Chapter 8 - Tepis dan Lompat
Seleksi kelompok teater mahasiswa antar universitas diadakan di
sebuah teater di Shibuya. Bagiku yang pada dasarnya introvert dan anak modern
yang lebih suka layanan video, tempat seperti teater ini rasanya rasa asingnya
lebih kuat daripada tempat kumpul kaum populer.
"Sekarang ini kan situs video dan semacamnya lagi populer
ya? Tapi ya, menurutku akting itu sesuatu yang hidup. Aku ingin lebih banyak
orang datang ke teater, dan menikmati akting langsung para aktor. Karena ada
rasa haru yang tidak ada di balik internet atau layar."
Miran berkata dengan nada penuh perasaan. Hari ini dia
mengenakan setelan jas yang dipakai agak terbuka secara seksi dipadu high
heels. Aku juga menyesuaikan diri dengannya memakai setelan bisnis. Inilah
kostum kami hari ini. Naskah tugas kali ini tipis sekali. Selain tipis, tidak
tertulis juga situasi seperti apa. Katanya ini untuk menguji imajinasi aktor.
Memang benar di ruang tunggu berdesakan para peserta lain, tapi pakaiannya
macam-macam. Ada yang memakai pakaian Jepang ala drama sejarah, gaun gaya
barat, bahkan ada yang memakai pakaian renang seolah setting pantai. Apa asal
aneh saja sudah bagus ya? Pakaian biasa seperti kami rasanya malah terlihat
aneh.
"Hee. Aku baru pertama kali nonton teater lho. Setelah
giliran kita selesai, apa aku boleh ke kursi penonton ya?"
Kerabat para penampil datang untuk mendukung, jadi lebih dari
seratus kursi penonton terisi penuh. Ayashiro dan Yuzuriha juga datang
menonton. Diam-diam orang-orang media juga ada, terlihat tingkat perhatiannya
tinggi. Mungkin ini sekaligus untuk mencari bintang masa depan. Kelompok teater
mahasiswa antar universitas ini katanya telah melahir-kan banyak aktor terkenal
di masa lalu. Makanya hari ini adalah hari yang sangat penting bagi masa depan
Miran.
"Ide bagus. Aku ingin sekali Tokiwa-kun menontonnya. Kali
ini ada juga peserta yang pernah ikut dan menang penghargaan di kejuaraan
nasional teater tingkat SMA, jadi pasti menarik kok. Sekalian aja kesempatan
ini, Tokiwa-kun coba tertarik sama teater juga? Ahaha!"
Pada Miran tidak terlihat tegang atau cemas berlebihan. Terus
terang aku juga tidak cemas. Aku sendiri di dunia sebelumnya pernah melakukan
presentasi bangunan yang kudesain di depan orang yang lebih banyak dari
penonton hari ini, dan pernah ikut kompetisi internasional juga. Kurasa aku
termasuk biasa tampil di panggung.
"Masih belum mulai kan, ayo basahi tenggorokan dulu. Di
panggung, suara itu nyawa! Suara Tokiwa-kun juga mungkin jadi sedikit lebih
baik kan! Ahaha!"
"Uugh! Kenapa ya suaraku sampai akhir tidak jadi sebagus
itu!"
Kami keluar dari ruang tunggu, menuju area kafe di lobi teater.
"Aku lumayan suka suasana sebelum tampil begini lho.
Ketegangan yang pas itu anehnya bikin minuman atau onigiri atau sandwich jadi
lebih enak. Menurutku itulah momen makanan terasa paling enak di dunia
ini!"
"Ah, mungkin aku sedikit mengerti. Air putih atau onigiri
yang diminum saat istirahat panjang di tengah ujian umum itu rasanya sangat
meresap ke tubuh ya."
"Iyaa ujian umum berat ya~ Ahaha! Nilai MTK ku mepet banget
lho! Padahal fungsi trigonometri nggak ada gunanya di atas panggung!
Ufufu."
Percakapan kami juga tidak tegang. Kami bisa bicara dengan
menyenangkan seperti biasa. Tapi orang yang meng-hancurkan 'suasana yang baik'
yang kami ciptakan itu, masuk ke pandanganku.
