunya sebagai teman masa kecil benar-benar tak
terlihat lagi. Kini dia hanya memperlihatkan sosok yang sepenuhnya telah rusak,
sampai membuatku jijik.
Tampaknya rencana ini berjalan mulus. Kondo
yang hancur di sini pasti akan melampiaskan stresnya pada pacarnya. Meski sudah
dijadikan mainan, dia tetap tak bisa berbuat apa-apa selain bergantung pada
Kondo. Aku bahkan merasa kasihan padanya.
Kalau semua berjalan sesuai rencana, aku akan
melihat sesuatu yang menarik lagi kali ini.
Lalu, hal menarik itu akan kuoper ke Amada.
Kalau begitu, Kondo akan hancur lebih parah lagi. Dia akan kehilangan dua pilar
besar dalam hidupnya—klub sepak bola dan para perempuan.
Kalau dibandingkan dengan Aono yang kehilangan
segalanya dan bahkan sampai berada di titik minus karena ulah Kondo, ini masih
termasuk balas dendam yang ringan.
Yah, terus terang, sangat sulit mengumpulkan
bukti pasti bahwa Kondo adalah dalang dari perundungan itu. Karena seluruh klub
sepak bola kemungkinan terlibat, kecuali ada kejadian luar biasa, para anggota
klub pasti akan diam demi melindungi diri mereka.
Itulah sebabnya, tujuan utama dari rencana
kali ini adalah membuat para pelaku tenggelam dalam kecurigaan satu sama lain,
menggoyahkan mereka, dan perlahan menuntun mereka untuk saling menghancurkan.
Aku juga telah membocorkan informasi ini ke
pihak sekolah. Dengan begitu, pengawasan akan diperketat. Karena tekanan itu,
bisa saja seseorang akhirnya membuat kesalahan fatal. Kalau itu terjadi,
berarti rencanaku berhasil.
Begitu rasa curiga muncul, pasti akan ada yang
mengkhianati. Kondo akan dikhianati oleh orang terdekatnya dan dilenyapkan
secara sosial.
"Tunjukkan padaku pertunjukan terbaikmu.
Dasar para bajingan!"
Hampir semua orang yang ada di sana adalah
target balas dendamku.
── Di Lapangan • Sudut Pandang Kondo ──
"Apa-apaan ini..."
Di papan skor tertulis angka satu banding
empat.
Padahal seharusnya kami menang telak.
Kenapa? Kenapa? Kenapa bisa begini?
Kenapa kami kebobolan empat gol dari tim yang
jauh lebih lemah dan sekarang memasuki injury time babak kedua? Biasanya,
bangku cadangan penuh dengan pujian untukku, tapi sekarang, suasananya sudah
melewati duka—semuanya kosong dan hampa.
"Aku nggak bisa terima hasil kayak
gini!"
Tembakan jarak jauh terakhirku malah jauh
melambung melewati gawang.
Dan di saat yang kejam itu, peluit akhir
pertandingan pun berbunyi.
"Setelah belagu kayak gitu, akhirnya
tendangannya malah ke luar angkasa. Kau tendang bola ke mana sih?"
Terdengar suara ejekan dari Watanabe.
"Apa katamu!?"
Saat aku menatapnya tajam...
"Aku bilang, memang pantas sih, Yang
Mulia Warga Kelas Atas! Kami rakyat jelata mana mungkin bisa menyamai kesadaran
tinggi kayak kamu, ya kan?"
Watanabe membalas dengan sinis dan penuh
ejekan, tanpa menunjukkan rasa takut sedikit pun.
Aku naik pitam dan hendak memukulnya, tapi
teman-teman setim buru-buru menahanku. Tim lawan hanya bisa melongo melihat
semuanya.
Tim kami benar-benar hancur dari dalam. Yang
tersisa hanyalah kenyataan pahit bahwa ini adalah awal dari kehancuran.
Dengan rasa frustasi karena kalah, aku
meluapkan amarahku dan menyalahkan semua orang di sekitarku.
"Apa-apaan ini, kenapa? Kenapa kalian
nggak ngoper ke aku, hah!?"
Kami yang kalah telak kembali ke ruang ganti
dalam keadaan kesal. Aku menendang tempat sampah dengan keras. Tempat sampah
yang entah sudah berapa kali kutendang hari ini pun sudah penyok parah.
"Oy, Mitsuda! Kenapa kau nggak ngoper ke
aku, hah!"
Aku melampiaskan kekesalan ke Mitsuda, sesama
striker sekaligus salah satu bawahanku.
"Soalnya, Kondo dipantau terus dan nggak
ada jalur operan..."
"Dasar botak, bodoh, lelet. Kalau gitu
kau yang harus bergerak lebih banyak buat buka ruang, kan? Kerja yang benar,
dasar sampah!"
"Hii... maaf..."
Sungguh tak berguna. Untuk membuatku bersinar,
kalian semua harus kerja keras. Itu seharusnya sudah jelas. Kenapa hal
sesederhana itu nggak bisa kalian lakukan?
Lagipula, tim ini memang diciptakan untuk
menjadikanku rajanya. Kalian, rakyat biasa ini, harus mengerahkan segalanya
demi aku. Kalau tidak, tim ini nggak akan pernah menang dan akan hancur total.
Yang penting adalah bagaimana kalian bisa berkeringat demi aku dan
membebaskanku dari penjagaan lawan.
Kenapa hal sesimpel itu nggak bisa kalian
mengerti!?
Kalau aku yang harus banyak bergerak, aku
bakal kelelahan di babak kedua dan nggak bisa berfungsi. Kenapa kalian nggak
paham juga!?
"Meski begitu, Kondo-senpai udah
dipelajari habis-habisan sama tim lawan hari ini. Begitu dapat bola, langsung
kehilangan. Lagipula, setelah kehilangan bola, senpai juga nggak pernah bantu
cover..."
Salah satu anak kelas dua bergumam pelan. Aku
langsung tersulut emosi dan menghantam loker.
"Siapa itu!? Siapa yang ngomongin aku
barusan!? Anak kelas dua, ya!?"
Tak ada satu pun anak kelas dua yang berani
menatap mataku.
"Sialan. Lagipula, lini depan kita payah
banget, jadi kita nggak bisa nyerang. Satu-satunya gol kita cuma dari penalti
yang kuambil. Mana mungkin kita bisa menang dengan situasi kayak gini. Hah,
terus kalian mau dapat rekomendasi atlet? Watanabe, kau pikir siapa dirimu,
hah!? Kalian semua cuma segitu kemampuannya. Kalian cuma perlu jadi
alatku."
Pada akhirnya, Watanabe pun tak bisa berbuat
apa-apa. Padahal sebelumnya sok bicara besar. Yah, bagian itu cukup menghibur
sih. Mereka selalu kehilangan bola dengan mudah. Mereka nggak bisa menyerang
tanpa lewat aku. Makanya semuanya jadi rusak.
