Chapter
7 - Mencintai Itu Ternyata Bukan Takdir
Itu terjadi saat aku tahun ketiga di dunia sebelumnya. Kenyataan
sialan bernama mencari kerja mulai terlihat. Aku kesal pada diriku yang kosong
tidak punya apa-apa meskipun kuliah di universitas bagus, jadi untuk
mengalihkan perhatian aku duduk di batu di tepi kolam yang ada di Kampus Hongo,
dan menggambar di buku sketsa dengan pensil.
Aku lumayan bisa menggambar. Dan menurutku sendiri gambarku
bagus. Tapi aku gagal dalam tugas karya saat ujian masuk universitas seni. Aku
tidak punya bakat. Tapi aku tidak bisa berhenti menggambar. Saat itulah.
"Eh lho? Kamu Tokiwa-kun teman seangkatan kan?"
Saat kusadar, 'istri'-ku sudah ada di sampingku.
Meskipun kami sudah tiga tahun kuliah di universitas dan jurusan
yang sama, itu adalah pertama kalinya kami bicara. Aku jadi gugup, dan tidak
bisa menjawab apa-apa.
"Lagi gambar ya? Boleh lihat?"
'Istri'-ku pun melihat gambarku. Ada orang yang melihat gambarku
dengan serius. Rasanya senang sekali sekaligus malu.
"Ini bukan gambaran yang bagus kok. Bukan sesuatu yang bisa
diperlihatkan ke orang."
Aku merendahkan diriku sendiri. Penyendiri introvert yang tidak
bisa hidup dengan baik di dunia kelabu. Laki-laki lemah yang tidak bisa bangkit
dari kegagalan, tidak belajar apa pun, dan hanya akan menabrak dinding baru
lalu hancur berkeping-keping. Memperlihatkan sosok seperti itu pada 'istri'-ku
yang bersinar gemerlap bahkan di lingkungan kampus terasa menyedihkan.
"Masa sih? Menurutku ini gambar yang bagus lho. Lihat. Bayangan di sini.
Kelihatan jauh lebih indah dari kolam aslinya. Ternyata kamu melihat dunia ini
seperti ini ya. Aku juga ingin bisa melihatnya seperti itu."
Bagian yang dipuji 'istri'-ku adalah bagian yang kugam-bar
dengan sungguh-sungguh. Hal umum bagi introvert sih, hanya karena diperlakukan
baik sedikit, langsung mengang-gap orang ini mengerti. Kalau dipikir sekarang
benar-benar bodoh.
"Maket arsitektur yang Tokiwa-kun buat tempo hari juga
keren lho. Memang semua orang mencacinya habis-habisan, tapi nggak begitu kok.
Itu bangunan yang sangat sangat indah. Rumah yang membuatku berpikir ingin
tinggal di sana. Rumah yang membuatku berpikir ingin mencoba jadi istri yang
manis di sana. Ufufu."
Itu adalah senyum yang sangat indah dan manis. Hanya itu. Hanya
itu saja alasan aku jadi menyukainya. Aku menginginkannya. Sangat sangat
menginginkannya.
"Ooi! Ririse! Ayo pergi!!"
Terdengar suara laki-laki dari jauh. Pacarnya saat itu memanggil
'istri'-ku.
"Aku harus pergi. Sampai nanti ya, Tokiwa-kun."
Dia melambaikan tangan lalu pergi. Hanya aku yang tersisa
sendirian. Setelah itu kami tidak pernah bicara lagi di kampus. Tapi aku selalu
selalu ingat pujiannya. Aku berusaha keras dengan berpegang pada pujian itu.
Lalu seorang arsitek terkenal melihat maket arsitektur dan desain yang kubuat,
memperkenalkanku ke divisi desain arsitektur perusahaan besar, dan aku pun
diterima bekerja.
Kalau saja 'istri'-ku tidak memujiku saat itu, masa depan-ku
pasti suram. Hidupku adalah pemberian 'istri'-ku. Makanya aku menyukainya.
Mencintainya. Hanya itu saja ceritanya.
Mengingat cinta yang sudah tidak meninggalkan jejak di dunia ini, tanpa sadar
aku tersenyum sendiri. Kenangan yang sangat indah. Tapi justru karena itulah,
pengkhianatan-nya itu begitu menyakitkan.
*
Aku sedang menghindari 'istri'-ku. Seharusnya dia juga
menyadarinya.
"Tokiwa-kun! Aku akan berpasangan denganmu!"
'Istri'-ku di depanku berkata begitu dengan sangat ceria. Sejujurnya aku ingin
menghindar. Tapi aku punya alasan yang tidak bisa dielakkan untuk menerima
tawaran ini. Aku lupa. Bahwa di universitas pun ada tugas kelompok praktikum.
Kali ini di kuliah jurusan arsitektur, profesor menugaskan kami membuat maket
rumah tinggal secara berpasangan.