"Ah! Misaki, yahhoo! Terus... Tokiwa-kun!? Kenapa ada di
sini!?"
Itu seharusnya ucapanku!
"Eh? Igarashi-san... dan juga... Hagiri... kun...!?
Bohong... kenapa..."
Miran yang terkejut menutup mulutnya dengan kedua tangan. Aku
pun sangat terkejut. Di kursi konter area kafe lobi ada dua orang yang tertaut
takdir (tertawa sinis), 'istri'-ku dan si pria selingkuhan...!
"Aku dengar dari Hiroto! Sungkan banget kamu! Hari ini ada
seleksi terbuka? Audisi? kan! Bilang dong! Aku datang untuk mendukung lho!
Ahaha!"
Istri-ku mengangkat kepalan tangan, dan tersenyum ceria.
Semangatnya seperti anak SMA yang datang mendukung pertandingan klub. Lagipula
dia mengatakan hal yang meng-ganggu. Dengar dari pria selingkuhan? Aku pun
mengalihkan pandangan ke arah Hagiri. Hagiri sedang minum kopi dengan tenang.
Pria ini memang punya banyak pengikut, sosoknya terasa memancarkan semacam
wibawa. Dengan kata lain, bisa juga dibilang sok hebat.
"Yaa, Isumi-san. Aku dengar rumornya. Aku
datang untuk mendukung. Yah, kalau kemampuan aktingmu sih pasti tidak masalah.
Berjuanglah."
"Eh. Aah, un. Terima kasih."
Miran tampak bingung. Kenapa Hagiri ada di
sini. Apa niatnya, sama sekali tidak terbaca. Apa dia datang untuk memberi
tekanan? Tapi baik aku maupun Miran tidak selemah itu sampai akting kami rusak
hanya karena melihat mereka berdua. Malahan, kami jadi makin semangat.
"Apa harusnya aku bawa bendera buat
dukung ya!? Apa aku juga pakai baju pemandu sorak terus goyang-goyangin
pom-pom?"
'Istri'-ku bicara soal dukungan dengan sangat
ceria. Mungkin karena dia benar-benar merasakan persahabatan pada Miran ya.
"Yah, itu akan mengganggu jadi sebaiknya
jangan. Ah, benar juga. Ririse, ini uang lotre yang tadi menang, tolong belikan
minuman dan cemilan untuk mereka berdua ya."
Hagiri mengeluarkan dua ribu yen dari sakunya,
dan memberikannya pada 'istri'-ku.
"Eeh? Emangnya aku pesuruh ya? Buu!"
"Kamu ingin mengerubuti uang menangku
kan? Kalau begitu pergilah sana."
"Ciih. Oke! Aku pergi dulu!"
'Istri'-ku berdiri dari kursi, lalu berjalan
riang gembira menuju konter.
"Sekarang, karena Ririse juga sedang
tidak ada, aku akan beritahu satu kabar bagus sekali untuk Isumi-san."
Hagiri tersenyum. Aku merasakan aura yang agak
kelam darinya. Aku dan Miran pun menunggu kata-kata berikutnya dengan cemas.
"Hari ini di kursi penonton ada Tenketsu
Kishou Sensei yang datang. Kau tahu kan artinya?"
"Bohong!? Kamu serius!? Tenketsu Kishou
Sensei yang itu!? tidak mungkin..."
Mata Miran melebar dan bibirnya tertutup
rapat. Terlihat seperti sedang ketakutan.
"Siapa itu? Orang terkenal?"
Aku bertanya pada Miran. Miran berkata dengan
wajah terguncang seperti hampir menangis.
"Bagi kami yang masuk di dunia teater,
dia bukan cuma sekadar terkenal! Dia sutradara teater panggung yang sangat
aktif secara internasional! Sutradara terbaik Jepang yang juga menjabat
direktur artistik di teater Broadway!"
"Haa...!? Kenapa orang seterkenal itu
datang ke seleksi kelompok mahasiswa... Hagiri...! Ulahmu ya!?"