Tapi mereka masih berani bicara sok seperti
itu?
"Apa, hah? Bilang sesuatu dong. Kau itu
budakku, kan? Kalau memang budak, bertingkahlah seperti itu dan biarkan rajamu
bersinar! Itu aja nggak bisa, dasar bodoh-bodoh nggak berguna!"
Ahh, lega rasanya. Meski aku kapten, tak ada
yang bisa menentang rajanya. Itu sudah seharusnya. Akhirnya kalian paham juga,
betapa pentingnya aku!
Skandal kecil soal perempuan nggak akan bisa
menjatuhkan posisiku! Kalian seratus tahun terlalu cepat untuk itu!
"Diamlah."
Meski gemetar, Watanabe melawan.
"Apa!?"
"Diam, dasar bajingan. Aku nggak bisa
kerja bareng kau lagi."
Dengan marah, Watanabe menghantam ulu hatiku
dengan tinjunya.
Itu terjadi begitu tiba-tiba, aku tak sempat
melakukan apa-apa dan menerima tinju dari Watanabe.
Karena diserang tanpa pertahanan, tubuhku
menerima hentakan dan rasa sakit yang luar biasa. Aku terjatuh sambil memegangi
perut. Mual yang dahsyat menyerangku. Suara menyedihkan keluar dari mulutku
tanpa bisa kutahan. Kenapa aku—yang adalah sang raja—harus dipukul olehnya? Ini
tidak masuk akal.
"Uwek…"
Tinju yang menghantam tepat sasaran membuat
kerongkonganku terasa panas. Rasanya begitu sakit sampai-sampai aku tidak bisa
bernapas. Kalau kupikir-pikir, aku sudah berkali-kali memukul orang lain, tapi
belum pernah sekalipun dipukul. Ini menyakitkan. Apakah dipukul sesakit ini?
Aku berhasil menahan muntah, tapi saat kulihat
Watanabe menatapku tajam dengan napas tersengal-sengal, aku merasa takut.
"H-hei. Kalian lihat, kan? Dia memukulku.
Aku akan laporkan ini ke pembina. Kalau begitu, Watanabe akan tamat."
Namun, tak satu pun anggota klub setuju
denganku. Bahkan, mereka justru menatapku dengan pandangan dingin. Kenapa?
Bukankah aku ini raja kalian? Tanpa aku, kalian tak akan pernah sampai ke
tingkat nasional.
Apa kalian tidak peduli? Kalau tidak ke
nasional, kalian tidak akan mendapat rekomendasi atau lulus ujian masuk
universitas. Kalau mau minta maaf, sekaranglah waktunya.
Aku ini orang yang murah hati, jadi aku akan
memaafkan kalian. Jadi, hukum Watanabe!!
"H-hei. Kalian lihat sendiri, kan? Di
depan begitu banyak anggota klub, kapten memukul ace, loh!?"
Namun, tak ada yang berkata apa pun.
Sebaliknya, seluruh tim malah tertawa kecil, mencemooh dengan dingin ke arahku.
Watanabe pun menatapku dengan senyum sinis dan
berkata:
"Haah, kau jatuh dan kepalamu terbentur,
ya? Kau itu cuma jatuh sendiri, kan? Kalian juga melihatnya, kan?"
Anggota klub perlahan mengangguk mendengar
ucapannya. Jangan remehkan aku. Aku ini harapan kalian.
Akulah yang menopang tim lemah ini sampai sejauh
ini. Tanpa aku, kalian sudah hancur sejak babak penyisihan daerah. Kalian bisa
menikmati manisnya hasil karena aku. Tapi sekarang, semuanya akan hilang.
Tapi mereka benar-benar tidak mengerti hal
itu. Rakyat jelata memberontak melawan rajanya.
"Benar juga."
"Senpai cuma kesal dan jatuh
sendiri."
"Semua bilang begitu, jadi ya begitulah
kenyataannya, kan."
Mereka menatapku dengan penuh niat jahat.
Bahkan ada junior yang menertawakanku terang-terangan.
Dasar kalian…!
"Baiklah. Jadi kalian berniat melawanku,
ya? Kalau begitu, siap-siap saja. Aku akan buat kalian menyesal!"
Aku tahu kelemahan mereka. Tak masalah. Kalau
kuancam nanti, mereka pasti akan langsung memohon-mohon padaku. Yang perlu
kulakukan hanya mengancam mereka lalu menunggu sampai mereka kembali waras.
"Dengar baik-baik, Raja sialan. Kami dulu
patuh karena kau bisa membawa kemenangan. Tapi kalau kau tidak bisa memenangkan
pertandingan, kau tak ada nilainya. Sudah cukup, sadar dirilah, dasar
brengsek!"
Watanabe membentakku, tapi aku mengabaikannya.
Karena aku pikir itu akan membuatnya semakin marah.
Dengan kesal aku keluar. Tak ada satu pun yang
mengejarku. Sial, tadinya aku mau hubungi Miyuki, tapi setelah kejadian
kemarin, sebaiknya jangan berhubungan dulu.
Kalau begitu, si nomor satu saja. Benar juga,
tadi dia bilang mau datang menonton. Cewek itu selalu ada saat dibutuhkan, jadi
walau tak kupanggil, pasti sedang menunggu di suatu tempat.
"Kondo-kun!"
Sudah kuduga dia ada. Gadis yang kurebut dari
teman masa kecilnya saat SMP, cewek yang paling bisa dimanfaatkan.
Sebelum bertemu denganku, dia tipe gadis kalem
berambut panjang hitam. Tapi dia mewarnai rambutnya jadi cokelat dan memotong
pendek demi menyesuaikan dengan seleraku.
Dia pun putus dengan teman masa kecilnya, dan
langsung kuputus juga. Saat itu dia bahkan sampai tidak masuk sekolah dua bulan
di tahun ketiga SMP saat masa ujian penting.
Konyol, bukan? Tapi dia tetap berjuang keras
demi bisa masuk SMA yang sama denganku. Sekarang dia sudah kehilangan semua
teman masa SMP, dan setelah masuk SMA, nilainya juga langsung anjlok karena tak
belajar sama sekali.
Dia menyerahkan segalanya demi aku, tapi
sampai sekarang kami tak benar-benar balikan dan cuma menjalani hubungan yang
serampangan. Gadis malang yang masa mudanya kucuri sepenuhnya. Dalam arti
tertentu, dia simbol dari kekuatanku. Meski kehilangan segalanya, dia tetap
mencintaiku. Anjing setia yang sempurna.
Sebelum pacaran denganku, dia anak pintar yang
polos tanpa riasan, tapi sekarang sudah jadi menor dan tak bisa dikenali lagi.
"Sayang banget ya pertandingan
latihannya. Anggota lain benar-benar sampah dan nggak bisa diandalkan. Nyebelin
banget deh."