Seharusnya aku berpasangan dengan laki-laki. Tapi jumlah
laki-laki di jurusan kami ganjil, jadi pasti ada satu yang tersisa. Saat
kusadar, aku sudah jadi sendiri. Posisiku di jurusan saat ini sedang sulit karena
urusan 'istri'-ku. Makanya jadi penyendiri. Dan 'istri'-ku yang menemukannya
dengan cepat mendekatiku.
Pilihan untuk menolak tidak ada di sini. Rasanya aku tidak bisa
berpasangan dengan orang lain selain 'istri'-ku. Terpaksa aku mengangguk. Tentu
saja tatapan para laki-laki di sekitar penuh aura membunuh. Ini bukan salahku.
Tolong mengertilah.
"Mau buat rumah seperti apa ya? Tokiwa-kun gimana
menurutmu?"
Kami meminjam satu meja di ruang gambar,
mengum-pulkan bahan dan berpikir keras.
"Dibilang bagaimana menurutku
juga..."
Ini soal kehidupan sebelumnya. Sedikit sebelum
perse-lingkuhannya terungkap, saat itu aku sedang merencanakan rumah impianku.
Ruang kerja, ruang keluarga, dapur, semua kubayangkan dan kurancang, percaya
tanpa ragu pada kebahagiaan masa depan yang akan datang.
Mengingat itu membuatku jadi agak sensitif.
"Tokiwa-kun juga nanti pasti akan menikah
dengan seseorang kan? Kalau begitu pasti beli rumah sendiri kan? Pasti pernah
membayangkannya dong?"
Itu jelas lah. Malah sudah menikah denganmu.
Makanya aku tidak mau membayangkannya.
"Kalau kau sendiri bagaimana? Ingin
tinggal di rumah seperti apa?"
"Eh? Huuum. Nn? Iya ya... Uu~"
'Istri'-ku melipat tangan dan bergumam. Lalu
dia berkata begini.
"Tapi itu mungkin tergantung Danna-san
(Suami) nya orang seperti apa ya."
Jawaban yang luar biasa merepotkan datang.
Atau lebih tepatnya, tidak adanya inisiatif itu entah bagaimana membuat-ku
merasakan secuil sifat 'istri'-ku di awal-awal pacaran di dunia sebelumnya.
"Begitu ya. Kalau begitu aku juga
tergantung istriku nanti."
"Eee. Uun. Kalau gitu! Coba pikirkan
dengan setting aku jadi Istri-nya Tokiwa-kun!"
Jawaban yang lebih tidak menyenangkan
datang.
Kepalaku sakit. Ditambah lagi perutku juga
rasanya jadi tidak enak. Menyakitkan dan menderita sekali rasanya. Tapi aku
tidak boleh gagal dapat SKS di sini.
"Haa.... Baiklah. Untuk sementara ayo
kita coba saja."
Kenapa aku harus melakukan hal yang menyayat
hati begini. Bukankah kalau sudah melakukan time leap aku bisa lari dari
penderitaan? Mungkin aku terkutuk oleh 'istri'-ku.
Meskipun ada batasan harus rumah tinggal,
selain itu bebas. Untuk sementara aku mulai merancang lantai satu dan mencoba
merakit maketnya dari pola kertas. 'Istri'-ku menatapku dengan raut agak ceria.
Ngomong-ngomong dia tidak bekerja.
"Kau juga harus kerja."
Aku menyodorkan pola kertas dan gunting pada
'istri'-ku dan menyuruhnya bekerja. 'Istri'-ku mulai bekerja seperti yang
kusuruh. Dan untuk sementara bagian lantai satu selesai.
"Waa hebat! Tokiwa-kun terampil ya!"
Bagaimanapun aku ini pernah terlibat langsung
dalam pembangunan selama beberapa tahun sebagai pekerja kons-truksi. Hal
seperti ini mudah saja. Alur aktivitas penghuninya juga sempurna dan pembagian
ruangannya juga kupikirkan matang-matang.
"Sip. Dengan begini bagian lantai satu
selesai ya. Lanjut berikutnya lantai dua..."
"Tunggu bentra! Harus dipastiin dulu kan
apa ini nyaman ditinggali!"
Berkata begitu, 'istri'-ku mulai memotong pola
kertas dengan gunting. Lalu yang jadi adalah boneka mirip laki-laki dengan
kepala bulat dan badan segitiga terbalik, serta boneka mirip perempuan dengan
lingkaran dan rok segitiga.
"Apa itu?"
"Nah jadi! Tokiwa-kun yang laki-laki ya.
Aku yang ini!"
Dia berkata begitu sambil memberikan boneka
laki-laki padaku. 'Istri'-ku memegang boneka perempuan dan meletak-kannya
berdiri di dapur.
"Apa yang kau lakukan?"
Kelakuannya membuat kepalaku tidak bisa
mengikuti.
"Tokiwa-kun! Ayo! Istrimu menunggu di
rumah lho!"
Jangan-jangan dia menyuruhku main
rumah-rumahan begini? Sama sekali tidak bisa memahami alur pikirannya....