Aku menatap tajam Hagiri. Ini pasti
rencananya. Hagiri berkata dengan wajah tenang.
"Aku sangat menghargai kemampuan akting
Isumi-san. Dia pemilik bakat yang luar biasa. Makanya. Aku ingin bakat itu
dilihat oleh Tenketsu Sensei yang terkenal secara internasional dan punya
pengaruh kuat di industri! Aktor yang bakatnya diakui oleh Sensei semuanya
menerima bimbingan-nya dan jadi bintang! Haha! Apa! Ucapan terima kasih tidak
perlu lho! Kalau bakatmu sih pasti akan cocok dengan selera Tenketsu Sensei!
Kamu mendapatkan kesempatan untuk langsung terbang ke panggung dunia mulai hari
ini!"
"... Hagiri-kun….. punya koneksi sampai
ke Tenketsu Sensei... padahal pasti tahu betul cerita buruk soal Tenketsu
Sensei..."
"Cerita buruk? Ah, yang itu ya. Soal
aktor payah tidak berbakat yang tidak cocok seleranya akan disingkirkan dari industri
sampai habis itu kan? Tapi itu tanggung jawab si aktor tidak berbakat yang
pantas disingkirkan itu sendiri kok. Kenyataannya mata Tenketsu Sensei dalam
melihat bakat akting itu, semua orang mengakuinya lho. Kalau Isumi-san pasti
tidak apa-apa! Aku percaya kamu pasti akan sukses! Wahaha! Ahahaha!"
Hagiri tertawa senang. Benar-benar kejam.
Artinya kami langsung terpojok. Seleksi kali ini hanyalah salah satu
kesem-patan. Kalaupun gagal masih ada jalan lain. Tapi gara-gara Hagiri,
seleksi ini seketika berubah menjadi sesuatu yang mempertaruhkan seluruh karier
seni Miran. Semangat Miran terhadap akting itu asli. Baginya akting adalah
mimpi yang pantas dipertaruhkan dengan seluruh hidupnya.
Masa depan Miran ditentukan oleh seleksi ini. Itu setara dengan
judi mempertaruhkan nyawa.
"Yaah, meskipun kemungkinannya kecil, mungkin saja gagal.
Kalau begitu, kuharap kamu mengandalkanku. Pasti akan kuusahakan sesuatu."
Dan sebagai gantinya, Miran pasti kehilangan sesuatu karena pria
ini.
"Lalu kau mau menyuruh Miran melakukan apa? Apa yang akan
kau minta darinya?"
"Minta? Haha! Aku hanya membantu karena persaha-batan kok!
Yah, sebagai gantinya bukan apa-apa sih, tapi aku berharap dia mau membantuku
sedikit untuk mewujudkan mimpiku! Kukuku."
Aku benar-benar lupa. Bahwa Miran maupun Yuzuriha, sudah masuk
dalam radar pria ini. Aku meremehkannya.
Obsesi yang ditunjukkan pria ini di dunia sebelumnya. Ternyata
itu juga ditujukan pada orang selain 'istri'-ku. Aku hanya merasakan penyesalan
karena sama sekali tidak mem-bayangkannya.
Aku dan Miran kembali ke ruang tunggu sebelum 'istri'-ku kembali
dari konter. Miran jelas terlihat murung. Dia duduk bersandar di dinding pojok
sambil memeluk lutut.
"Maaf ya, Tokiwa-kun. Aku sudah tertangkap oleh pria itu
sejak dulu. Semuanya sia-sia. Semua yang kulakukan ber-sama kalian.…. padahal
kita menyenangkan sekali, dia keterlaluan..."
Sutradara bernama Tenketsu itu sepertinya sosok yang begitu
menakutkan. Dibawa ke sini berarti sudah pasti akan dikritik habis-habisan.
Hagiri tinggal memerintahkan Tenketsu agar Miran disingkirkan di
industri hiburan, selesai. Dia membawanya ke sini jelas untuk menghancurkan
semangat Miran. Sekaligus pamer kekuasaan padaku mungkin.