Sifatnya yang dulu baik pada semua orang bisa
kupelintir jadi begini. Jujur saja, sampai di titik ini aku bisa buang dia
kapan pun, tapi dia ini seperti piala kehormatan buatku. Jadi kami terus
menjalani hubungan seadanya.
"Iya, benar juga. Cuma Eri yang bisa
ngerti aku."
Kalau kukatakan begitu, dia akan langsung
menuruti kemauanku. Nah, waktunya bersenang-senang sambil melampiaskan stres.
※
── Setelah Pertandingan ・ Ruang Klub Sepak Bola ・ Sudut Pandang
Shimokawa ──
Akhirnya, pertandingan latihan kami kalah
telak. Kalah besar melawan tim yang jauh di bawah kami.
Pelatih marah besar saat rapat, sampai-sampai
botol minum dilempar. Tapi kami tidak sempat mengurus itu.
Kalau kondisi ini terus berlanjut dan tim
bubar di tengah jalan, apa yang akan terjadi? Pasti akan ada yang berkhianat.
Kalau sampai itu terjadi, perundungan terhadap Aono oleh seluruh klub akan
terbongkar. Dan kalau sampai itu terjadi, bukan cuma gagal ikut turnamen—kami
sendiri bisa dihukum oleh sekolah. Kalau aku sebagai salah satu pelaku utama
sampai dikeluarkan… bagaimana aku menjelaskan ini ke orang tuaku? Susah payah
bisa masuk sekolah ternama, masa gagal karena hal seperti ini!?
"Masalah kali ini, jangan tertipu oleh
kata ‘perundungan’. Ini bukan sekadar kenakalan atau iseng anak-anak. Ini kejahatan.
Ingat baik-baik itu."
Ucapan Takayanagi-sensei menusuk ke dalam hati
dan terus terulang di kepalaku.
Saat pemeriksaan terakhir, karena belum ada
bukti kuat, kami masih bisa lolos. Tapi situasi sekarang benar-benar gawat.
Orang yang tadi memotret… bisa saja melapor ke
guru kapan saja. Bahkan mungkin sudah dilaporkan. Kalau begitu, sedikit saja
ada ketidaksesuaian dalam kesaksian kami, semuanya akan hancur. Padahal selama
ini kami menyusun cerita begitu sempurna, tapi kalau mulai ada celah, kami harus
bisa kabur dari penyelidikan selanjutnya secara spontan. Dan itu pun sambil
pastikan kesaksian kami tidak bertabrakan satu sama lain.
Setelah rapat selesai dan pelatih keluar, kami
hanya duduk diam dalam ruang klub yang dipenuhi suasana berat. Aku tiba-tiba
merasa cemas—apa kami bisa lolos dari semua ini?
"Gak mungkin. Gak mungkin kita bisa
nutupin semua ini."
Aku tanpa sadar bergumam, dan Aida—teman
sekelasku—menatapku kaget.
"Hei, maksudmu apa?! Jangan-jangan kau
mau ngkhianatin Kondo-senpai dan kami semua!?"
Dengan suara histeris seolah-olah diliputi
oleh delusi bahwa semua orang memusuhinya, aku berteriak.
Mitsuda-senpai dan kapten juga mendekatiku
dengan penuh tekanan. Begitu pula anggota klub yang lain.
"Bukan, bukan begitu. Aku tidak berniat
mengkhianati siapa pun. Tapi, bagaimana ya... aku merasa tidak punya
kepercayaan diri untuk bisa lolos dari pertanyaan-pertanyaan yang akan
datang."
Alasan yang menyedihkan. Bahkan suaraku
gemetar.
Kenapa aku mengatakannya dengan suara keras?
Di tempat yang sudah penuh kecurigaan seperti ini, kalau aku bicara begitu,
sudah jelas aku akan jadi kambing hitam...
"Jangan bercanda. Kau dan Aida yang
dengan seenaknya mencorat-coret meja Aono, kan? Jangan seret kami ke dalam
masalah ini juga."
Mitsuda menarik seragamku dengan kasar.
"Tapi, Mitsuda-san juga, waktu itu
bilang, ‘Lakukan saja’..."
"Hah? Kau membantah pada seniormu?
Padahal kau yang paling bersalah, jangan lempar tanggung jawab padaku. Tanggung
jawab itu tanggung jawab. Pengakuan nggak akan kuizinkan. Kalau kau nggak bisa
menutupinya sampai akhir, ya mati aja sana. Bertanggung jawablah pada semuanya,
mati aja. Kalau begitu, kau nggak akan dikejar-kejar lagi."
"Jangan...!"
Aku pikir akan ada yang menolongku. Tapi, tak
seorang pun mencoba menghentikan Senpai. Semua menatapku tajam, seolah-olah aku
yang sepenuhnya bersalah. Di tengah atmosfer itu, kapten membuka mulutnya.
"Mitsuda, cukup sampai situ. Shimokawa,
paham kan? Kalau kau mulai goyah, kita semua tamat. Jangan bicara
sembarangan."
Kenapa cuma aku yang disalahkan? Lagipula,
kapten juga nggak menghentikan semuanya. Bahkan, lewat akun anonimnya, dia
malah menyebarkan rumor itu secara aktif. Apa aku satu-satunya yang salah?
"Ba... baik."
Tanpa sadar aku kalah oleh tekanan dari sekitar.
Perasaan rendah diri dan panik makin menguasai hatiku. Kalau sudah begini,
mungkin aku akan mengaku saja dan minta bantuan guru. Mungkin kalau aku bilang
aku ikut karena takut diintimidasi juga kalau diam saja, aku bisa dipercaya.
Keinginan egois untuk menyelamatkan diri
sendiri makin kuat dalam hatiku.
Tapi, sepertinya anggota klub sepak bola
selain aku sudah sepakat untuk menyembunyikan kenyataan pahit ini. Mereka
tampaknya masih yakin bahwa kebusukan ini belum terbongkar.
"Yang pertama harus kita lakukan adalah
mencari siapa yang memotret foto ini. Semoga saja... bukan dari antara kita,
ya?"
Semua menggelengkan kepala atas pertanyaan
kapten. Tapi kalaupun pelakunya ada, tidak mungkin dia akan mengaku. Lagipula,
semuanya mencurigakan. Bisa jadi cadangan yang sakit hati dan nekat mau
menjatuhkan semuanya. Atau mungkin ini ulah anak kelas satu yang dendam karena
disiksa oleh anak kelas tiga.
Benar... kalau begitu, kita jadikan saja si
pengkhianat itu sebagai pelakunya. Kalau semua disalahkan padanya, beres, kan?
"Senpai. Ayo cepat cari siapa pelakunya
yang ambil foto ini. Kita harus cari dan hajar dia, lalu bungkam dia!! Kalau
nggak, kita semua bakal hancur. Kelas satu mencurigakan, kan?"
Aku tanpa sadar mengucapkan semua yang
kupikirkan. Barusan aku bahkan disuruh mati, jadi aku ingin mengalihkan
kemarahan anggota klub pada orang lain.