Terpaksa aku meletakkan boneka laki-laki yang kupegang di tengah ruang tamu.
"Bukan begitu! Nggak boleh langsung
muncul begitu aja! Masuk lewat pintu depan dong!"
"Eeeeh... Serealistis itukah?"
Aku meletakkan boneka itu di depan pintu
masuk. Lalu memasukkannya melewati pintu depan ke dalam rumah.
"Tunggu sebentar!? Tokiwa-kun! Ada yang
lupa lho!"
"Apa?"
"Salam waktu pulang! Nah! Ayo
ulangi!"
Merepotkan! Merepotkan sekali! Terpaksa aku
mengem-balikan boneka itu ke pintu masuk dan membuatnya pura-pura mengetuk
pintu.
Tok tok
"Iyaaa! Sebentaar, aku dataang!"
'Istri'-ku menjawab dengan ceria, lalu
menggerakkan bonekanya dengan langkah kecil menuju pintu masuk. Aku pun juga
menggerakkan bonekaku melewati pintu masuk.
"Selamat datang kembali!"
Kata-kata itu membuat rasa sakit menusuk
hatiku. Kehangatan suara itu masih kuingat sampai sekarang.
"A-aku.... pulang."
Suaraku jadi mengecil. Rasanya tidak bisa
bicara dengan jelas.
"Mau makan? Mau mandi? A-t-a-u ♥"
'Istri'-ku bercanda. Aku mengabaikannya dan
melewati boneka 'istri'-ku menuju ruang tamu.
"Arere? Tokiwa-kun, jangan-jangan malu
ya? Ufufu."
"Bukan begitu. Pasangan suami istri di
dunia nyata tidak melakukan hal seperti itu."
Di dunia sebelumnya, setelah aku bilang 'Aku
pulang', istriku tidak bertanya apa-apa. Sebagai gantinya dia mencium-ku dengan
lembut. Begitulah cara kami sebagai suami istri.
"Hari ini, makan malamnya Nikujaga
lho!"
Boneka 'istri'-ku berpura-pura membawa sesuatu
dari dapur. Lalu boneka 'istri'-ku duduk di kursi meja makan. Boneka milikku
juga duduk di hadapan boneka istriku.
Ini pemandangan yang tidak kukenal. Saat kami
bersama di dunia sebelumnya, aku dan 'istri'-ku duduk bersebelahan di meja
makan. Jarak sedekat bahu kami bersentuhan terasa nyaman.
"Terima kasih makanannya."
Aku pun segera berkata begitu dan membuat
bonekaku berdiri dari kursi. Lalu aku jadi tidak tahu harus membawa boneka ini
ke mana. Aku pun jadi bingung. Lalu 'istri'-ku tersenyum lembut, dan…
"Ayo nonton TV bersama."
Boneka 'istri'-ku duduk di sofa di depan TV.
Aku yang diajak pun mendudukkan bonekaku di sofa. Dan saat itulah. Punggung
tanganku bersentuhan dengan tangan 'istri'-ku.
"Ah, maaf."
"Eh, uun. Nggak apa-apa kok. Nggak usah
dipikirin..."
Pipi 'istri'-ku sedikit memerah. Keheningan
mengalir di antara kami. Aku merasa tidak tahan, dan mengangkat tangan yang
memegang boneka, berniat mengakhiri permainan rumah-rumahan ini. Tapi…
"Jangan dulu. Tunggu."
Dia melepaskan bonekanya dan memegang tanganku
dengan ragu-ragu. Saat itu juga, boneka dari tanganku pun terlepas.
"Ini kan cuma main rumah-rumahan."
"Tapi aku senang kok."
'Istri'-ku yang menggenggam tanganku tersenyum
tipis. Senyum itu sangatlah indah. Tapi itu bukan milikku lagi. Hanyalah
sesuatu yang telah direbut dan hilang dariku.
"Ayo kembali. Lanjutkan lagi yuk."
'Istri'-ku berkata begitu padaku. Tapi aku
tidak berniat melanjutkan permainan rumah-rumahan ini lebih jauh.
"Tapi... Ah."
Aku terkejut melihat boneka-boneka di maket
itu.
"Un? Ada apa? ...Kya..."
Boneka-boneka itu saling menindih di atas
sofa. Seolah saling menginginkan. Aku dan 'istri'-ku melihatnya dan wajah kami
berdua memerah padam.
"Agak terlalu realistis ya...
ahaha..."
'Istri'-ku bergumam begitu dengan malu.
Tentu saja suasananya jadi tidak memungkinkan
untuk melanjutkan main rumah-rumahan lebih jauh. Kami diam-diam mulai
mengerjakan bagian lantai dua.
Maket rumah yang sudah jadi itu, mau tidak mau
kupikir mirip dengan bentuk kebahagiaan yang seharusnya sudah hilang. Kilauan
sesuatu yang tidak bisa kudapatkan lagi ada di sana.
(TL/N : Manis sih, tapi…..)
Previous Chapter | Next Chapter
Tidak ada komentar:
Posting Komentar