Memamerkan kekuasaannya. Miran di dunia sebelumnya seharusnya
tidak sukses di dunia hiburan. Setidaknya setelah aku mulai kerja dan sering
nonton TV, aku tidak melihatnya, dan 'istri'-ku yang kukenal juga tidak pernah
membicarakan-nya, jadi mungkin memang begitu. Hanya saja setelah musim panas,
Hagiri aktif muncul di program TV. Mungkinkah Miran ada di antaranya saat itu.
Jujur saja, membayangkan apa yang ingin dilakukannya menggunakan Miran terasa
menakutkan. Aku bahkan tidak mau memikirkannya. Miran akan dimanfaatkan lalu
dibuang oleh Hagiri. Itulah mungkin akhir cerita di dunia sebelumnya, dan
ketakutan yang kini terlihat di depan mataku di dunia ini.
"Tadi itu benar-benar menyenangkan lho! Sungguh!
Diperlakukan seperti itu, berpesta ria dan bermain bersama, ditolong, baru
pertama kalinya! Tapi tapi... uuuu..."
Mata Miran berkaca-kaca. Hanya belum meluap saja, tapi sebentar
lagi air matanya pasti akan tumpah. Aku tidak mau itu. Benar-benar tidak mau.
Miran menangis sekarang, itu salahku. Aku terus menghindari Hagiri. Di dunia
sebelum-nya aku tidak bisa menang melawannya. Yang dipilih 'istri'-ku adalah
dia, bukan aku. Tapi sekarang. Miran yang ada di depanku sekarang, memilihku
dan mengandalkanku, bukan Hagiri. Lalu apa aku tidak bisa memberikan apa pun
pada gadis seperti ini? Tidak, tidak mungkin. Tidak akan kubiarkan. Aku pun
berjongkok di depan Miran dan mengelus kepalanya.
"Miran. Miran, dengarkan aku. Kali ini kita keduluan
olehnya. Memang benar mimpimu tadi dihancurkan olehnya."
"Un. Tapi aku tidak mau. Aku tidak mau kembali ke
tempatnya. Selain mimpi, dia pasti berniat merebut sesuatu dariku juga. Aku
akan jadi hampa seperti wanita-wanita membosankan di sampingnya. Aku tidak mau
begitu..."
"Miran. Miran, tidak apa-apa. Tidak apa-apa. Aku sudah
memutuskan sekarang. Miran, aku pasti akan melindungimu dan mimpimu
darinya."
"Hal seperti itu. Sekalipun itu kamu..."
"Bisa. Pasti bisa. Karena kau sudah memilihku kan. Aku
dipilih olehmu. Kau melihatku dan Hagiri. Lalu kau memilih-ku. Aku pria yang
kau pilih. Makanya aku bisa. Apa pun itu!"
Aku menarik tangan Miran, dan kami berdiri bersama.
"Kalau dia mengganggu, akan kuhadapi langsung. Benar juga.
Sekalipun disingkirkan dari dunia hiburan, aku akan buatkan panggung untukmu.
Teater maupun kelompok teater-nya, akan kuberikan semua untukmu. Mimpimu
kupegang. Akan kuwujudkan semuanya."
Pria yang terpilih bisa melakukan apa saja. Aku dipilih oleh
Miran. Yuzuriha juga memilihku. Keduanya menepis tangan Hagiri dan melompat ke
pelukanku. Kalau begitu akan kulindungi, kusayangi, dan kuwujudkan mimpi
mereka. Begitu pikirku.
"Tapi... Aku, kya! ... ah"
Aku mencium pipi Miran. Miran menatapku dengan pipi memerah.
Matanya berkaca-kaca. Tapi itu bukan karena rasa takut seperti tadi. Sesuatu
yang lain. Aku menatap dalam mata merah Miran.
"Miran. Wajahmu sekarang… terlihat sangat cantik. Tapi
sekarang, aku tidak akan melakukan lebih dari ini."
"...Ke... napa? Kalau kamu melakukan itu, Aku..."