Aida langsung berkata, "Heh!" lalu
mendekati salah satu anak kelas satu.
"Ngomong-ngomong, Ishigami. Kau kan
pernah ngomongin buruk soal Kondo-senpai, kan?!"
Sasaran berganti ke Ishigami, si anak kelas
satu yang suka sok akrab. Bagus, kerja bagus. Sekarang aku aman.
Ishigami panik sesaat dan berkata, "Aku
nggak melakukan itu! Lagipula, Chiyoda juga ngomongin buruk bareng aku!"
lalu mulai menyalahkan orang lain.
Anggota klub sepak bola, yang sudah berubah
menjadi kumpulan orang yang saling curiga, mulai melontarkan tuduhan ke satu
sama lain. Neraka ini makin dalam dari sebelumnya.
Klub sepak bola sepenuhnya runtuh.
Teman-teman yang kemarin masih satu tujuan
demi nasional, sekarang saling mencurigai, saling menyelamatkan diri, dan
memulai perburuan penyihir.
※
Beberapa jam kemudian – Sudut pandang Miyuki
Semalam aku menginap di ruang rumah sakit.
Tapi untuk membereskan barang-barang, aku sempat pulang ke rumah sebentar. Di
depan rumah, aku secara kebetulan bertemu teman lama yang sedang jogging.
Seseorang yang sebenarnya tak ingin kutemui—satu lagi teman masa kecil.
Imai Satoshi. Sahabatnya Eiji dan teman masa
kecilku sejak SD.
"Satoshi-kun…"
Aku tahu persis apa yang akan dia katakan.
Akhirnya, saat ini pun tiba. Hari di mana aku akan kehilangan segalanya.
"Lama nggak ketemu ya, Miyuki. Kau tahu
aku mau ngomong apa, kan?"
"Iya…"
Ibuku sendiri sudah menolakku. Aku sudah
ditakdirkan untuk kehilangan segalanya. Dan itu berarti aku juga akan
kehilangan teman-temanku. Tak bisa dihindari lagi.
Satoshi-kun pernah diselamatkan oleh Eiji.
Jadi, dalam masalah kali ini pun, dia pasti akan membela Eiji. Aku yang paling
tahu itu karena aku yang paling dekat menyaksikan hubungan mereka.
"Pasti, ya. Aku udah nggak bisa lagi
anggap Miyuki sebagai teman. Aku cuma pengin bilang itu dengan jelas. Terima
kasih buat semuanya."
Dengan tegas, dia menyatakan akhir dari
hubungan kami dan pergi. Itu memang gaya dia. Meski marah, dia tetap tegas dan
memutuskan hubungan dengan jelas.
Aku berlari ke pintu rumah, jatuh tersungkur,
dan menangis sejadi-jadinya.
Kenapa semua bisa jadi begini?
Kenapa aku melakukan hal seperti itu?
Penyesalan terus menguasai hatiku.
Aku ingin terus menjalin hubungan bahagia
dengan Eiji.
Aku tahu aku yang salah. Tapi, saat hubunganku
dengan Senpai semakin dalam, aku mulai takut jika semuanya terbongkar dan
hubunganku dengan Eiji hancur.
Karena itulah aku tak boleh sampai ada yang
tahu soal hubunganku dengan Kondo-senpai. Karena aku takut kehilangan
segalanya, aku bahkan sampai berbohong seperti itu.
Kupikir, setelah Senpai lulus, semuanya akan
lenyap begitu saja. Maaf, Eiji... aku pikir ini cuma main-main sementara.
Dengan begitu, aku mencoba membenarkan pengkhianatanku pada Eiji.
Sayang kalau tidak bersenang-senang di masa
muda.
Punya pacar serius pun nggak masalah.
Selama saling mencintai sepenuh hati, semuanya
akan baik-baik saja.
Kondo-senpai sudah menyiapkan jalan keluar
untukku. Karena itulah aku bersandar padanya.
Hari itu. Hari saat perselingkuhanku
terbongkar di hadapan Eiji.
Hatiku hancur berkeping-keping. Aku tak bisa
lagi kembali ke masa-masa bahagia itu. Kecemasan dan penyesalan karena
kehilangan Eiji. Karena Eiji sudah menjadi bagian dari hidupku lebih dari
separuh waktuku.
Sudah tidak bisa lagi. Hatiku yang tenggelam
dalam keputusasaan akhirnya mengambil keputusan egois.
Untuk mengusir rasa takut ditolak oleh Eiji,
aku mencari pelukan senpai yang kupikir akan dengan mudah mencintaiku. Kalau
aku tak bisa bahagia dengan Eiji lagi, maka aku tidak peduli apa yang terjadi padaku.
Keinginan untuk hancur dan memamerkan sisi burukku—semua itulah yang melahirkan
penyesalan yang tidak akan pernah hilang sepanjang hidupku.
Dan akhirnya, aku kehilangan segalanya.
Aku berbohong untuk melindungi semuanya. Tapi
pada akhirnya, aku malah kehilangan semuanya. Semua hal berharga bagiku...
Kalau begini terus, aku pun akan segera kehilangan status sebagai siswi teladan
yang selama ini sangat ingin aku jaga.
"Aku ingin kembali... Aku ingin
kembali..."
Aku ingin kembali ke hari itu. Aku ingin
merayakan ulang tahun Eiji dengan benar, dan tertawa bahagia berdua dengannya.
Aku ingin kembali ke saat sebelum bertemu
dengan Kondo-senpai. Aku ingin kembali menjadi diriku yang murni dan belum
mengkhianati Eiji.
Padahal, pada akhirnya, satu-satunya yang aku
miliki hanyalah Eiji.
"Kalau saja aku tidak bertemu dengan
Senpai, pasti sampai sekarang aku masih bisa tertawa bahagia bersama
Eiji."
Aku benci diriku yang berkata seperti itu.
Yang kurasakan hanyalah kebencian pada diri
sendiri.
Padahal aku sendiri yang mengkhianatinya.
Aku merasa mual, jadi aku keluar ke depan
rumah untuk menghirup udara segar.
Kulihat ada sebuah amplop di dalam kotak
surat.
Tanpa pikir panjang, aku membukanya.
Isinya adalah sebuah foto.
Foto yang menenggelamkanku ke dalam jurang
keputusasaan.
"Kenapa... bohong, kan? Katanya cuma aku
satu-satunya. Kondo-senpai... ini nggak masuk akal. Tolong jangan buang
aku..."
Di dalam amplop itu, terlihat Senpai sedang
masuk ke rumah seorang siswi perempuan dengan ekspresi akrab. Mereka
bergandengan tangan, tampak sangat senang.
── Rumah Eri・Sudut pandang Kondo ──
"Aku sayang banget sama Kondo-kun."
Sambil menikmati lembutnya sentuhan kulitnya,
aku meluapkan stresku.
Eri punya pesona yang berbeda dari Miyuki.
Sepertinya aku memang agak bosan dengan
Miyuki.