"Kalau kau ingin aku lanjutkan, berdirilah di panggung. Ayo
kita tunjukkan. Pertunjukan kita pada Hagiri dan Sensei hebat itu. Lalu buat dia
menyesal, kenapa dirinya hanya bisa menonton kita dari kursi penonton."
Panggung kali ini. Kalau bicara secara politis, mungkin
kekalahan kami sudah pasti. Saat ini kami tidak mungkin menang melawan Hagiri
yang bahkan menguasai orang berpengaruh kuat di dunia hiburan.
Meskipun dia dangkal, kegelapan tragedi yang dicipta-kannya
terlalu dalam. Tapi akting Miran saat ini pasti punya kekuatan untuk bersinar
bahkan di tengah kegelapan itu. Kami pasti akan menang di masa depan. Ini
adalah panggung sumpah kita untuk itu.
"Miran, ayo berdiri di panggung. Bersamaku."
Mata Miran pun melebar. Dia menutup erat bibirnya, mengepalkan
tangannya seperti menahan sesuatu, lalu bersandar di dadaku. Kemudian dia
mengangkat wajahnya. Di matanya ada cahaya tekad yang kuat.
"Un! Aku akan berdiri. Bersamamu! Akan kutunjukkan!
Padanya! Aku akan tunjukkan kalau aku bukan perempuan murahan yang pasrah
begitu saja pada Hagiri!"
Aku tertawa mendengar kata-kata Miran.
Dia sudah tidak apa-apa.
(TL/N : Geloo cakep banget kata-kata MC-nya, sigma bgt jirr)
*
Aku (Ririse) menunggu giliran Misaki. Karena teater nggak
semenarik yang kupikirkan. Lagipula terus menerus mengulang naskah yang sama
itu sangat membosankan.
Hiroto di sebelahku kadang mengangguk, kadang bicara sok tahu,
tapi aku nggak begitu mengerti. Siapa pun yang berdiri di panggung, aku cuma
bisa tahu soal wajahnya cantik atau nggak.
『Berikutnya nomor tiga
belas. Penampilan dari Isumi Misaki-san, Universitas Kouto』
Pengumuman terdengar, dan tepuk tangan membahana. Lampu sorot
menyorot panggung, dan di sana berdiri Misaki dan… dia (Kanata).
"Benar-benar Tokiwa-kun naik panggung ya. Apa dia punya
pengalaman akting ya?"
"Entahlah. Tapi bagaimanapun juga sia-sia saja. Karena dia
sudah tidak bisa apa-apa lagi."
Dia mengatakan sesuatu yang nggak kumengerti lagi. Pasti
maksudnya dia diminta cuma buat isi peran. Hari ini katanya orang hebat dari
dunia hiburan akan datang, begitu kata Hiroto. Orang hebat itu dan Hiroto tadi
mengobrol, tapi bagiku dia cuma terlihat kayak om-om biasa yang botak licin.
Mimpi Hiroto katanya sangat besar. Aku nggak tahu jelas sih. Makanya dia selalu
sibuk ke mana-mana dan selalu aja makan bersama dengan om-om botak atau
tante-tante berdandan tebal.
Aku juga kadang diajak. Aku maafin karena bisa makan enak dan
minum enak, tapi terus terang itu agak merepotkan. Tersenyum sambil ngabaiin
pembicaraan yang nggak aku mengerti juga cukup menguras energi.
Hiroto nggak mengerti soal itu sih. Mengingat hal nggak
menyenangkan begitu, aku jadi merasa bersalah sama Misaki. Tapi. Pikiran
konyolku itu lenyap begitu aja oleh suara pria yang menggema dari panggung.
『Aku menyukaimu!!』
Sesaat jantungku terasa seperti diremas. Suara Tokiwa-kun yang
sangat provokatif itu mengelus telingaku dengan nyaman.
『Maaf. Tapi, diriku
saat ini belum bisa jatuh cinta』
Misaki menolak pernyataan cinta Tokiwa-kun. Kenapa ditolak sih….
Padahal senyaman itu. Biasanya pas bicara dengan Tokiwa-kun pun aku berpikir
begitu. Dia dingin, sama sekali nggak ramah, dan mungkin sikap sok tua-nya itu
karena nganggep aku bodoh.
Tapi suaranya. Suaranya anehnya terasa lembut seolah
memperhatikanku. Beda dengan anak laki-laki selain Hiroto yang saat bicara
denganku suaranya selalu gemetar, kaku, atau seperti suara dibuat-buat yang
menjijikkan, cuma dialah yang selalu lembut.
Aku mungkin marah sama Misaki yang nolak pernyataan cinta itu.
Aku kesal. Tapi kalau dipikir baik-baik itu kan cerita akting, soal peran yang
dimainin Misaki.
『Aku tidak tahu masa
lalumu. Tapi mulai sekarang, kita bisa selalu bersama!』
Tokiwa-kun menggenggam tangan Misaki.
Keduanya saling menatap mata. Misaki awalnya
terlihat bingung, tapi perlahan wajahnya berubah menjadi senyum. Senyum yang
sangat sangat indah. Kecantikan yang mem-buatku sebagai perempuan pun bisa
terpikat. Aku tahu semua orang di aula juga terpikat oleh pesona yang
dipancarkan Misaki.
"Isumi-san memang punya bakat luar biasa
ya. Semua orang di aula terpesona. Ririse juga berpikir begitu kan?"
Hiroto di sebelahku mengajakku bicara. Berisik.
Hiroto selalu aja cerewet. Aku diam aja karena tahu dia bicara demi kebaikanku,
tapi kali ini berbeda. Karena aku lagi nggak ingin bicara soal Misaki sekarang.
"Diem. Aku lagi merhatiin. Aku masih
menonton."
Tokiwa-kun yang tadi menggenggam tangan Misaki
melepaskannya. Aku merasa sedikit senang melihatnya. Memegang tangan gadis yang
menolak pernyataan cinta itu memang nggak boleh. Nggak boleh kan ya? Padahal
ini cerita akting, tapi entah kenapa kecampur aduk sama kenyataan.
...Are? Kenapa nggak boleh kecampur aduk ya?
Apa ada masalah kalau Tokiwa-kun megang tangan gadis lain? Kok lain? Lain dari
apa ya? Nggak nyaman. Membuatku bingung begini itu nggak baik tau. Pasti
Tokiwa-kun itu aktor payah. Makanya ceritanya jadi nggak kumengerti lagi.
『Tetaplah bersamaku
selamanya. Selalulah di sisiku』
『Ah, aku mencintaimu.
Kita akan selalu bersama』
Saat aku sadar keduanya saling berpelukan.
Tokiwa-kun memeluk Misaki. Makanya kubilang hal seperti itu nggak baik. Kenapa
sih dia nggak mengerti. Pasti aktingnya payah banget mungkin ya. Makanya jadi
bikin aku mual. Nanti di kampus harus kuprotes. Aku pun berdiri dari kursi.
"Oi, Ririse. Kenapa berdiri? Belum
selesai lho."
"Akting Tokiwa-kun payah banget jadi
bikin mual. Aku mau cari angin sebentar."
Tentu saja bukan merokok. Ini waktu minum kopi
kaleng yang biasa dilakukan Tokiwa-kun. Dia yang membuatku merasa mual, jadi
nggak adil kan kalau aku nggak nyegerin diri pakai caranya.
Aku pun keluar dari teater. Berjalan menyusuri
lorong menuju pintu keluar. Aku pengen cepet-cepet menghirup udara di tempat
yang tidak ada Tokiwa-kun. Wajahku kerasa panas. Dan sesak napas, dan di atas
segalanya dadaku terasa sakit.
Lalu dari belakang terdengar suara tepuk
tangan meriah dan sorak sorai. Syukurlah. Kalau aku tetep di sana sampai akhir,
nanti aku malah ikut suasana terus muji Tokiwa-kun.
Aku keluar dari gedung teater dan menarik
napas dalam-dalam lalu menghembuskannya…. Tapi rasa sesak di dadaku ini tidak
hilang untuk beberapa saat.