"Ahh, itu luar biasa."
"Aku senang. Soalnya aku cuma punya
Kondo-kun di hati."
Bagian paling menyebalkan dari cewek ini
adalah ini. Padahal kami nggak pacaran, tapi dia bersikap seolah-olah dia
pacarku.
Ya sudahlah, selama dia masih bisa kupakai
sebagai cewek cadangan yang nyaman, aku akan terus menikmatinya.
"Hei, Kondo-kun. Lihat aku aja ya. Aku
udah ninggalin segalanya demi kamu, jadi aku nggak mau kamu selingkuh."
Selingkuh katanya... padahal kita bahkan nggak
pacaran, tahu. Perempuan halu, bener-bener parah.
"Iya, iya."
Aku menjawab asal sambil sedikit
terkantuk-kantuk, menikmati waktu yang terasa menyenangkan.
Setelah itu, aku beres-beres sebentar dan
meninggalkan rumah Eri. Cewek ini hidup sendiri karena ditinggal keluarganya.
Kalau aku lapar, aku biasa ke rumah ini dan
minta dibuatkan makan malam. Itu sudah jadi rutinitasku. Tapi, karena Eri mudah
besar kepala dan suasana hatinya naik turun parah, dia adalah cewek cadangan
yang cukup menyusahkan.
Dalam perjalanan pulang, ponselku berdering.
[Kondo-kun? Kamu lagi senggang sekarang?]
Panggilan dari cewek yang belakangan ini
kupikirkan. Cewek inilah yang mengenalkanku pada Miyuki. "Aku tahu ada
cewek yang punya pacar, dan kayaknya kamu bakal suka," begitu katanya.
Dan begitulah aku bertemu dengannya, lalu
menemukan mainan menarik bernama Aono juga.
"Ya, ada apa?"
[Nggak penting-penting banget sih… Tapi kamu
ada waktu sekarang? Kalau bisa, mau main bareng nggak?]
Cewek ini juga ternyata tergila-gila padaku.
"Boleh sih. Emangnya kenapa?"
[Soalnya, aku udah bantu kamu menjebak dia,
tapi belum dapat hadiah apa-apa. Jadi aku cuma pengen ketemu sebentar aja,
boleh kan?]
"Ahh, makasih ya udah mikirin skenario
menarik itu. Muka menyedihkan Aono waktu itu, pengen banget aku perlihatin ke
kamu juga."
[Hahaha, kamu emang jahat banget.]
"Ngomong apa kamu, kamu juga cewek
jahat... Dan, aku juga ada yang mau aku curhatin."
[Oh, ya?]
"Ada masalah di klub sepak bola, sedikit
merepotkan sih."
Kami sepakat untuk bertemu, dan aku pun dengan
semangat menuju tempat yang sudah ditentukan.
Setelah pertemuan rahasia itu selesai, aku
pulang ke rumah. Seperti biasa, rumah itu kosong. Ayah pasti sedang bekerja.
Ibu? Entah ke mana, pasti pergi sembarangan
lagi. Mereka berdua terkenal sebagai pasangan suami-istri palsu.
Aku tidak peduli. Selama aku bisa memanfaatkan
mereka, itu sudah cukup. Status sosial tinggi mereka bisa kugunakan untuk
keuntungan sendiri. Kalau orang tuamu punya kekuasaan, hampir semua masalah
bisa diselesaikan.
Ditambah lagi, aku punya bakat sepak bola dan
juga pintar. Aku tak terkalahkan.
Berkat itu, jalan menuju pemain sepak bola
profesional sudah terbuka. Kalau pensiun nanti pun, aku bisa mewarisi
perusahaan ayah, atau kalau ayahku sukses sebagai anggota parlemen, aku bisa
mewarisi wilayah pemilihannya. Itulah enaknya sistem pewarisan Jepang.
"Karena aku lahir di keluarga yang hebat,
hidupku jadi penuh warna. Dunia ini mudah dan indah. Ahh, aku bersyukur banget
punya orang tua hebat."
Aku mengucapkan kata-kata yang keras agar bisa
menepis rasa cemas yang muncul di dalam hati. Lagipula, cewek itu juga bilang
semuanya bakal baik-baik saja, dan dia juga bilang akan bantu pikirkan
solusinya.
Di rumah yang luas ini, hanya suara omonganku
sendiri yang menggema.
Sial, kenapa rasanya malah menyedihkan begini.
Ponselku berbunyi. Telepon masuk dari telepon
umum. Mencurigakan. Siapa pun yang menelpon langsung ke nomorku seperti ini
pasti punya maksud buruk.
Tentu saja aku abaikan.
Tapi telepon itu terus-menerus masuk.
"Dasar ngeyel, siapa sih kamu,
hah?!"
Aku tekan tombol jawab dan membentak marah.
Lalu terdengar suara aneh seperti habis menghirup gas helium.
[Kondo, hidupmu sudah tamat]
"Berani banget manggil nama langsung,
bangsat."
Suaranya seperti badut aneh, sedikit ceria,
seolah sedang mengejekku.
Mungkin dia pakai alat pengubah suara mainan.
Sungguh konyol. Saat aku mau memutuskan teleponnya…
[Hei, jangan tutup dulu. Soalnya akulah yang
ambil foto itu.]
Tanganku refleks berhenti. Sial, jadi ini
orangnya. Orang yang berusaha menjatuhkanku!
"Jadi kamu yang nyebarin foto itu ke
anak-anak klub sepak bola. Aku nggak bakal maafin kamu!"
[Nyebarin? Oh, kamu maksud foto yang secara
nggak sengaja jatuh di depan ruang klub itu ya?]
"Jangan sok polos!"
Kata-kataku makin kasar.
[Kalau kamu marah begitu, aku jadi nggak tahu
nanti akan secara nggak sengaja jatuh di mana lagi, loh.]
Dasar bajingan!
"Jangan anggap enteng aku! Aku bakal
bunuh kamu! Ayahku anggota parlemen! Masalah kayak gini bisa gampang ditutupi.
Guru-guru juga bisa dibuat bungkam. Selama ini juga aku selalu begitu, dan kali
ini juga pasti bisa!"
Sumpah, aku benar-benar kesal.
[Kalau begitu, aku akan mulai bergerak.]
Pada akhirnya, semua itu hanya ancaman kosong.
"Kalau bisa, coba saja. Aku akan bunuh
kau. Akan kucari dan kubuat wajahmu babak belur."
Orang jenius sepertiku diizinkan melakukan apa
pun. Aku akan menghajarmu sampai kau menyesal.
[Begitu ya. Sayang sekali. Kau benar-benar
yakin tidak bersalah, ya?]
"Itu sudah jelas. Aku ini orang
terpilih."
[Bahkan setelah menjebak Eiji Aono dengan
tuduhan palsu?]
"Bagaimana kau tahu soal itu?"
[Karena aku ada cukup dekat untuk mengawasi
semua gerak-gerikmu.]