*
Dikelilingi sorak sorai meriah dan tepuk
tangan keras, aku dan Miran pun membungkuk hormat ke arah penonton. Akting kami
sukses besar. Ayashiro di kursi penonton menga-cungkan jempol.
Yuzuriha menggigit saputangan sambil menangis
haru.
"Tokiwa-kun. Terima kasih…. Terima kasih
banyak...! Apapun hasilnya tidak masalah! Aku senang sekali bisa ada di sini
bersamamu!"
Miran tersenyum sambil setengah menangis.
Senyum itu sangat indah. Senyum ini tidak akan kuserahkan pada Hagiri. Aku
mengarahkan pandangan ke arahnya. Hagiri sedang bicara sesuatu dengan om-om
botak licin itu. Dia sama sekali tidak melihat ke arah kami. Tapi wajahnya
terlihat sangat tidak senang. Lagipula 'istri'-ku tidak ada di sampingnya. Apa
dia pergi ke toilet? Tapi 'istri'-ku bukan tipe orang yang akan pergi di tengah
pertunjukan temannya. Aku penasaran reaksi 'istri'-ku, tapi karena Hagiri
kelihatannya tidak senang, yah sudahlah, aku merasa puas dan turun ke belakang
panggung bersama Miran.
Lalu di tengah-tenfah koridor menuju ruang
tunggu, kami pun bertemu Hagiri dan om-om botak licin misterius itu. Hagiri
menatapku tajam dengan tidak senang.
"Kamu Isumi Misaki kan ya? Aku sudah
dengar macam-macam dari Hagiri-kun."
"Eh? Eeeh!? A, benar! Aku, eh bukan, saya
Isumi Misaki! Tenketsu Sensei!"
Om-om botak licin ini rupanya si om-om pelaku
penyalahgunaan kekuasaan yang dirumorkan itu. Wajah atau pakaiannya tidak ada
yang menonjol. Tapi matanya berbeda. Dia punya mata tajam yang berkilat entah
bagaimana.
"Akting tadi. Apa itu? Dengan niat apa
kamu berakting seperti itu?"
"E... tidak... itu! Aku ingin
mengekspresikan perasaanku saat ini dengan jujur, oleh karenanya, jadi
begitu!"
Akting tadi, kalau dipikir-pikir lagi, rasanya
kami agak terbawa suasana. Kami memang mengikuti dialog naskah, tapi karena toh
akan gagal gara-gara Hagiri, kami saling berkata ayo kita keluarkan semua
kemampuan tanpa penyesalan dan lakukan sesuka hati. Apa itu tidak bagus ya?
Tapi dari atas panggung pun kelihatannya reaksi penonton bagus, dan Miran
terlihat luar biasa cantik.
"Jujur ya. Anak muda zaman sekarang
memang mudah sekali terbawa suasana begini. Kamu ini harus didisiplinkan oleh
seseorang secepatnya. Sama sekali tidak bagus. Tidak ada harapan."
Om-om botak licin itu berkata dingin, lalu
membuang muka. Sayangnya sepertinya kami tidak sesuai seleranya. Tapi tidak
masalah. Baik aku maupun Miran tidak punya penyesalan. Tapi Hagiri, mendengar
kata-kata Tenketsu itu, sepertinya semangatnya sedikit kembali, dia tersenyum.
"Tenketsu Sensei. Tolong katakan dengan
jelas pada mereka berdua. Ini demi masa depan mereka! Harus belajar dari
pengalaman!"
Ingin kuhajar rasanya Hagiri yang berkoar
dengan senang itu. Tapi kutahan sih. Tapi memang terdengar seperti provokasi
yang menyebalkan.