Kata-kata itu semakin menyulut amarahku.
Kenapa dia tahu soal itu? Hanya anggota klub sepak bola dan cewek-cewek itu
yang tahu tentang tuduhan palsu itu.
"Dia itu pada akhirnya hanya seorang yang
lemah. Orang lemah memang ditakdirkan untuk dimakan oleh yang kuat. Sekalipun
diperlakukan seperti apapun, dia tidak bisa protes. Kau pasti orang dari klub
sepak bola, ya? Pengkhianatan tidak akan pernah aku maafkan. Siap-siap
saja!!"
Setelah aku berkata begitu, mungkin karena
terbawa oleh emosiku, dia tidak membalas apa pun. Hanya terdengar desahan napas
dari seberang.
[Kondo, kau benar-benar bodoh dan menyedihkan
ya.]
Mendengar kata-kata itu, aku refleks
membanting ponselku ke lantai, layarnya retak. Seolah-olah itu mencerminkan isi
hatiku sendiri.
Benar, aku ini orang terpilih. Jadi tidak
apa-apa. Meskipun anak-anak klub sepak bola tidak lagi mendukungku, dengan
semua prestasi yang pernah kucapai, bahkan jika bukan sekolah elite, SMA biasa
pun pasti akan berlomba-lomba menginginkanku.
"Gagal? Aku? Tidak mungkin..."
Aku tertegun karena tak sengaja membiarkan
diriku tenggelam dalam perasaan negatif.
"Brengsek, sialan!"
Untuk menenangkan diri meski sedikit, aku
menelepon Miyuki.
—Dari sudut pandang Miyuki—
"Sekarang jam berapa?"
Aku duduk meringkuk sendirian dalam
keputusasaan karena merasa dikhianati.
Saat tersadar, hari sudah gelap. Tanpa menutup
tirai, tanpa menyalakan lampu, aku sendirian di rumah. Saat ini, aku benar-benar
terisolasi. Tak ada seorang pun yang memberiku kata-kata hangat. Aku sempat
mengantar pakaian ganti ibuku ke rumah sakit, tapi karena ibu sedang menjalani
pemeriksaan, dia tidak ada di kamarnya.
Tak ada yang bisa kulakukan, jadi aku hanya
kembali ke rumah dan menghabiskan waktu tanpa tujuan.
"Semuanya salahku sendiri."
Tentu saja. Eiji dan tante yang selalu berkata
lembut padaku, sudah tak ada. Meski ibu pulang kerja terlambat, kalau aku pergi
ke rumah Eiji, aku tidak akan merasa kesepian. Di sana ada kehangatan keluarga.
Mereka menerimaku seperti anak kandung.
Ibuku marah... karena aku telah mengkhianati
orang-orang yang begitu baik padaku. Pada akhirnya, Kondo-senpai hanya
menganggapku sebagai hiburan. Padahal aku sudah tahu. Secara logika, aku sudah
memahaminya.
Tapi tetap saja, aku terbawa oleh nafsuku
sendiri dan sampai sejauh ini. Saat melihat foto tadi, aku langsung
sadar.
Seolah-olah panasnya cinta selama ini adalah
kebohongan, dan darah dalam tubuhku seketika membeku. Tapi waktu itu, apa yang
kukatakan pada Eiji...? Aku tahu persis.
"Jangan tinggalkan aku. Kalau Senpai
meninggalkanku, aku tak bisa hidup lagi."
"Eiji memang teman masa kecilku, tapi...
dia pria kasar yang menyebalkan dan seperti penguntit."
"Maaf, Eiji. Aku tak bisa bersamamu lagi.
Jangan ajak aku bicara di sekolah."
Saat mengingat momen itu, rasa mual dan jijik
terhadap diriku sendiri meluap begitu kuat.
Kenapa aku bisa mengucapkan hal seperti
itu...? Aku sudah berkali-kali menyesal, tapi kali ini rasanya jauh lebih
menusuk. Sejak hari itu—hari pertama aku selingkuh dengan Senpai—aku merasa
diriku bukan diriku sendiri, seolah menjadi orang lain yang bodoh.
Dan lagi, rasa mual itu datang kembali, lebih
hebat dari sebelumnya.
Kenapa... Eiji itu pacar yang baik dan penuh
kasih. Aku sadar kalau aku yang pertama jatuh cinta padanya. Dialah cinta
pertamaku. Aku berusaha keras mendekatinya sampai akhirnya kami saling jatuh
cinta.
Aku mencintai sikap lembutnya. Aku mencintai
caranya menulis kisah-kisah hangat. Aku mencintai rumahnya yang bisa membuatku
merasa bahagia.
Dan sekarang, semua itu sudah tak mungkin bisa
kumiliki lagi. Sejak kejadian itu, Eiji tidak pernah muncul di kelas. Dia
dijebak dengan tuduhan palsu oleh Senpai, dijauhi teman-temannya, dihina di
mejanya. Kabarnya, bahkan loker sepatunya juga dipenuhi sampah. Dan rumah
keluarganya yang begitu hangat juga dihina.
Aku tak menghentikan itu semua. Padahal hanya
aku yang bisa menghentikannya. Tapi karena ingin melindungi diriku sendiri, aku
berpura-pura tak tahu.
Tidak, bukan hanya pura-pura. Aku sendiri ikut
dalam tindakan itu. Aku yang paling bertanggung jawab atas perundungan itu.
Aku menyebut Eiji penguntit. Aku menuduhnya
melakukan kekerasan. Padahal, dia tidak mungkin melakukan hal seperti itu.
Bahkan waktu itu, akulah yang salah.
Aku adalah perempuan paling buruk. Karena saat
ulang tahun pacarku, aku malah berselingkuh. Yang seharusnya disalahkan bukan
Eiji. Tapi aku.
Aku memaksakan diri keluar rumah, berjalan
menuju minimarket untuk membeli makan malam.
Padahal aku ingin mati, tapi tubuhku tetap
menuntut makanan. Betapa menyedihkannya diriku ini.
Dari kejauhan, aku melihat sepasang kekasih
melintas.
Dan aku langsung membeku.
Itu Eiji. Dia sedang tersenyum bahagia. Dan di
sebelahnya... benar, itu Ichijou Ai. Idola sekolah, bahkan sesama perempuan
sepertiku pun bisa melihat jelas kalau dia berdandan total hari ini. Seperti
sedang berkencan.
Eiji pun memperlihatkan senyum lembut seperti
kepada kekasihnya.
Pikiranku kosong seketika. Aku sembunyi agar
mereka tidak melihatku.
"Terima kasih banyak untuk hari ini.
Kencan pertama kita sangat menyenangkan," kata Ichijou Ai sambil tersenyum
bahagia.
"Aku senang mendengarnya."
"Aku juga menantikan pertemuan
berikutnya. Meskipun sudah sedikit lewat, bolehkah aku merayakan ulang
tahunmu?"
"Eh? Kenapa kau tahu ulang tahunku?"
"Itu... aku diberi tahu oleh ibumu,
Senpai! Karena Senpai sudah membimbingku dengan sangat baik hari ini, aku ingin
membalasnya."
Suara dan ekspresi yang begitu manis seperti
gadis yang sedang jatuh cinta. Bahkan aku pun merasa tergetar melihat pesona
dan senyum malaikatnya.
"Terima kasih. Aku menantikannya."
Saat itu juga, aku sadar betul kalau tempatku
sudah digantikan oleh Ichijou Ai. Ibu Eiji pun sudah menerimanya. Mereka bahkan
membuat janji kencan untuk merayakan ulang tahun yang seharusnya aku rayakan.
Dia mendapatkan seluruh kebaikan Eiji yang dulu jadi milikku.
Mungkin karena kelelahan, lapar, dan terus
muntah-muntah karena putus asa, tubuhku tiba-tiba lemas. Pandanganku
berkunang-kunang, napasku menjadi pendek.
Aku menangis dan berteriak dalam diam, supaya
mereka tidak menyadari keberadaanku.
Bahkan saat mulutku penuh dengan kerikil dan tanah,
aku tak bisa berhenti.
Neraka ini baru saja dimulai.
Aku terjatuh di tempat itu, dan setelah
beberapa saat pusingku mulai mereda, aku berhasil berdiri. Sepertinya Eiji dan
yang lainnya tidak menyadari keberadaanku.
Aku membeli sup instan yang hanya perlu
dipanaskan di minimarket, lalu langsung pulang ke rumah dan memakannya. Waktu
makan yang seharusnya menyenangkan berubah menjadi sekadar tugas untuk bertahan
hidup.
Saat ini, aku bertanya-tanya, apa yang sedang
dilakukan Eiji dan yang lainnya? Mungkin mereka sedang makan dengan bahagia di
dapur Aono. Atau mungkin mereka pergi ke tempat yang sedikit keren, mencoba
tampil dewasa. Mungkin juga... malam yang spesial...
Rasanya seperti hatiku akan hancur. Padahal
aku lapar, tapi tak punya nafsu makan.
Saat itu, telepon dari Kondo-senpai masuk.
"Halo, Miyuki di sini."
[Oh, Miyuki ya? Lagi ngapain sekarang?]
"Aku sedang makan, sih..."
[Begitu ya. Aku pengin nenangin pikiran,
bisakah kamu jadi teman ngobrol sebentar aja?]
Biasanya, aku akan langsung menyetujui ajakan
seperti ini, tapi setelah mulai meragukannya...
Padahal dia tahu ibuku sedang dirawat di rumah
sakit. Tapi dia tidak menunjukkan sedikit pun rasa khawatir.
"Umm... aku lagi nggak enak badan."
Ternyata memang begitu, ya. Baginya, aku ini
pada akhirnya memang tak lebih dari sekadar mainan.
[Tolonglah, sebentar saja. Dengarkan aku
sekarang.]
Kalimat itu malah mengubah semuanya menjadi
keyakinan.
"Jadi, Kondo-senpai memang sejak awal
cuma menganggapku mainan, ya?"
Kalau itu Eiji, dia pasti akan mengkhawatirkan
ibuku. Dia juga pasti memikirkan keadaanku secara mental. Dari nada bicaraku
saja, dia pasti langsung tahu kalau aku sedang tidak sehat. Dia mungkin akan
datang menjenguk karena khawatir.
Dan aku telah kehilangan teman masa kecil yang
begitu berharga itu.
[Hah? Tiba-tiba kenapa sih?]
"Kau bahkan tidak khawatir padaku.
Lagipula... aku melihat foto saat kau masuk ke rumah bersama seorang gadis
sekelas, berdua, akrab sekali."
[Eh, itu... itu foto lama, sebelum aku kenal
kamu. Aku juga sudah putus dengan dia. Sebenarnya, aku sedang jadi korban
gangguan. Foto-foto lamaku disebar oleh anggota klub, makanya aku ingin bicara
soal itu sama kamu. Maaf aku langsung to the point karena aku juga lagi stres.]
Permintaan maaf itu terasa sangat kosong.
"Begitu ya."
Jawabanku sekadar formalitas, tapi dia
menjawab dengan nada seperti menyeringai. Itu malah memancing amarahku.
[Beneran, percayalah.]
Apa dia benar-benar pikir bisa membohongiku
dengan kata-kata kosong seperti itu? Menjijikkan. Pria ini sungguh… aku
akhirnya sadar siapa dia sebenarnya. Aku telah mengorbankan segalanya demi
orang seperti ini!? Aku sendiri pun tak percaya.
"Di lenganmu di foto itu, ada gelang
persahabatan buatan tanganku yang kuberikan padamu. Masih bilang itu foto
lama?"
[A-apa…]
Aku benci betapa telitinya aku saat begini.
Gelang itu aku rajut dan berikan agar kami menang dalam pertandingan latihan
klub. Gelang itu seharusnya jadi bukti ikatan kami. Tapi sekarang malah menjadi
bukti posisi kami yang sebenarnya. Aku tidak melakukan semua ini untuk berakhir
seperti ini.
"Jangan bohong."
Suara dingin keluar dari mulutku sendiri tanpa
kusadari.
[Ka-kalau begitu... itu mungkin hasil editan…]
Padahal aku dulu sangat menyukainya, sekarang
mendengar suaranya saja membuatku muak.
"Hah?"
Itu sama saja dengan mengakui sedang
berbohong. Kalau mau bohong, setidaknya buat kebohongan yang masuk akal.
Akhirnya, aku sadar bahwa orang ini cuma
menutup-nutupi semuanya dengan kebohongan. Dan aku, aku malah menganggap
kebohongan itu seperti permata yang berkilau.
Kata-kata manis yang dia ucapkan padaku
ternyata hanyalah batu tanpa makna. Dan karena batu itu, aku malah
menghancurkan harta karun sejati yang selama ini ada dekat denganku.
Aku tahu aku tak punya hak untuk menghina dia.
Karena aku ini sama seperti dia—sama-sama manusia paling rendah. Kita berdua,
pada akhirnya, hanya sama-sama sampah egois dan tak tahu terima kasih.
‘…Cih.’
Dia mengeklik lidahnya dengan keras. Sifat
aslinya muncul, membuatku terkejut sampai aku tak sengaja mengeluarkan suara.
"Eh?"
Alih-alih merasa bersalah, dia malah marah.
[Kau cewek gila! Makanya aku sebel! Baru juga
sebentar dekat, langsung sok jadi pacar!]
Umpatan tak terduga itu menancap seperti pisau
dingin ke dalam hatiku.
Padahal aku tahu dia memang seperti itu, tapi
saat benar-benar mendengarnya langsung, rasanya tetap menyakitkan.
Sok jadi pacar, katanya...
Padahal aku sudah meninggalkan kekasih masa
kecilku yang sangat berharga demi bersamamu. Kenapa kau bisa bilang begitu?