"Hm? Dari tadi kan sudah jelas? Isumi ini
harus didisiplinkan. Kalau tidak, nanti akan merepotkan pemeran lain. Akting
itu tidak bagus! Sama sekali tidak jadi! Padahal sudah terlahir dengan paras
cantik dan tubuh yang bisa mengekspresikannya dengan baik, tapi emosinya
terlalu asli! Itu tidak bagus! Itu diatas panggung tahu! Kalau begitu terlalu
asli! Akting seperti itu akan kehabisan napas dalam pertun-jukan panjang! Kamu
aktor seperti reaktor nuklir ya! Terlalu berbahaya! Makanya kamu harus cepat belajar
mengendali-kannya sendiri! Mengandalkan lawan main untuk mengeluar-kan bakatmu
itu tidak buruk! Tapi kamu harus punya pandangan untuk mencapai tingkat yang
lebih tinggi dengan kekuatanmu sendiri! Sungguh! Aktor yang payah sekali! Tidak
ada harapan! Akting yang terlalu asli tidak perlu! Lain kali buatlah kebohongan
yang lebih indah! Paham!"
...Apa maksud om-om ini? Kemampuan bahasa
Jepangku benar-benar diuji? Apa orang-orang menyebut ini tsundere ya? Padahal
dia botak licin jadi tidak mungkin punya kuncir dua?
"Anu, Tenketsu Sensei. ...Apa Isumi-san
punya bakat?"
"...Ti-tidak juga (Be-betsuni), aku tidak
bilang sampai segitunya kan! Anak ini pokoknya harus didisiplinkan sebagai
aktor! Harus diulang baik-baik dari awal! Kalau tidak, mana bisa kubiarkan dia
naik panggung!"
Memang memuji kan? Rasanya dia mengakui
bakatnya. Hagiri juga punya kemampuan bahasa Jepang, pasti dia mengerti.
Senyumnya langsung hilang, dan dia tidak lagi menyembunyikan rasa kesalnya.
"Tenketsu Sensei. Bukankah saya sudah
minta Anda untuk bicara keras hari ini?"
"Aa, sudah kubilang keras kan! Aku sudah
mengkritik akting Isumi! Aku sudah menepati janji!"
"Itu argumen yang tidak masuk akal. Apa
Anda lupa apa yang saya katakan?"
"Aku tahu. Tapi aku sudah memutuskan
untuk tidak ber-bohong soal teater! Kalau mau sebarkan skandal si bodoh itu,
sebarkan saja! Itu kesalahannya! Sebagai guru aku sudah melindunginya dan
memenuhi kewajibanku! Selebihnya aku tidak tahu! Hmph!"
Tenketsu sepertinya bukan sekutu Hagiri. Dari
perca-kapan mereka, sepertinya dia melindungi seoang muridnya agar skandalnya
tidak bocor. Tapi sepertinya hal itu tidak lebih penting dari harga dirinya
sebagai pekerja seni.
"(Ck) Baiklah. Yah, sudahlah. Anda adalah
orang yang tidak tergantikan. Tolong hargai persahabatan kita. Kali ini memang
tidak apa-apa. Tapi kalau anda melakukan hal yang keterlaluan..."
"Fun. Lakukan sesukamu. Aku tidak punya
rambut maupun keluarga. Ketenaran maupun karya yang memuaskan, sudah cukup
banyak kukumpulkan. Hidupku berakhir kapan pun aku tidak punya
penyesalan!"
"Sungguh.…. Seniman memang tidak bisa
dipahami.…. Kalau begitu, saya permisi."
Hagiri, yang mungkin baru saja dikhianati
bawahannya, memasang wajah canggung. Bahkan tanpa mencaci maki kami, dia segera
pergi dari tempat itu. Dan tinggallah si botak tsundere, aku, dan Miran di
tempat itu.
"Hmph. Berhenti salah paham. Ini bukan
demi kalian pribadi. Aku punya kewajiban mendidik generasi penerus demi
industri ini. Aktingmu itu masih jauh. Mulai sekarang jangan malas berlatih dan
kejarlah kebahagiaan berekspresi. Paham?"
Om-om botak licin tsundere itu hanya berkata
begitu, lalu pergi dengan gagah. Entah kenapa kupikir dia keren. Aku dan Miran
saling bertatapan lalu tertawa kecil, kemudian kami memberi hormat ke arah
punggungnya. Kami pun terus melakukannya sampai sosoknya menghilang dari
pandangan.
Previous Chapter | Next Chapter
Tidak ada komentar:
Posting Komentar