"……"
Fakta kejam itu membuatku terdiam. Aku tak
bisa berkata apa pun.
[Lagipula, selingkuh apanya. Kita tuh nggak
pernah pacaran! Jangan sok jadi korban! Aku pernah bilang mau pacaran sama
kamu!? Pernah ngakuin kamu sebagai pacarku!? Kamu juga salah satu pelaku
bullying! Kalau kamu nggak bantu aku, Aono nggak akan kayak begitu! Mengingat
hubunganmu sama Aono selama ini, kamu yang paling jahat! Paham nggak, dasar
cewek brengsek!! Semuanya salahmu!!]
Setelah melemparkan kata-kata kasar itu, telepon
kami terputus.
"Kenapa sih aku sampai buang segalanya
buat orang kayak dia... Aku sudah melakukan sesuatu yang nggak bisa diperbaiki
lagi..."
Di dalam kamar yang sepi, gumaman penuh
kesepian bergema.
※
—Sudut Pandang Kondo—
Setelah menutup telepon, aku mengamuk.
"Semuanya nyebelin! Kenapa mereka
seenaknya sendiri!? Mereka lebih percaya orang lain ketimbang aku! Gak bisa
dimaafin!"
Kamar ini berantakan banget karena amukanku.
Piala yang sangat kusayangi sejak SMP pun rusak. Sial! Sial! SIAL! Bajingan!
"Hah... hah... Sialan, anak-anak klub
sepak bola, anggota klubku sendiri, Miyuki Amada... Semuanya mending musnah aja
sekalian!"
Kalau sudah begini, aku harus ajak saja cewek
mana pun… Tapi, kalau Miyuki sudah nggak bisa dipakai lagi, tinggal Eri, atau
cewek itu, atau mungkin adik kelasnya.
Nggak, cewek yang tadi di telepon itu nggak
bisa. Dia nggak bisa dimakan. Kalau aku sampai menunjukkan kelemahan, aku nggak
tahu apa yang bakal dia lakukan. Jadi dia nggak bisa dipakai.
Sial, kalau sudah begini, tinggal Eri, ya.
Nggak bisa. Baru saja ketemu dia tadi, dan dia
juga tipe yang ribet karena sok-sokan kayak pacar. Aku pengin jaga jarak dulu.
Cewek memang nggak bisa diandalkan dalam situasi kayak gini.
"Kalau gitu, nggak ada pilihan lain. Aku
harus sebarin aja gosip jelek tentang Aono pakai akun alter."
Karena punya orang yang lebih rendah dariku
itu adalah kenikmatan tertinggi sebagai penguasa. Dia itu cuma budak, pada
akhirnya. Cowok lemah yang menyedihkan karena ceweknya direbut.
Dengan pikiran itu, aku buka media sosial.
Beberapa waktu lalu, timeline-nya dipenuhi omongan jelek soal Aono.
Tapi...
[Hei, ternyata benar. Aono Eiji dan Ichijou Ai
kelihatan kencan hari ini.]
[Detailnya, dong.]
[Aku ke daerah stasiun buat belanja, terus
lihat mereka keluar dari kafe yang keren.]
[Aku juga lihat mereka masuk bioskop bareng.]
[Jadi, mereka beneran pacaran ya.]
[Padahal Ichijou itu ketat banget sama cowok,
kok bisa dia pacaran sama Aono yang digosipin jelek gitu?]
[Kata teman sekelas Ichijou, malah ceweknya
yang naksir berat sama Aono. Kayaknya dia ngejar-ngejar banget, deh.]
[Kalau Ichijou aja bisa seobsesif itu, berarti
ada sesuatu di Aono, ya.]
[Lagipula, gosip tentang Aono itu beneran
nggak sih? Foto-fotonya aja kelihatan mencurigakan. Jangan-jangan gosipnya
bohong.]
[Aku juga dari awal ngerasa aneh. Tahun lalu
aku sekelas sama Aono, dan dia itu baik banget. Nggak mungkin kasar sama
cewek.]
[Nggak ngerti lagi, deh.]
Entah sejak kapan, arus pembicaraan sudah
berubah. Kenapa bisa begini? Apa pengaruh Ichijou Ai segitu besarnya? Padahal
dia cuma cewek kelas satu. Padahal aku sudah sebarin gosip itu pakai banyak
akun dari anak-anak klub sepak bola. Masa kalah sama pengaruh satu cewek!?
Nggak mungkin. Kenapa Ichijou Ai bisa sebegitu
terobsesinya sama cowok yang nggak jelas kayak gitu? Waktu aku deketin dia, dia
bahkan nolak aku mentah-mentah dan ngatain aku.
Makanya aku bilang gini ke dia:
"Jangan sok penting, dah! Tahu nggak, ayahku
orang penting tahu!"
"Aku nggak suka ekspresimu yang kayak
bisa hidup sendiri gitu."
"Dasar, kau kayak cewek robot aja."
Tapi dia cuma cuek dan pergi gitu aja. Aku
langsung ilfil—kenapa cewek kayak robot dingin gitu malah jadi populer satu
sekolah, sih?
Tapi ya, walaupun cewek dingin kayak dia jadi
musuh, emangnya aku perlu takut!? Aku ini Kondo, bintang klub sepak bola!!
Belum selesai. Masih bisa dikendalikan. Aku
langsung mulai posting beberapa tulisan buat menjatuhkan reputasi Ichijou Ai.
[Hei, jangan sampai ketipu, ya. Ichijou Ai itu
cewek yang bahaya. Dingin banget kayak bukan manusia, terus suka ngatain cowok
yang dia tolak.]
Aku nyelip pakai akun anonim ke thread
komentar.
[Haaah, ribet banget nih orang.]
[Paling juga cowok yang ditolak Ichijou terus
sakit hati. Skip aja, skip.]
[Malah makin mencurigakan, sih.]
Langsung ditolak mentah-mentah.
Sial, sial, sial! Kenapa nggak ada yang
percaya sama aku!? Padahal aku ini raja sepak bola generasi berikutnya!
Kesal, akhirnya aku lempar ponsel ke jendela.
Kaca jendela langsung pecah berantakan, dan ponsel yang sudah hancur makin
parah waktu jatuh ke tanah.
"Sial," pikirku, lalu buru-buru
keluar buat ambil ponselnya. Layarnya retak parah dan bahkan nggak bisa
dinyalakan lagi.
Dengan begini, aku bahkan nggak bisa hubungi
cewek mana pun. Rasa kesal ini harus aku lampiaskan ke mana?
Semuanya, benar-benar bajingan.
Berani-beraninya bikin jenius sepertiku semarah ini.
"Sialan! Nyebelin banget!"
Perasaan kalau aku makin dikucilkan bikin aku
makin frustrasi. Tentu saja, tak ada satu suara pun yang menjawabku.
Previous Chapter | Next Chapter
Tidak ada komentar:
Posting Komentar